The WP: Israel dan Google Bermitra dalam Genosida Pertama Berbasis Kecerdasan Buatan di Gaza
POROS PERLAWANAN – Laporan terbaru mengungkap keterlibatan mendalam raksasa teknologi Amerika Serikat dalam mendukung operasi militer Israel di Gaza.
Dalam laporan eksklusif berjudul “Google Rushed to Sell AI Tools to Israel’s Military After Hamas Attack” oleh jurnalis Gerrit De Vynck, yang diterbitkan oleh The Washington Post (The WP) pada Rabu 22 Januari, disebutkan bahwa kasus pertama genosida yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) terjadi di Gaza melalui kolaborasi antara Google dan Israel.
Laporan tersebut mengungkap bahwa karyawan Google telah bekerja untuk memberikan akses kepada Militer Israel terhadap teknologi AI terbaru perusahaan sejak minggu-minggu awal perang di Gaza.
Dokumen yang diperoleh The WP menunjukkan bahwa seorang karyawan Google sempat memperingatkan perusahaan agar segera memperluas akses teknologi AI kepada Kementerian Pertahanan Israel. Jika tidak, Israel disebutkan akan beralih ke pesaing Google, yakni Amazon. Kedua perusahaan ini bekerja sama dengan Israel melalui kontrak bernama Proyek Nimbus.
Proyek Nimbus, yang ditandatangani Google dan Amazon pada 2021, merupakan kontrak bernilai miliaran Dolar yang bertujuan menyediakan infrastruktur komputasi awan, kecerdasan buatan, dan layanan teknologi lainnya untuk rezim serta Militer Israel.
Menurut laporan The WP, Google memenuhi permintaan Militer Israel untuk akses lebih besar ke alat-alat AI guna bersaing dengan Amazon, meskipun ada protes dan kecaman terhadap perang yang disebut sebagai Genosida oleh berbagai pihak. Pada awal 2024, Direktur Jenderal Direktorat Cyber Nasional Israel menyatakan bahwa Proyek Nimbus secara langsung mendukung aplikasi tempur Israel di medan perang.
“Berkat cloud publik Nimbus, terjadi hal-hal fenomenal selama pertempuran yang memainkan peran penting dalam kemenangan,” ujar Gaby Portnoy, sebagaimana dikutip media Israel.
Seorang pejabat tinggi Militer Israel mengatakan kepada The WP pada musim panas 2024 bahwa mereka telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi cloud, perangkat keras, dan sistem komputasi lainnya, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan teknologi AS.
Militer Israel juga disebutkan sedang menguji teknologi dari berbagai perusahaan untuk mengeksplorasi potensi aplikasi AI generatif, teknologi di balik chatbot dan alat AI lainnya yang semakin berkembang.
Proyek Nimbus telah menuai protes dari karyawan Google dan Amazon. Pada April tahun lalu, mereka menggelar aksi besar-besaran menuntut perusahaan membatalkan kontrak dengan Israel, dengan alasan keterlibatan dalam kejahatan perang di Gaza.
Google sebelumnya berkomitmen dalam kebijakan AI-nya untuk tidak menerapkan teknologi guna tujuan yang dapat merugikan manusia. Namun, kolaborasi dengan Israel justru disebut menyebabkan terjadinya Genosida berbasis AI pertama di Gaza.
Sementara itu, Meta—perusahaan induk Facebook, Instagram, Threads, dan WhatsApp—juga menunjukkan bias pro-Israel selama perang di Gaza. Perusahaan ini dikritik karena sering menghapus unggahan yang menyuarakan solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah konflik yang terus berlangsung.
Selain dukungan Militer AS yang terus diberikan kepada Israel, keterlibatan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa AS dinilai semakin memperkuat operasi militer Israel di Gaza.
Perang di Gaza tampaknya berakhir setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Minggu 19 Januari. Selama konflik yang berlangsung, terutama sejak Oktober 2023 saja, Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina.
Di tengah dinamika politik AS, Joe Biden, yang dijuluki “Genocide Joe” karena keterlibatannya dalam kekejaman Israel, menyerahkan kunci Gedung Putih kepada Donald Trump. Mulai sekarang, kunci-kunci ini juga akan memainkan peran penting dalam memfasilitasi akses Israel ke teknologi AS dan menggerakkan mesin pembunuhannya. [PP/MT]
