Trump dan Sikap Mencla-mencle Soal Pengurangan Senjata Nuklir
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyerukan perundingan dengan para pemimpin China dan Rusia untuk membahas pengurangan persenjataan nuklir global. Pernyataan ini muncul meskipun pada masa pemerintahannya sebelumnya, ia menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian pelarangan rudal nuklir jarak menengah dengan Rusia.
Saat ini, terdapat sekitar 12.512 hulu ledak nuklir di dunia, dengan Rusia, Amerika Serikat, dan China sebagai pemilik terbesar di antara 10 negara yang memiliki senjata nuklir.
Ajakan Trump untuk Perundingan Nuklir
Berbicara kepada wartawan pada Kamis 13 Februari, Trump menegaskan bahwa jika ia bertemu dengan para pemimpin Rusia dan China, agenda utamanya adalah membahas perlambatan, penghentian, dan pengurangan senjata nuklir.
“Kita memiliki terlalu banyak senjata nuklir. Senjata yang kita miliki saat ini dapat menghancurkan dunia 50 hingga 100 kali lipat,” kata Trump, seperti dilansir Farsnews. “Namun, kita terus memproduksi lebih banyak, sementara China dan Rusia juga memperbesar persenjataan mereka.”
Trump juga menyoroti tingginya biaya yang dihabiskan untuk program nuklir oleh berbagai negara. “Kita semua menghabiskan begitu banyak uang untuk ini, padahal dana tersebut bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain,” tambahnya.
Rekam Jejak Trump dalam Kebijakan Nuklir
Seruan Trump ini bertolak belakang dengan kebijakan yang diambilnya saat menjabat sebagai Presiden AS periode sebelumnya. Pada 2019, ia menarik AS keluar dari Perjanjian Pelarangan Rudal Nuklir Jarak Menengah (INF) yang sebelumnya ditandatangani oleh Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev pada 1987. Langkah tersebut dikritik banyak pihak sebagai pemicu perlombaan senjata baru antara negara-negara adidaya.
Pada 2023, keputusan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menangguhkan Perjanjian New START semakin memperburuk situasi. Perjanjian ini, yang merupakan kelanjutan dari START I dan START II, ditandatangani antara Rusia dan Amerika Serikat pada 2010 di Praha, Republik Ceko, dengan tujuan membatasi jumlah senjata nuklir strategis kedua negara.
Meningkatnya Perlombaan Senjata
Sejak keluarnya AS dari INF, baik Rusia maupun China terus memperkuat kapasitas nuklir mereka. Data terbaru menunjukkan peningkatan persenjataan di beberapa negara besar, yang memicu kekhawatiran akan kembalinya perlombaan senjata global.
Para pakar pertahanan menilai bahwa tanpa kesepakatan internasional yang kuat, dunia berisiko menghadapi ketidakstabilan strategis yang lebih besar. Meski Trump kini menyerukan pengurangan senjata nuklir, para analis meragukan efektivitas ajakannya, mengingat kebijakan konfrontatif yang ia terapkan saat masih berkuasa.
