Rai al-Youm Ungkap Kemungkinan Israel Sulut Perang Lagi dengan Meneror para Pimpinan Perlawanan
POROS PERLAWANAN – Harian Rai al-Youm memberitakan pesan rahasia yang disampaikan negara-negara Arab kepada faksi-faksi Perlawanan Palestina. Dalam pesan tersebut, mereka memperingatkan upaya Tel Aviv untuk meneror para pimpinan Perlawanan di dalam dan luar Palestina. Tujuannya adalah menggagalkan proses gencatan senjata.
Dilansir al-Alam, peringatan ini terutama disampaikan kepada Hamas dan Jihad Islam.
Menurut para sumber Rai al-Youm, ada bukti-bukti bahwa Israel berniat melakukan aksi provokatif demi menyeret Perlawanan ke konfrontasi militer baru, serta merusak kesepakatan gencatan senjata yang mulai berl;aku sejak Minggu 19 Januari lalu setelah perang berdarah selama 470 hari.
Para sumber ini menyatakan, Benyamin Netanyahu akan melakukan segala cara agar terbebas dari kesepakatan gencatan senjata yang diberlakukan dengan tekanan AS. Netanyahu bertujuan menjaga Kabinetnya yang berada di ambang pembubaran. Terlebih setelah adanya ancaman dari para Menteri, terutama Menkeu Bezalel Smotrich, yang secara terbuka mengancam akan menggulingkan Kabinet jika gencatan senjata memasuki tahap kedua.
Mereka menambahkan, kemungkinan besar Netanyahu akan meneror para pimpinan Perlawanan di luar Palestina; tindakan yang akan memprovokasi Perlawanan Gaza untuk menembakkan rudal dan melancarkan serangan balasan, sehingga akan merusak kesepakatan gencatan senjata.
Sumber-sumber Rai al-Youm menyatakan, negara-negara Arab meminta faksi-faksi Perlawanan untuk mewaspadai tahap mendatang, mencegah Israel mendapatkan peluang guna menggagalkan gencatan senjata, dan tidak membiarkan Netanyahu bebas setelah melakukan kejahatan brutal saat perang.
“Pada Minggu pagi lalu, gencatan senjata antara Hamas dan Israel diberlakukan setelah perang yang menyebabkan syahid dan terlukanya lebih dari 157 ribu warga Palestina. Sebagian besar mereka adalah wanita dan anak-anak. Perang juga menyebabkan hilangnya 11 ribu orang, kehancuran besar, dan kelaparan. Perang ini adalah salah satu bencana kemanusiaan terbesar di dunia,” tulis Rai al-Youm.
