Trump Ancam ‘Bombardir Habis-habisan’ Iran Jika Negara Itu Menolak Tuntutannya
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial pada Sabtu 8 Februari, mengancam akan “menjatuhkan bom besar-besaran” ke Iran jika negara tersebut tidak menyetujui tuntutannya.
Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menyatakan bahwa ia lebih memilih mencapai kesepakatan yang memaksa Iran untuk membuat konsesi militer ekstrem, tetapi jika negosiasi gagal, ia tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer.
“Saya ingin ada kesepakatan dengan Iran mengenai hal non-nuklir. Saya lebih memilih itu daripada membombardir habis-habisan negara itu,” ujar Trump.
Lebih lanjut, ia menambahkan, “Mereka tidak ingin mati. Tidak ada yang ingin mati,” sebuah pernyataan yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap Iran.
Tekanan Maksimum terhadap Iran
Ancaman ini muncul setelah Trump menandatangani sebuah memorandum kepresidenan pekan lalu yang menuduh Iran melakukan “perilaku destabilisasi” di Asia Barat dan sekitarnya. Dalam dokumen tersebut, Pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk menekan Iran dengan tujuan mengurangi ekspor minyaknya hingga nol melalui kebijakan “Tekanan Maksimum”.
Kampanye Tekanan Maksimum pertama kali diterapkan pada 2018, setelah Trump, dalam masa jabatan pertamanya, menarik AS keluar dari perjanjian nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Langkah tersebut disusul dengan pemberlakuan kembali dan peningkatan sanksi terhadap Iran, yang sebelumnya telah dicabut sebagai bagian dari kesepakatan yang membatasi aktivitas nuklir Teheran.
Sejak penarikan AS dari perjanjian itu, Iran diketahui telah membuat kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi nuklirnya. Namun, para analis berpendapat bahwa kekhawatiran utama Washington bukanlah program nuklir Iran, melainkan upaya untuk memaksa Teheran agar memberikan konsesi terkait program misilnya serta aliansi strategisnya di kawasan Timur Tengah.
Tuntutan Trump terhadap Iran
Menurut laporan, Trump mengajukan serangkaian tuntutan kepada Iran, termasuk:
– Penutupan fasilitas nuklirnya.
– Penghentian program misil jarak menengah dan jarak jauh.
– Pembongkaran sebagian besar arsenal balistiknya.
– Pemutusan hubungan dengan Kelompok-kelompok Perlawanan di kawasan tersebut.
Trump disebut-sebut baru akan mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap Iran jika semua tuntutan ini dipenuhi.
Respons Iran
Pernyataan Trump pada Sabtu justru memperkuat posisi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Sebelum ancaman pemboman itu disampaikan, Imam Ali Khamenei telah menegaskan bahwa bernegosiasi dengan Amerika Serikat bukanlah tindakan yang “cerdas, bijaksana, atau terhormat”.
Ancaman terbaru Trump kini semakin memperkuat pandangan banyak pengamat bahwa tekanan AS terhadap Iran tidak hanya berkaitan dengan program nuklir, tetapi juga bertujuan untuk membatasi pengaruh Iran di Kawasan.
