Jenderal Soleimani di Mata Penulis Rusia: Simbol Semangat, Kesetiaan, dan Pengorbanan Global
POROS PERLAWANAN – Lebih dari sekadar prajurit, Jenderal Qasim Soleimani adalah penjaga dan pelindung. Ia merupakan pahlawan di medan kebenaran, yang perjuangannya tidak hanya terbatas pada Tanah Airnya, tetapi juga meluas ke negeri lain. Dengan keberaniannya, ia berdiri teguh melawan para teroris yang dianggap sebagai produk ideologi Amerika Serikat dan Israel. Jenderal Qasim Soleimani gugur sebagai Syahid akibat kekaisaran yang berusaha menghapus warisannya, tetapi namanya tetap hidup dan bergaung di hati jutaan orang di seluruh dunia.
Bahkan algoritma media sosial pun tak mampu membungkam namanya. Melalui bisikan dari bibir ke bibir, kisahnya terus terukir dalam ingatan banyak orang. Sosok pahlawan Iran ini digambarkan secara mendalam oleh seorang penulis dan produser terkemuka asal Rusia, Oleg Roy.
Dalam wawancaranya dengan Tehran Times yang dipublikasikan pada 16 Februari, Roy memaparkan bagaimana Jenderal Soleimani telah membentuk gelombang sejarah di Timur Tengah. Melalui novel “Jackals Cannot Defeat a Lion”, Roy tidak hanya mengisahkan perjuangan Soleimani di medan perang, tetapi juga menghadirkan semangat, kesetiaan, dan pengorbanan yang melampaui batas-batas geografis.
Pendekatan Sastra yang Unik
Berbeda dari banyak karya lain tentang Jenderal Soleimani, novel ini tidak berbentuk dokumenter sejarah atau biografi semata. Sebaliknya, Roy mengemas kisahnya melalui simbolisme dan narasi sastra, menyajikan kehidupan Soleimani secara mendalam dan tidak konvensional. Novel ini mengikuti dua alur waktu yang berbeda: masa kini dan masa lalu.
Di masa kini, tokoh utama dalam novel itu bernama Margarita Valdenshtein, seorang penulis asal Amerika, datang ke Iran untuk menulis buku yang mengkritik Jenderal Soleimani. Namun, selama penelitiannya, ia menemukan kenyataan yang berbeda dari persepsi awalnya. Seiring waktu, Margarita mulai memahami kepribadian Soleimani dan mengalami perubahan pandangan dunia secara total.
Sementara itu, alur kedua menyajikan biografi Qasim Soleimani melalui hubungan pribadinya dengan orang-orang terdekatnya. Pendekatan ini memungkinkan pembaca melihat sosok Soleimani secara lebih personal, melalui mata mereka yang hidup di sekelilingnya.
Tokoh Utama dan Inspirasi Penulisan
Selain Margarita Valdenshtein, tokoh utama lainnya adalah Fereshte Kermani-Betani, seorang polisi di Iran, beserta keluarganya yang menghadapi berbagai tantangan di Timur Tengah. Meski demikian, pusat cerita tetaplah Haji Qasim Soleimani.
Motivasi penulisan novel ini berawal dari dua peristiwa besar: pembunuhan Jenderal Soleimani dan serangan teroris yang terjadi pada peringatan dua tahun kesyahidannya. Roy merasa tergerak oleh fakta bahwa korban serangan tersebut adalah masyarakat biasa yang datang untuk menghormati Soleimani.
“Ini adalah cinta sejati—cinta yang mereka coba hancurkan melalui terorisme. Setelah peristiwa ini, saya sadar bahwa hanya sedikit orang seperti Haji Qasim dalam setiap era, dan kenangannya harus dilestarikan,” ujar Roy.
Alasan Mengangkat Peristiwa Pembunuhan Soleimani
Roy menyoroti kontras antara kecintaan tulus rakyat Iran terhadap Soleimani dan sikap Barat yang cenderung memusuhi sosoknya. Baginya, meskipun Rusia dan Iran berbeda dalam hal agama dan sejarah, kedua bangsa ini memiliki kedekatan spiritual yang kuat.
“Kami juga memiliki tradisi menghormati para pahlawan kami. Seperti halnya ‘Resimen Abadi’ di Rusia yang menjadi simbol cinta kepada para leluhur, orang Iran memiliki penghormatan serupa terhadap para syuhada mereka,” jelas Roy.
Kedekatan Spiritual Rusia dan Iran
Roy melihat banyak kesamaan antara rakyat Rusia dan Iran, terutama dalam hal nilai-nilai spiritual dan budaya. Salah satu bab penting dalam novel ini menggambarkan pertemuan antara Haji Qasim dan Presiden Rusia, yang mencerminkan kedekatan spiritual kedua bangsa.
Proses Penelitian dan Keakuratan Sejarah
Dalam proses penulisan, Roy dibantu oleh teman-temannya dari Iran yang memberikan akses ke wawancara dengan orang-orang yang mengenal Soleimani secara pribadi, serta berbagai dokumen, termasuk yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Ia berusaha menjaga keakuratan sejarah tanpa rekayasa, sebagai bentuk penghormatan kepada Haji Qasim dan orang-orang yang berbagi kenangan tentangnya.
Meskipun beberapa tokoh dalam novel merupakan karakter fiktif, beberapa lainnya adalah sosok nyata yang tidak terhindarkan untuk disebutkan.
Pesan Tentang Geopolitik Timur Tengah
Roy menekankan bahwa Timur Tengah adalah pusat kesucian bagi umat manusia—tempat lahirnya tiga agama besar dunia dan titik fokus geopolitik global. Ia berharap hubungan Rusia dan Iran yang saat ini terjalin secara baik dapat berkembang menjadi persahabatan yang tulus dan abadi.
“Kami memiliki banyak kesamaan dengan rakyat Iran, baik secara historis maupun budaya. Karakter nasional bangsa Iran layak dihormati karena ketulusan mereka dalam segala hal. Saya berharap kerja sama kedua bangsa ini dapat semakin kuat dan bertahan dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Gambaran Tentang Jenderal Soleimani
Ketika diminta menggambarkan Jenderal Soleimani dalam satu kalimat, Roy menyatakan: “Qasim Soleimani adalah seorang pahlawan, pejuang hebat, dan pembela iman, Tanah Air, serta rakyatnya. Pada saat yang sama, ia adalah putra, saudara, dan ayah yang penyayang—semua aspek ini tidak dapat dipisahkan dari dirinya.”
Mengutip salah satu bagian novel:
“Anda mengatakan bahwa Haji Qasim bukan ikon atau kakak bagi Anda—lalu siapa? Dari mana datangnya cinta seperti itu? Seorang politikus dapat dicintai karena rasa takut atau sebagai idola—tetapi Haji Qasim? Tidak. Itulah masalahnya—dia tidak pernah jauh. Anda melihatnya sebagai sosok tangguh di ‘papan catur besar’, tetapi bagi kami, dia adalah seorang ayah.”
Jenderal Soleimani dikenal sebagai pria pemberani yang penuh cinta, dengan hati yang besar yang meliputi seluruh Iran—sebuah kesaksian dari mereka yang mengenalnya secara pribadi dan terus menjaga kenangannya tetap hidup. [PP/MT]
