Investigasi Militer Israel Ungkap Taktik Perlawanan Palestina Lumpuhkan Iron Dome pada 7 Oktober
POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, investigasi Militer Israel menunjukkan, sistem pertahanan Iron Dome di jam-jam pertama Operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 gagal mencegat ratusan roket dan rudal faksi-faksi Perlawanan Palestina.
Melalui laporan yang didasari investigasi Militer Rezim Zionis, Kanal 12 Israel pada Senin 3 Februari kemarin mengungkapkan, sejumlah rapid fire Iron Dome yang ditempatkan di sekitar Gaza tidak mampu mencegat roket dan rudal yang ditembakkan Perlawanan Palestina di menit-menit awal Operasi Badai al-Aqsa. Hal ini terjadi setelah sistem-sistem Iron Dome kehabisan cadangan rudalnya.
Iron Dome berhenti beroperasi setelah faksi-faksi Perlawanan menembakkan 1.200 unit rudal dan roket ke permukiman-permukiman Zionis hanya dalam 20 menit pertama serangan.
Menurut Kanal 12, laporan yang diajukan oleh Kepala Staf Umum Militer Israel ini menyebutkan, faksi-faksi Perlawanan Palestina dalam 4 jam pertama operasi menembakkan sekitar 3.200 rudal ke arah permukiman-permukiman Zionis. Setelah cadangan rudal-rudal Iron Dome habis, pasukan Israel tidak diberi kesempatan untuk mengisinya kembali.
Stasiun televisi Israel ini memberitakan, dengan habisnya rudal cadangan Iron Dome, sekitar separuh dari rudal-rudal yang ditembakkan dari Gaza tidak tercegat oleh sistem pertahanan Israel.
Kanal 12 melaporkan, 3 serdadu Israel tewas dalam konfrontasi dengan Perlawanan Palestina saat berusaha mengisi kembali Iron Dome dengan rudal-rudal baru.
Operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 membuka mata Badan-badan Intelijen Israel akan kapasitas intelijen-siber yang dimiliki faksi Perlawanan Palestina.
Menurut laporan media-media Zionis, sebelum 7 Oktober Hamas dengan didukung faksi-faksi Perlawanan telah meretas puluhan kamera di pemukiman-pemukiman Zionis sekitar Gaza. Hamas dengan skill siber yang mumpuni juga mengontrol telepon-telepon para serdadu Israel.
Para pakar menilai, Operasi Badai al-Aqsa menegaskan kegagalan intelijen Israel, terutama dalam memprediksi operasi atau mengaktifkan sinyal peringatan saat operasi itu dilaksanakan. Ini merupakan kegagalan intelijen Rezim Zionis paling mencolok sejak tahun 1948.
