Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Tekankan Pentingnya Keutuhan Lebanon, Syekh Naim Qasim Serukan Perlawanan dan Ultimatum Israel

POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah pidato yang menegaskan pentingnya persatuan nasional serta perlunya menghadapi ancaman eksternal dengan solidaritas penuh, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menyatakan bahwa rezim Zionis adalah instrumen ekspansionisme Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Senin 17 Februari, pidato Syekh Naim Qasim yang disampaikan dalam peringatan untuk mengenang para Komandan dan Pemimpin Perlawanan yang telah gugur Syahid memuat berbagai poin krusial yang mencerminkan kondisi geopolitik Kawasan serta strategi perlawanan Hizbullah.

Persatuan dan Perlawanan

Syekh Naim Qasim membuka pidatonya dengan mengenang para Pemimpin Hizbullah yang telah gugur dalam perjuangan. Ia juga mengucapkan selamat kepada dunia Islam atas kelahiran Imam Zaman (a.s.), menegaskan bahwa keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi (a.s.) menjadi dasar perjuangan Hizbullah.

“Kami percaya bahwa Imam Mahdi (a.s.) pasti akan datang dan kami akan berusaha untuk berdiri di bawah panjinya, karena itu adalah panji kebenaran dan kemanusiaan.”

Pada peringatan 20 tahun wafatnya mantan Perdana Menteri Lebanon, Rafik Hariri, Syekh Qasim menyerukan pentingnya menjaga kesatuan dan stabilitas nasional demi mengatasi tekanan eksternal yang semakin meningkat.

Israel sebagai Alat Ekspansionisme Amerika Serikat

Dalam pidatonya, Syekh Naim Qasim menyoroti hubungan erat antara Israel dan kepentingan strategis Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa segala tindakan Israel merupakan bagian dari proyek besar AS dalam menciptakan ketidakstabilan di Kawasan.

Menurutnya, kebijakan yang diterapkan Donald Trump terhadap Palestina merupakan ancaman besar bagi keberlangsungan hidup rakyat Palestina.

“Rencana yang dikembangkan oleh Trump bersama Netanyahu bertujuan untuk mengakhiri isu Palestina dan melenyapkan rakyat Palestina. Ini merupakan bentuk genosida politik yang tidak dapat diterima.”

Ia menegaskan bahwa setiap upaya untuk merelokasi warga Palestina ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Yordania, dan Arab Saudi harus ditolak sepenuhnya. Syekh Qasim mendesak seluruh negara di Kawasan untuk bersatu menolak strategi AS yang berusaha menghapus Palestina dari peta politik global.

Tuntutan Penarikan Israel dari Lebanon Selatan

Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Israel harus menarik diri secara penuh dari Lebanon selatan paling lambat pada 18 Februari. Ia menegaskan bahwa tugas utama Pemerintah Lebanon adalah memastikan penarikan tersebut terjadi sesuai perjanjian yang telah disepakati.

“Jika Israel tetap bertahan di wilayah Lebanon selatan dan tidak mematuhi perjanjian yang telah disepakati, kami tidak akan memberi tahu mereka bagaimana mereka akan diperlakukan.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa Hizbullah siap mengambil tindakan tegas jika Israel melanggar kesepakatan yang telah ada.

Dukungan terhadap Rakyat dan Pembangunan Kembali

Selain menyoroti strategi militer dan geopolitik, Syekh Naim Qasim juga menegaskan komitmen Hizbullah dalam mendukung rakyat Lebanon. Ia menekankan pentingnya rekonstruksi daerah yang terdampak konflik dan memastikan warga mendapatkan perlindungan serta bantuan yang memadai.

“Kami mendukung rakyat dan pembangunan kembali. Kami tidak akan pernah meninggalkan mereka tanpa tempat tinggal dan jaminan kesejahteraan. Kami memegang teguh tanggung jawab ini.”

Pemakaman Akbar bagi Syuhada Hizbullah

Syekh Naim Qasim mengumumkan bahwa pemakaman akbar untuk Syahid Hasan Nasrallah dan Syahid Safiuddin akan diselenggarakan pada 23 Februari. Dan mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dalam upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan komitmen terhadap perjuangan yang telah dirintis oleh para Syuhada itu.

“Saya mengundang semua orang untuk berpartisipasi secara luas dalam acara ini dengan tema ‘Kami Hadir di Panggung dengan Kekuatan’. Siapa pun yang berpikir dapat melemahkan kami harus tahu bahwa mereka tidak akan pernah berhasil.”

Ancaman Israel terhadap Pendaratan Pesawat Iran

Dalam bagian akhir pidatonya, Syekh Naim Qasim mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Lebanon telah menerima ancaman dari Israel, jika pesawat Iran mendarat di Bandara Beirut, landasan pacu akan dibom.

Sebagai respons terhadap ancaman tersebut, Syekh Qasim mendesak Pemerintah Lebanon untuk mengambil sikap tegas dalam mempertahankan kedaulatan nasional.

“Saya meminta pihak berwenang Lebanon untuk mempertimbangkan kembali keputusan mengenai pesawat Iran dengan sikap berdaulat. Kita tidak boleh tunduk terhadap ancaman yang melanggar kedaulatan negara kita,” tegasnya.

Pidato Syekh Naim Qasim menegaskan kembali posisi Hizbullah dalam menghadapi agresi Israel dan dominasi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa persatuan nasional merupakan kunci keberhasilan dalam melawan rencana eksternal yang ingin menghancurkan stabilitas Lebanon.

Selain itu, Syekh Naim Qasim juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran perjanjian oleh Israel tidak akan dibiarkan begitu saja. Dalam konteks ini, Hizbullah berkomitmen untuk terus berjuang demi rakyat Lebanon serta menentang segala bentuk intervensi asing yang merugikan kepentingan nasional.

Tags: