Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Inilah Kegagalan Beruntun Israel dalam Perang Siber Melawan Palestina yang Jarang Disorot Media

POROS PERLAWANAN – Laporan terbaru yang dilaporkan oleh tim investigasi Farsnews Agency pada Selasa malam, (15/01) mengungkap bahwa rezim Zionis telah mengalami kegagalan beruntun dalam menghadapi peperangan siber selama lebih dari 400 hari, sejak dimulainya operasi Badai al-Aqsa. Hal ini menunjukkan meningkatnya kerentanan Israel terhadap ancaman digital di tengah ketegangan politik dan militer yang terus memanas.

Peningkatan Ancaman Siber

Badan Keamanan Israel, Shin Bet, dalam laporan tahunan terbarunya, menyatakan bahwa ancaman keamanan terhadap Israel meningkat secara signifikan di semua lini. Dalam ranah siber, jumlah serangan meningkat lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari ribuan serangan yang tercatat, sekitar 700 upaya berhasil digagalkan, namun sebagian besar serangan lainnya dinyatakan berhasil menyusup.

Lonjakan serangan siber ini sejalan dengan dimulainya operasi Badai al-Aqsa, yang menjadikan ruang siber sebagai salah satu medan pertempuran utama antara Israel dan Palestina. Kelompok peretas Palestina seperti Hanzala, Gaza Children’s, Moses Staff, dan Cyber Avengers secara aktif memimpin aksi-aksi ini.

Gangguan Infrastruktur Kritis

Salah satu serangan yang mencolok terjadi pada infrastruktur distribusi air Israel, yang menyebabkan pemutusan pasokan air di berbagai wilayah pendudukan. Gangguan tersebut memicu protes dari warga yang menyampaikan keluhan di media sosial, mengaitkan insiden itu dengan operasi siber oleh kelompok Palestina.

Selain itu, kelompok Anak-anak Gaza melancarkan serangan terhadap telepon genggam militer Israel. Mereka berhasil memperoleh data penting melalui akses nomor telepon militer dan bahkan membocorkan rekaman suara beberapa pejabat tinggi di saluran Telegram mereka. Aksi ini dianggap sebagai salah satu pukulan signifikan terhadap keamanan informasi militer Israel.

Tuduhan terhadap Iran

Meski serangan-serangan tersebut dilakukan oleh kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Perlawanan Palestina, otoritas Israel menuding Iran sebagai dalang di balik peningkatan serangan siber ini. Sebuah laporan dari media Israel menyebutkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, jumlah serangan siber yang diklaim berasal dari Iran meningkat drastis—dari rata-rata 10 serangan per hari menjadi puluhan, bahkan mencapai ratusan serangan dalam sehari.

Para pengamat menilai, tuduhan ini mungkin bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari kegagalan Israel dalam menangani ancaman siber, sekaligus menempatkan Iran sebagai musuh utama untuk meredam tekanan dari warga di wilayah pendudukan.

Kerja Sama dengan Amerika Serikat

Meningkatnya ancaman siber mendorong Israel untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam memperkuat kemampuan pertahanan digitalnya. Kedua sekutu itu mengadakan latihan bersama selama dua minggu yang dimulai pada 22 Desember 24, bertajuk CYBERDOME IX di Amerika Serikat. Latihan ini melibatkan puluhan tentara dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan personel Komando Siber AS, dengan fokus pada simulasi berbagai skenario ancaman regional.

Paradoks Kemampuan Israel

Ironisnya, kegagalan Israel dalam menangkal serangan siber terjadi meski negara ini dikenal memiliki sejarah panjang dalam penggunaan terorisme siber. Salah satu contohnya adalah insiden ledakan di markas Hizbullah di Lebanon pada September tahun lalu, yang menyebabkan lebih dari 40 orang tewas dan ribuan lainnya terluka.

Laporan terbaru dari The Washington Post juga mengungkapkan bahwa IDF menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperbarui “bank target” mereka—daftar anggota Hamas dan Hizbullah yang dianggap sebagai ancaman. Namun, dalam perang siber saat ini, lawan Israel menunjukkan kemampuan yang tak kalah signifikan.

Berbeda dengan Israel, yang sering dituduh memanfaatkan teknologi siber untuk tujuan terorisme dan operasi rahasia, kelompok peretas Palestina memfokuskan serangan mereka pada infrastruktur strategis untuk melawan pendudukan dan menuntut keadilan.

Perang siber ini menandai sisi lain konflik Israel-Palestina dimana ruang digital menjadi medan tempur utama yang jarang disorot oleh media. Dengan meningkatnya intensitas serangan dan kerentanan Israel yang kian terungkap, tantangan bagi rezim Zionis bukan hanya datang dari ancaman fisik, tetapi juga dari dunia maya yang semakin tak terbendung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *