Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Menkeu Israel Ancam Lanjutkan Operasi Militer Usai Tuntasnya Pertukaran Tahanan

POROS PERLAWANAN – Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich mengakui bahwa Hamas berhasil mempertahankan dan membangun kembali kekuatannya dengan cepat, meskipun Israel berusaha memperpanjang tahap pertama kesepakatan pertukaran tahanan. Smotrich juga menegaskan bahwa setelah pertukaran tahanan selesai, Israel akan melanjutkan operasi militernya di Gaza.

Upaya Israel untuk Memperpanjang Tahap Pertama Kesepakatan

Pada Kamis 27 Februari, Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel ingin memperpanjang tahap pertama kesepakatan pertukaran tahanan guna membebaskan sebanyak mungkin warganya yang ditahan oleh Hamas.

“Kami akan melanjutkan perang setelah pertukaran tahanan selesai. Saya pikir kesepakatan ini adalah kesalahan besar yang memaksa kami membayar harga yang sangat tinggi, dan kami masih harus menghadapi konsekuensi lain di masa depan,” ujar Smotrich.

Ia juga mengakui bahwa Israel pada akhirnya akan menyesali perjanjian ini, karena Hamas tidak hanya berhasil mempertahankan kekuatannya, tetapi juga dengan cepat mengorganisasi kembali pasukannya.

Ketidakpastian Negosiasi Tahap Kedua Gencatan Senjata

Gencatan senjata antara Hamas dan Israel dimulai pada 19 Januari 2025 dan terdiri dari tiga tahap, dengan setiap tahap berlangsung selama 42 hari. Namun, negosiasi untuk tahap kedua seharusnya dimulai sebelum tahap pertama berakhir.

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menolak untuk memulai tahap kedua negosiasi. Ia bersikeras bahwa tahap pertama harus diperpanjang karena dalam tahap kedua, kesepakatan mengharuskan penghentian total perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023 hingga Januari 2025, Israel telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Gaza, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai genosida. Akibat serangan tersebut, lebih dari 160.000 warga Palestina tewas dan terluka, sementara lebih dari 14.000 orang lainnya masih hilang.

Peran Mediator dan Perkembangan Negosiasi

Sumber dari rezim Israel yang dikutip oleh Axios pada Rabu 26 Februari menyebutkan bahwa delegasi Israel diperkirakan akan berangkat ke Doha atau Kairo untuk memulai pembicaraan tentang langkah selanjutnya dalam kesepakatan pertukaran tahanan.

Menurut sumber tersebut, tujuan utama negosiasi ini adalah memperpanjang gencatan senjata selama 42 hari tambahan, yang akan memungkinkan lebih banyak tahanan Israel dan Palestina untuk dibebaskan.

Di sisi lain, The Wall Street Journal melaporkan bahwa mediator internasional sedang berusaha memperpanjang tahap pertama kesepakatan gencatan senjata. Pembicaraan saat ini berfokus pada peningkatan jumlah tahanan Israel yang dibebaskan sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina.

Namun, hingga saat ini belum ada kesepakatan yang dicapai, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik bisa kembali meletus jika negosiasi menemui jalan buntu.

Pernyataan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mencerminkan kekhawatiran Israel atas kemampuan Hamas dalam mempertahankan dan membangun kembali kekuatan militernya dengan cepat. Sementara itu, rezim Israel berupaya memperpanjang tahap pertama kesepakatan gencatan senjata untuk mendapatkan lebih banyak pembebasan tahanan, tetapi negosiasi tahap kedua masih menemui hambatan.

Dengan Netanyahu menolak memulai tahap kedua negosiasi, masa depan kesepakatan ini masih belum pasti. Mediator internasional terus berusaha mencari solusi, namun kegagalan mencapai kesepakatan dapat memperburuk situasi dan memicu kembali konflik berskala besar di Gaza.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *