Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

‘Sindrom Gaza’ Penyebab Tawanan Israel Ekspresikan Rasa Sayang kepada Hamas

‘Sindrom Gaza’ Penyebab Tawanan Israel Ekspresikan Rasa Sayang kepada Hamas

POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan al-Arabi al-Jadid, anggota Kantor Politik Hamas, Muhammad Nizal menanggapi tudingan bahwa faksinya bertanggung jawab atas ditundanya penyerahan tawanan Palestina oleh Benyamin Netanyahu.

Hamas dianggap “memprovokasi” Netanyahu dengan cara melakukan psy war di tiap putaran pertukaran tawanan. Salah satunya adalah ketika seorang tawanan Israel mencium kening dua prajurit Brigade al-Qassam.

“Teks kesepakatan pembebasan tawanan disusun kedua belah pihak berdasarkan prinsip-prinsip pertukaran. Namun tidak ada mekanisme yang jelas untuk itu. Dengan demikian, tidak ada hal apa pun yang menunjukkan bahwa Hamas telah melanggar mekanisme tertentu,” tutur Nizal, diberitakan Fars.

Nizal juga merespons klaim sejumlah pihak di Israel, yang menyatakan bahwa cara pembebasan tawanan Israel dan omongan atau perilaku mereka sebelum dibebaskan adalah “bentuk penghinaan kepada Israel.”

“Tudingan ini tidak benar. Hamas telah membuktikan bahwa ia memperlakukan para tawanan secara manusiawi, beradab, dan berakhlak. Buktinya, sebagian besar tawanan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Mereka merasa gembira dan nyaman. Sementara para tawanan kami dibebaskan dengan kondisi fisik dan mental yang buruk. Mereka dihina dan disakiti sebelum dibebaskan.”

“Tak seorang pun meminta tawanan Israel, yang mencium kening 2 prajurit al-Qassam, untuk melakukan hal tersebut. Itu hanya sebuah aksi spontan dan alamiah, yang menunjukkan rasa terima kasih tawanan itu kepada prajurit al-Qassam, yang telah menjaga nyawanya selama perang dan memperlakukannya dengan baik. Tawanan itu, juga selainnya, tahu dan sadar bahwa para pejuang Perlawanan telah melakukan hal-hal baik kepada mereka.”

“Para tawanan ini menyadari kebohongan propaganda Zionis yang menyebut Perlawanan, terutama Hamas, sebagai teroris. Sepertinya ada sindrom baru, yang mesti kita namakan dengan ‘Sindrom Gaza.’ Sama seperti Sindrom Stockholm yang terkenal dalam sejarah. Para psikolog mendefinisikannya sebagai ketertarikan tawanan kepada pihak yang menawannya, juga munculnya rasa sayang kepada mereka. Perasaan ini muncul ketika masa penawanan berlangsung lama dan para tawanan diperlakukan dengan baik oleh penawannya.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *