Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Hizbullah, Benteng Utama Lebanon Melawan Agresi Zionis dan Amerika

Hizbullah Ultimatum Israel Segera Mundur dari Perbatasan Sesuai Kesepakatan

POROS PERLAWANAN – Kantor Berita Tasnimnews pada Senin 17 Februari menerbitkan laporan berjudul “Mimpi Bermasalah Poros AS terhadap Lebanon: Bangun dan Sadarlah!” Dalam laporan tersebut, Tasnim mengulas sejarah perjuangan Perlawanan Hizbullah sejak kelompok ini bergabung dalam Pertempuran Badai Al-Aqsa pada 8 Oktober 2023 untuk mendukung Jalur Gaza. Sejak saat itu, kelompok-kelompok politik pro-Barat di Lebanon kembali menghidupkan konspirasi anti-Perlawanan.

Tokoh-tokoh seperti Ketua Partai Pasukan Lebanon, Samir Geagea, bersama sekutunya yang memiliki sejarah panjang dalam mengkhianati rakyat Lebanon dan berkolaborasi dengan musuh Zionis, menuduh bahwa Hizbullah telah menyeret Lebanon ke dalam perang. Namun, sejarah panjang agresi Israel terhadap Lebanon membuktikan bahwa konflik ini bukan disebabkan oleh Perlawanan, melainkan ambisi ekspansionis Zionis yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Sejarah Agresi dan Pendudukan Zionis di Lebanon

Mereka yang memahami sejarah perkembangan Lebanon mengetahui bahwa agresi rezim Zionis terhadap Lebanon maupun negara-negara Arab lainnya tidak ada hubungannya dengan Perlawanan. Sejak pendudukan Palestina pada tahun 1948, rezim ini telah mendambakan wilayah negara-negara Arab di kawasan tersebut dalam kerangka proyek Israel Raya, yang membentang dari Palestina hingga Arab Saudi.

Dalam konteks ini, Lebanon—sebagai negara tetangga Palestina—menjadi salah satu target utama yang ingin diduduki Zionis setelah Palestina.

Pada era 1980-an, Zionis telah maju hingga jantung kota Beirut, mengubah Lebanon menjadi “Palestina kedua” dan menggusur penduduknya. Sementara itu, Pemerintah Lebanon saat itu serta kelompok Phalangis—yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Samir Geagea—tidak hanya gagal membela kepentingan nasional Lebanon, tetapi justru berkoordinasi dengan Zionis untuk menyerahkan negara tersebut kepada penjajah.

Pemimpin Partai Phalangis kala itu, Bashir Gemayel, yang kemudian menjadi Presiden Lebanon, secara terang-terangan menjadi mata-mata rezim Zionis. Ia memberikan bantuan militer dan dukungan lapangan kepada Israel dalam upaya pendudukan Lebanon. Bahkan, ia berjanji untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Sejak awal kekuasaannya, Gemayel berusaha menjalin hubungan erat dengan Israel dan kerap meminta saran dari mereka sebelum bertindak.

Menurut informasi yang tersedia, hubungan antara Partai Phalangis dan Israel dimulai pada 1975, setelah Perang Saudara Lebanon. Phalangis meminta bantuan Israel untuk menekan pengungsi Palestina dan menghancurkan Kelompok-kelompok Perlawanan di Lebanon. Tel Aviv menanggapi permintaan ini dengan positif, memulai kerja sama militer yang semakin erat. Bahkan, Bashir Gemayel sempat bertemu dengan Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon.

Perlawanan, Juru Selamat Lebanon di Tengah Pengkhianatan Internal dan Agresi Zionis

Di tengah situasi ini, kebangkitan Gerakan Perlawanan dan terbentuknya Hizbullah menggagalkan rencana Amerika Serikat dan Israel beserta sekutu mereka di Lebanon. Kekuatan-kekuatan Perlawanan menentang kaum Zionis selama dua dekade hingga akhirnya, pada 2000, mereka berhasil memaksa Israel mengakhiri pendudukannya atas wilayah Lebanon.

Hizbullah pertama kali mengeluarkan pernyataan militer secara resmi pada 6 Januari 1984, dengan tanda tangan “Perlawanan Islam”. Jika ditinjau dari tahapan perjuangannya sejak 1982 hingga 24 Mei 2000, Hizbullah mengalami evolusi dalam perlawanan bersenjata terhadap Zionis. Perjuangan ini meliputi operasi mati syahid, serangan gerilya, hingga penyergapan besar-besaran terhadap markas-markas dan pasukan Israel.

Pada 21 Mei 2000, setelah serangkaian operasi militer oleh pejuang Perlawanan Islam, Israel mulai menarik pasukannya dari Lebanon Selatan.

Situasi ini kembali terjadi pada 2006, ketika Hizbullah tidak hanya berhasil mengalahkan Israel dalam perang 33 hari, tetapi juga menggagalkan proyek Amerika dan Israel dalam mengubah peta politik Timur Tengah.

Namun, perlawanan Hizbullah terhadap Israel tidak hanya terbatas pada medan perang. Dalam konspirasi teroris yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap kawasan tersebut pada 2011—khususnya di Suriah dan Irak—Lebanon juga menjadi sasaran. Dalam situasi ini, Hizbullah dan mitra-mitranya dalam Perlawanan Islam berperan penting dalam menyelamatkan Lebanon dari ISIS dan kelompok-kelompok teroris Takfiri lainnya.

Keberhasilan Hizbullah juga terbukti dalam kasus penarikan batas laut antara Lebanon dan Israel pada 2021. Ketika Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, berupaya merebut sumber daya energi Lebanon di perairan teritorialnya, Hizbullah berhasil memaksa Israel menandatangani perjanjian penentuan batas laut. Kesepakatan ini memungkinkan Lebanon memanfaatkan sumber daya gas dan minyaknya di Laut Mediterania.

Serangan Pendahuluan Hizbullah terhadap Israel dalam Badai Al-Aqsa

Setelah berbagai kemenangan yang diraih Hizbullah bagi Lebanon, Sayyid Hasan Nasrallah berulang kali menegaskan bahwa kemenangan ini milik seluruh rakyat Lebanon—bukan hanya kaum Syiah atau pendukung Perlawanan. Dengan meningkatnya posisi Hizbullah di bidang politik dan sosial, upaya musuh untuk melemahkannya pun semakin gencar.

Kelompok-kelompok pro-Israel di Lebanon, yang dipimpin oleh sisa-sisa Partai Phalangis di bawah kepemimpinan Samir Geagea, tidak ragu-ragu memicu konflik dan menumpahkan darah rakyat Lebanon demi mencapai tujuan anti-nasional mereka. Hasutan ini terus berlanjut hingga hari ini.

Sejak 2006, Israel terus merencanakan perang besar melawan Lebanon guna mencapai ambisi lamanya di negara tersebut. Setelah Operasi Penyerbuan Al-Aqsa, yang sepenuhnya dilakukan oleh Palestina, Israel melihat peluang untuk memanfaatkan kekacauan perang di kawasan itu dan melancarkan serangan mendadak ke Lebanon.

Dengan asumsi bahwa perang Gaza akan menyibukkan Poros perlawanan dan menghambat dukungan bagi Hizbullah—terlebih karena tentara Lebanon sendiri tidak menunjukkan performa yang memadai dalam melawan agresi Zionis—Israel berharap dapat memperoleh keuntungan strategis.

Oleh karena itu, keterlibatan Hizbullah dalam Pertempuran Badai Al-Aqsa bukan sekadar tindakan solidaritas, melainkan juga langkah serangan pendahuluan terhadap Israel. Isu ini mungkin jarang dibahas dalam analisis terkait perang antara Lebanon dan Israel, tetapi peran Hizbullah dalam mengantisipasi dan menghadapi ancaman Zionis semakin nyata. [PP/MT]

Tags: