Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Media Zionis Ungkap Israel Takut Badai al-Aqsa Terulang Kembali

Media Zionis Ungkap Israel Takut Badai al-Aqsa Terulang Kembali

POROS PERLAWANAN – Situs Ynet dalam laporannya memberitakan proyek gabungan Militer Israel dan Shin Bet di Tepi Barat. Situs Ibrani ini membeberkan bahwa mereka sangat takut Operasi Badai al-Aqsa terulang.

Dilansir Fars, Ynet pada hari Jumat 7 Februari menyatakan bahwa tujuan proyek tersebut adalah mencegah terulangnya skenario 7 Oktober. Laporan Ynet dipublikasikan sehari setelah Shin Bet mengeklaim telah menangkap sebuah kelompok dari Hamas dan Fatah di Ramallah.

Menurut klaim Shin Bet, kelompok tersebut merencanakan untuk meledakkan sebuah bis di Quds (Yerusalem). Shin Bet mengeklaim, kelompok tersebut berniat meledakkan paket berisi bom dari jarak jauh setelah bis memasuki Tanah Pendudukan. Motif para pelaku operasi adalah membalas dendam atas agresi Israel ke Gaza, demikian klaim Shin Bet.

Menurut Ynet, meski operasi tersebut “telah digagalkan oleh Militer Israel seperti sejumlah operasi lain,” namun Otoritas Militer mencemaskan situasi di Tepi Barat. Sebagian dari mereka berpendapat, kondisi di kawasan itu lebih membahayakan daripada kondisi Gaza. Mereka khawatir skenario 7 Oktober terulang di Tepi Barat. Entah itu operasi yang menargetkan para pemukim Zionis atau permukiman-permukiman dekat perbatasan Palestina.

L;antaran kekhawatiran ini, Militer Israel telah memilih sejumlah komandan, termasuk pasukan cadangan, untuk bertugas melindungi permukiman-permukiman Zionis dalam kondisi darurat.

Ynet melaporkan, para komandan Militer Israel di utara Tepi Barat tengah berusaha memisahkan kota Jenin dari kamp pengungsinya, juga kota Tulkarem dari kamp pengungsinya. Tujuannya adalah agar mereka bisa memusnahkan “infrastruktur persenjataan” di kawasan-kawasan tersebut.

Situs ini memberitakan adanya perbedaan pendapat di tengah Otoritas Israel terkait keberadaan pos-pos pemeriksaan di Tepi Barat.

Benyamin Netanyahu dan Bezalel Smotrich dikabarkan menyetujui pengadaan pos-pos tersebut. Namun para komandan Militer memiliki pertimbangan lain.

Menurut Militer, penempatan sejumlah besar pasukan di pos-pos pemeriksaan tidak bisa dibenarkan. Militer memilih menggunakan para serdadu dalam pertempuran, alih-alih menempatkan mereka di pos-pos pemeriksaan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *