Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Mengapa Israel Menolak Mundur dari Lima Titik Perbatasan Lebanon?

Hizbullah Ultimatum Israel Segera Mundur dari Perbatasan Sesuai Kesepakatan

POROS PERLAWANAN – Menjelang berakhirnya tenggat yang ditetapkan untuk penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah perbatasan Lebanon, rezim Zionis secara resmi mengumumkan bahwa mereka tidak akan menarik diri dari lima titik strategis di selatan Lebanon. Keputusan ini memicu reaksi keras dari Pemerintah Lebanon, yang menolak keras keberadaan militer Israel di wilayah tersebut.

Permintaan Israel dan Penolakan Lebanon

Menurut laporan resmi dari kantor Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, Amerika Serikat telah menginformasikan kepada Beirut bahwa Israel berencana menarik diri dari desa-desa yang masih didudukinya. Namun, rezim Zionis menyatakan ingin tetap mempertahankan kehadirannya di lima titik strategis setelah 18 Februari, yang langsung ditolak oleh Pemerintah Lebanon.

Laporan dari surat kabar Haaretz menyebutkan bahwa Israel telah meminta penundaan penarikan pasukan dari lima titik di wilayah Jalur Jari Galilea, bagian dari daerah strategis Galilea yang berbatasan dengan Lebanon. Permintaan ini menimbulkan kekhawatiran di Lebanon karena menandakan potensi eskalasi militer lebih lanjut.

Signifikansi Strategis Wilayah Galilea

Wilayah Galilea adalah area paling utara dari Palestina yang Diduduki dan memiliki kepentingan strategis tinggi karena berbatasan langsung dengan Lebanon. Galilea telah menjadi garis depan konflik antara Israel dan Hizbullah, terutama sejak perang 2006.

Selain nilai strategisnya, Galilea juga memiliki signifikansi sejarah dan religius. Kota Nazaret, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Bunda Maria dan Yesus Kristus, terletak di wilayah ini. Yesus diyakini tumbuh dan memulai dakwahnya di kota ini.

Sejak pecahnya perang “Badai Al-Aqsa” pada 7 Oktober 2023, wilayah Galilea mengalami serangan rudal intensif dari Hizbullah. Berdasarkan data resmi, serangan tersebut menyebabkan:

1. 500 rumah hancur
2. Puluhan ribu warga Israel mengungsi
3. Infrastruktur utama mengalami kerusakan berat

Survei Universitas Tel Hai menunjukkan bahwa 40% penduduk Yahudi di daerah ini memilih tidak kembali, karena khawatir dengan ancaman serangan Hizbullah yang berkelanjutan.

Kurangnya respons dari Kabinet Benyamin Netanyahu terhadap keamanan dan ekonomi Galilea memicu ketidakpuasan di kalangan pemukim Yahudi, yang bahkan mengusulkan pemisahan sepihak dari Israel dan mendirikan “Negara Galilea”.

Lima Titik yang Dipertahankan Israel

Menurut Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, lima titik di selatan Lebanon yang akan dipertahankan setelah batas waktu 18 Februari adalah:

1. Bukit Labouneh
– Memiliki elevasi yang sejajar dengan permukiman Israel di Zahira, Labouneh, dan Alma Al-Shaab.
– Menghadap kota Tyrus serta kamp pengungsi Palestina di Al-Buss.
– Berdekatan dengan pos pengawasan UNIFIL.
– Israel mendeklarasikan bukit ini sebagai zona pertahanan.

2. Bukit Hammams
– Terletak dekat dengan desa perbatasan Lebanon Yarin dan Marwahin.
– Mengawasi Khiam, Metulla, dataran Khiam, Mar’i, dan Wazzani.
– Keberadaan Israel di titik ini dapat memutus jalur komunikasi antara desa-desa Lebanon.

3. Gunung Balat
– Berada di dekat desa Rmeish dan Ain Ebel.
– Memberikan keunggulan pengawasan strategis terhadap wilayah sekitarnya.

4. Gunung Al-Bat
Terletak di Aytaroun dan memberikan kontrol penuh terhadap Lebanon tengah.

5. Bukit Al-Owaida
– Berada di antara desa Adaisseh, Taybeh, dan Rabis Tlatin.
– Memberikan cakupan pengawasan langsung ke semua permukiman Yahudi di Galilea.

Kelima titik ini dianggap vital bagi Israel, dan selain menolak mundur, Israel juga merencanakan pembangunan pangkalan militer permanen untuk memperkuat kendali atas wilayah tersebut.

Tanggapan Lebanon dan Aksi Massa

Pemerintah Lebanon menyatakan keprihatinan mendalam atas kemungkinan Israel menghindari penarikan dari lima titik tersebut sebelum batas waktu 18 Februari. Sebagai respons, penduduk desa-desa perbatasan yang masih berada di bawah pendudukan Israel telah menyerukan aksi massa pada Selasa 18 Februari, yang mereka sebut sebagai “Hari Kembali”.

Dalam aksi ini, warga berencana berbondong-bondong menuju daerah yang masih diduduki Israel untuk menuntut pembebasan wilayah tersebut. Gerakan ini berpotensi meningkatkan ketegangan di perbatasan, mengingat pasukan Israel telah memperkuat kehadirannya di daerah tersebut.

Pelanggaran Israel terhadap Gencatan Senjata

Sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel pada 27 November 2023, pasukan Israel seharusnya menarik diri dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan dalam 60 hari. Namun, hingga saat ini, Israel masih berusaha untuk menunda penarikan.

Meskipun Israel belum mengumumkan tanggal baru untuk penarikan, Radio dan Televisi Israel melaporkan bahwa rezim Israel telah meminta Komite Pengawas Internasional untuk memperpanjang batas waktu hingga 28 Februari. Namun, Pemerintah Lebanon dengan tegas menolak permintaan tersebut.

Komite Pengawas Internasional terdiri dari Lebanon, Israel, Amerika Serikat, Prancis, dan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).

Sejak gencatan senjata diberlakukan, pasukan Israel telah melakukan 923 pelanggaran, yang mengakibatkan:

– 73 warga Lebanon tewas
– 265 warga lainnya terluka

Secara keseluruhan, agresi Israel terhadap Lebanon telah menyebabkan:

– 4.104 warga Lebanon tewas
– 16.890 warga lainnya terluka
– 1,4 juta warga Lebanon mengungsi

Keputusan Israel untuk tetap menempati lima titik strategis di Lebanon selatan memicu eskalasi diplomatik dan berpotensi memicu konflik lebih lanjut. Lebanon bersikeras bahwa Israel harus mundur sepenuhnya, sementara Israel terus mencari cara untuk menunda penarikan.

Dengan semakin dekatnya batas waktu 18 Februari, ketegangan di perbatasan semakin meningkat. Jika Israel tetap bertahan di lima titik tersebut, kemungkinan besar pertempuran baru akan pecah antara pasukan Israel dan Kelompok Perlawanan Lebanon. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *