Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Dentuman Genderang Perang di Bab el-Mandeb: Rencana AS dan Arab Saudi terhadap Yaman

POROS PERLAWANAN – Desas-desus mengenai rencana rahasia Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap Yaman semakin santer terdengar. Diskusi di Washington kini berpusat pada bagaimana menangani kekuatan Yaman yang terus meningkat.

Pada Minggu 24 Februari, sumber-sumber AS mengonfirmasi bahwa pasukan Yaman untuk pertama kalinya telah berhasil melacak dan menembakkan rudal permukaan-ke-udara ke arah jet tempur F-16 pada 21 Februari. Ini merupakan pencapaian baru dalam kemampuan militer Yaman yang semakin berkembang.

Selama 15 bulan terakhir, perang di Gaza telah menjadi panggung bagi manuver militer Yaman di Laut Merah. Dengan menggunakan rudal dan kapal bunuh diri, mereka menargetkan setiap kapal kargo dan kapal perang yang menuju Pelabuhan Eilat. Akibatnya, pelabuhan strategis Israel ini akhirnya mengalami kehancuran ekonomi.

Laporan-laporan tepercaya juga menunjukkan bahwa kapal perang AS telah menjadi sasaran serangan di Laut Merah dalam beberapa bulan terakhir. Rentetan serangan ini membuat Washington dan Riyadh semakin cemas dan mulai mencari strategi untuk menghadapi ancaman yang telah membuat Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Makran menjadi kawasan yang berbahaya bagi kekuatan asing.

Diskusi Intensif di Washington: Strategi Menghadapi Ansharullah

Sebuah sumber tepercaya mengungkapkan pada Kamis 27 Februari bahwa diskusi mendalam sedang berlangsung di Amerika Serikat mengenai cara menghadapi kelompok Ansharullah serta ancaman mereka yang terus meningkat terhadap AS dan Israel di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah.

Sumber tersebut, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan kepada situs Arabi21 bahwa Departemen Pertahanan AS sedang mempertimbangkan berbagai strategi militer untuk menghadapi ancaman dari kelompok Houthi (Ansharullah).

Menurutnya, ada dua pendekatan utama yang sedang dipertimbangkan:

1. Mengadopsi metode konvensional dalam memerangi terorisme.

2. Melakukan serangan langsung dan berskala besar terhadap infrastruktur militer dan keamanan Yaman, termasuk di wilayah utara, tengah, dan barat negara tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Khalid bin Salman, yang bertanggung jawab atas kebijakan Yaman, bersama Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed Al Jaber, telah mengunjungi Pentagon dalam dua hari terakhir. Mereka bertemu dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, untuk membahas perkembangan terbaru di Yaman serta kerja sama militer antara Washington dan Riyadh.

Laporan media Saudi mengonfirmasi bahwa fokus utama pertemuan ini adalah perkembangan konflik di Yaman, koordinasi militer AS-Saudi, upaya untuk menghadapi ancaman dari pasukan Yaman, serta peran Iran dalam mendukung kelompok tersebut.

Peringatan dari Yaman

Seiring dengan munculnya indikasi pembentukan aliansi militer baru untuk menghadapi Yaman, para pemimpin Yaman memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Pada Selasa 25 Februari, Menteri Pertahanan Pemerintah Sana’a, Mohammed Nasser Al-Atifi, memperingatkan bahwa AS dan sekutunya harus mempertimbangkan kembali perhitungan mereka sebelum melakukan petualangan militer terhadap Yaman.

Sementara itu, pada Rabu 26 Februari, Anggota Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mohammed Al-Houthi memperingatkan Arab Saudi agar tidak terlibat dalam konflik baru dengan Yaman.

“Kami menerima informasi yang menunjukkan kemungkinan Arab Saudi akan ikut serta dalam perang baru melawan kami,” ujar Al-Houthi.

Pada saat yang sama, Pemerintahan Donald Trump telah memutuskan untuk kembali memasukkan kelompok Ansharullah dalam daftar organisasi teroris. Keputusan ini, yang akan mulai diberlakukan pekan depan, diperkirakan akan digunakan sebagai dalih untuk meningkatkan blokade terhadap Yaman dan bahkan sebagai pembenaran untuk intervensi militer lebih lanjut.

Menanggapi keputusan tersebut, Menteri Luar Negeri Yaman, Jamal Amer memperingatkan bahwa langkah ini dapat memaksa Yaman untuk mengambil tindakan balasan yang lebih keras.

Amer juga menuding Arab Saudi sebagai alat politik Amerika, seraya menyatakan: “Amerika gagal melindungi Israel, dan mereka juga tidak akan mampu melindungi Arab Saudi.”

Manuver Mencurigakan Uni Emirat Arab di Pulau Sokotra

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) tampaknya juga tidak tinggal diam. Laporan terbaru menunjukkan adanya aktivitas militer mencurigakan di Pulau Sokotra, yang telah lama menjadi pusat kepentingan strategis UEA sejak perang di Yaman dimulai pada 2015.

Menurut situs berita maritim AS, Maritime Executive, satelit Sentinel mendeteksi keberadaan dua pesawat kargo besar di bagian utara landasan pacu Bandara Pulau Sokotra pada 16 Februari lalu. Indikasi awal menunjukkan bahwa pesawat tersebut kemungkinan adalah pesawat angkut militer C-17.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa dalam beberapa minggu terakhir, sebuah pesawat kecil dengan panjang sayap kurang dari 25 meter secara rutin mendarat di bandara tersebut dan hanya berhenti dalam waktu singkat sebelum kembali lepas landas.

Kehadiran UEA di Sokotra telah menjadi isu kontroversial sejak 2015, bahkan sempat beredar laporan bahwa Pemerintahan pro-Saudi di Yaman telah menyewakan pulau strategis ini kepada UEA selama 99 tahun.

Situasi di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb semakin memanas, dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi aktif mencari cara untuk menghadapi ancaman dari Yaman. Diskusi di Washington menunjukkan bahwa opsi militer serius sedang dipertimbangkan, baik dalam bentuk operasi kontra-terorisme konvensional maupun serangan besar terhadap infrastruktur militer Yaman.

Di sisi lain, para pemimpin Yaman telah memberikan peringatan keras kepada AS, Arab Saudi, dan sekutunya untuk tidak gegabah dalam mengambil langkah militer. Eskalasi ini berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas dan menambah ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, peran Uni Emirat Arab dalam konflik ini juga patut dicermati, terutama dengan adanya aktivitas militer mencurigakan di Pulau Sokotra. Kehadiran UEA yang semakin mencolok di wilayah tersebut menimbulkan pertanyaan tentang agenda jangka panjangnya dalam perang Yaman.

Seiring berkembangnya situasi ini, masa depan keamanan di Laut Merah dan Teluk Aden masih menjadi tanda tanya besar. Apakah AS dan sekutunya akan melanjutkan strategi konfrontasi? Ataukah mereka akan mencari jalan keluar diplomatik sebelum konflik semakin meluas?

Sumber: Farsnews Agency

Tags: