Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Dokumen Rahasia Ungkap Keterlibatan Microsoft, Azure dan OpenAI sebagai Alat Perang dan Genosida Israel di Gaza

POROS PERLAWANAN – Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan, dokumen rahasia mengungkap keterlibatan perusahaan teknologi raksasa, Microsoft, dalam perang Gaza yang dipimpin oleh rezim Zionis. Keterlibatan ini tidak hanya terbatas pada penyediaan layanan teknologi, tetapi juga mencakup partisipasi aktif dalam operasi militer yang dianggap sebagai genosida terhadap rakyat Palestina.

Pengungkapan Kolaborasi Microsoft dengan Militer Israel

Dalam sebuah laporan Kantor Berita Farsnews pada Sabtu 25 Januari, menunjukkan bahwa investigasi mendalam yang dilakukan oleh publikasi +972 dan Local Call, bekerja sama dengan surat kabar Inggris The Guardian, berhasil mengungkap dokumen-dokumen rahasia yang menunjukkan keterlibatan Microsoft dalam perang Gaza. Dokumen tersebut mengungkap bahwa Microsoft, bersama mitranya OpenAI, tidak hanya menyediakan layanan penyimpanan cloud, tetapi juga terlibat dalam operasi lapangan dan kerja sama langsung dengan berbagai unit militer Israel.

Berdasarkan dokumen rahasia Kementerian Pertahanan Israel dan internal Microsoft, perusahaan teknologi ini telah terlibat dalam hampir seluruh infrastruktur militer Israel. Penjualan layanan pemrosesan cloud dan kecerdasan buatan (AI) Microsoft kepada Militer Israel meningkat drastis sejak perang di Gaza dimulai.

Azure dan AI: Alat Perang Israel

Dokumen tersebut mengungkap bahwa puluhan unit militer Israel, termasuk Angkatan Udara, Darat, Laut, dan unit Intelijen Elite seperti Unit 8200, telah membeli layanan dari platform cloud Microsoft, Azure. Selain itu, Microsoft juga memberikan akses luas ke model bahasa GPT-4 OpenAI dan mesin pencari ChatGPT untuk digunakan oleh Militer Israel.

Menurut Farsnews, salah satu dokumen yang diungkap oleh The Guardian menunjukkan bahwa unit teknologi khusus di bawah Direktorat Intelijen Militer Israel (Aman), Unit 81 menggunakan layanan cloud Azure untuk mengembangkan sistem pengawasan dan kontrol terhadap warga Palestina. Sistem ini digunakan untuk memantau pergerakan populasi Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Peningkatan Penggunaan AI Selama Perang

Penggunaan layanan kecerdasan buatan Microsoft oleh Militer Israel meningkat secara signifikan selama perang Gaza. Pada Oktober 2023, penggunaan layanan AI Azure oleh Militer Israel meningkat tujuh kali lipat dibandingkan bulan sebelum perang. Pada Maret 2024, peningkatan ini mencapai 64 kali lipat.

Layanan AI yang dibeli oleh Kementerian Pertahanan Israel mencakup terjemahan, konversi ucapan ke teks, analisis dokumen otomatis, dan penggunaan model GPT-4 OpenAI. Sekitar sepertiga dari pembelian ini ditujukan untuk “sistem terisolasi” yang tidak terhubung ke internet atau jaringan publik, menunjukkan bahwa layanan ini digunakan untuk tujuan operasional militer, bukan hanya untuk keperluan administratif.

Keterlibatan Langsung Karyawan Microsoft

Lebih lanjut laporan Farsnews menyebutkan bahwa dokumen juga mengungkap tentang karyawan Microsoft yang bekerja sama erat dengan unit-unit militer Israel untuk mengembangkan sistem dan produk teknologi. Karyawan Microsoft bahkan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari tim militer Israel.

Seorang perwira intelijen Israel yang bertugas di Unit 8200 mengungkapkan bahwa karyawan Microsoft sering menghadiri pertemuan di pangkalan militer Israel untuk membahas pengembangan sistem pengawasan berbasis cloud.

Proyek Nimbus dan Kerja Sama dengan OpenAI

Pada 2021, rezim Zionis meluncurkan proyek Nimbus, sebuah tender senilai 1,2 miliar Dolar untuk memindahkan sistem informasi pemerintah dan agensi keamanan ke server cloud publik. Meskipun Microsoft kalah dalam tender ini dari Amazon dan Google, Kementerian Pertahanan Israel terus membeli layanan cloud dari Microsoft.

Selain itu, Militer Israel juga membeli model bahasa terbaru GPT-4 dari OpenAI melalui platform Azure. Penggunaan GPT-4 oleh Militer Israel meningkat 20 kali lipat setelah perang dimulai. Pada Januari 2024, OpenAI secara diam-diam menghapus klausul yang melarang penggunaan layanannya untuk kegiatan militer dan perang dari situs webnya, membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dengan militer dan agensi keamanan.

Protes Internal dan Kritik Global

Keterlibatan Microsoft dan perusahaan teknologi lainnya dalam perang Gaza telah memicu protes internal dari karyawan mereka. Banyak karyawan yang menentang penggunaan teknologi mereka untuk keperluan militer yang dianggap melanggar hak asasi manusia.

Komandan Pusat Sistem Komputasi dan Informasi Militer Israel (Mamram), Kolonel Rashli Dembinsky mengakui bahwa kemampuan operasional Militer Israel selama perang Gaza meningkat berkat layanan cloud dan AI dari perusahaan seperti Microsoft, Google, dan Amazon. Dalam sebuah konferensi di dekat Tel Aviv pada Juli 2023, Dembinsky menyebut penyedia layanan cloud sebagai “dunia menakjubkan” yang telah meningkatkan kapasitas operasional Militer Israel.

Teknologi sebagai Alat Perang

Pengungkapan ini menegaskan bahwa teknologi, khususnya layanan cloud dan kecerdasan buatan, telah menjadi alat penting dalam konflik modern. Keterlibatan perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft dalam perang Gaza tidak hanya menimbulkan pertanyaan etis, tetapi juga menggarisbawahi perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan teknologi untuk tujuan militer.

Dokumen-dokumen ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi dapat disalahgunakan untuk mendukung operasi militer yang melanggar hak asasi manusia, sekaligus mengingatkan dunia akan tanggung jawab moral perusahaan teknologi dalam menjaga perdamaian global.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *