Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Demo Damai Pendukung Hizbullah, Desak Pemerintah Tak Tunduk pada Tekanan AS-Israel

POROS PERLAWANAN – Ribuan pendukung Hizbullah menggelar aksi demonstrasi damai di sepanjang jalan menuju Bandara Internasional Rafik Hariri, Beirut, sejak Kamis sore hingga larut malam Sabtu. Aksi ini merupakan bentuk protes atas pencegahan pendaratan dua pesawat Iran milik maskapai Mahan Air di bandara tersebut oleh otoritas Lebanon.

Latar Belakang Demonstrasi

Keputusan untuk melarang pendaratan pesawat Iran di Beirut terjadi setelah militer Israel menuduh Iran menggunakan penerbangan sipil untuk mengirimkan dana tunai kepada Hizbullah. Langkah tersebut memicu kemarahan dari Kelompok Perlawanan Lebanon, yang menilai kebijakan Pemerintah baru Lebanon sebagai bentuk kepatuhan terhadap tekanan Israel dan Amerika Serikat.

Sebagai tindakan balasan, Iran juga melarang pendaratan pesawat Lebanon di Bandara Imam Khomeini di Teheran. Ketegangan ini semakin meningkat dengan reaksi keras dari Hizbullah dan para pendukungnya, yang menuduh Pemerintah Lebanon mengabaikan kedaulatan nasional demi kepentingan asing.

Aksi Demonstrasi dan Respons Aparat Keamanan

Pada Kamis malam 13 Februari, ratusan demonstran yang mayoritas merupakan pendukung Hizbullah berkumpul di sepanjang jalan menuju bandara, membawa bendera Lebanon, bendera Hizbullah, serta gambar Syahid Sayyid Hasan Nasrallah. Mereka meneriakkan slogan-slogan yang mengecam campur tangan Amerika Serikat dan Israel dalam kebijakan domestik Lebanon, di antaranya “Amerika, ibu dari terorisme” dan “Matilah Amerika”.

Namun, aksi damai ini mendapat respons dari aparat keamanan Lebanon, yang dikerahkan untuk membubarkan massa. Bentrokan terjadi ketika pasukan keamanan menggunakan gas air mata untuk menghalau demonstran. Akibatnya, beberapa peserta mengalami sesak napas dan luka ringan. Menanggapi situasi yang memanas, Hizbullah akhirnya menginstruksikan para pendukungnya untuk mengakhiri aksi guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Pernyataan Resmi Hizbullah

Wakil Ketua Dewan Politik Hizbullah, Haj Mahmoud Qamati, dalam pidatonya di hadapan para demonstran menegaskan bahwa tindakan Pemerintah Lebanon merupakan penghinaan terhadap kedaulatan negara. “Kami telah mengorbankan para syuhada untuk menjaga kehormatan kami dan memastikan kedaulatan negara ini,” ujarnya.

Qamati juga mengkritik keras Pemerintah Lebanon karena tunduk pada tekanan eksternal. “Mengapa kalian menyerah pada tuntutan Amerika dan Israel?” tanyanya. Ia menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan mundur dalam perjuangannya melawan agresi Israel dan akan terus memperjuangkan hak-hak Lebanon.

“Perlawanan tidak akan menyerah. Kami akan terus menuntut penarikan pasukan musuh dari desa-desa di wilayah selatan. Kami tidak akan menerima keputusan apa pun—baik dari Lebanon, internasional, maupun regional—yang memberikan legitimasi terhadap pelanggaran kedaulatan kami,” tambahnya.

Operasi Militer di Dahieh

Pada Sabtu malam 15 Februari, media lokal melaporkan bahwa tentara Lebanon melakukan operasi di beberapa wilayah di Dahieh Selatan, basis utama Hizbullah, dengan dalih menindak para pelaku kerusuhan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pemuda Lebanon dilaporkan ditangkap dalam operasi tersebut, memicu kecaman dari berbagai pihak yang menilai tindakan tersebut sebagai upaya menekan Gerakan Perlawanan.

Insiden Serangan terhadap Kendaraan UNIFIL

Di tengah gelombang demonstrasi, sebuah insiden mencurigakan terjadi pada Jumat malam. Jaringan berita Al-Manar melaporkan bahwa sekelompok individu tak dikenal, dengan wajah tertutup, menyerang dan membakar kendaraan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di jalan menuju Bandara Beirut. Insiden ini segera dimanfaatkan oleh media oposisi Arab untuk memperkeruh situasi.

Namun, Hizbullah dengan cepat merespons dengan menegaskan bahwa aksi protes damai yang mereka lakukan tidak terkait dengan serangan terhadap kendaraan UNIFIL. Sebagai bukti, pada aksi duduk yang digelar kemudian, konvoi pasukan penjaga perdamaian PBB dan kendaraan militer Lebanon diizinkan melintas tanpa hambatan.

Aksi demonstrasi yang terjadi di Beirut mencerminkan ketegangan politik dan diplomatik yang semakin meningkat di Lebanon, di tengah pengaruh kuat aktor eksternal seperti Israel dan Amerika Serikat. Respons dari Pemerintah Lebanon, yang dinilai tunduk pada tekanan asing, semakin memperdalam ketidakpuasan di kalangan pendukung Hizbullah.

Sementara itu, insiden keamanan yang terjadi selama protes, termasuk serangan terhadap UNIFIL dan operasi militer di Dahieh, menunjukkan kompleksitas situasi yang berkembang di Lebanon. Perkembangan lebih lanjut dari konflik ini akan sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Lebanon dalam menanggapi tekanan internal dan eksternal yang terus meningkat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *