Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Reaksi Tegas Hamas terhadap Tipu Daya Baru Israel dalam Kasus Gencatan Senjata

POROS PERLAWANAN – Salah satu pemimpin Hamas, Mahmoud Mardawi, dengan tegas menolak proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat dan Israel terkait perpanjangan tahap pertama gencatan senjata tanpa melanjutkan ke tahap kedua. Menurutnya, satu-satunya cara untuk membebaskan tahanan Israel adalah dengan menuntaskan kesepakatan yang ada, memasuki tahap kedua, dan akhirnya mencapai gencatan senjata permanen.

Menurut laporan kantor berita Tasnim pada Minggu 2 Maret, rezim Zionis, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, terus melakukan sabotase terhadap transisi ke tahap kedua perjanjian gencatan senjata. Menanggapi pernyataan kantor Netanyahu mengenai gencatan senjata sementara selama Ramadan dan Idul Fitri, Mardawi menegaskan bahwa Israel berulang kali menghindari kewajibannya dalam perjanjian yang telah ditandatangani dan terus menunda pelaksanaan gencatan senjata yang telah disepakati.

Mardawi menambahkan bahwa taktik penundaan dan tipu daya dalam pelaksanaan kesepakatan tidak hanya menghambat pembebasan tahanan Israel, tetapi juga memperpanjang penderitaan mereka. Jika Israel tidak ditekan untuk memenuhi kewajibannya, para tahanan akan terus berada dalam bahaya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa stabilitas di Kawasan hanya dapat dicapai melalui kepatuhan penuh terhadap perjanjian gencatan senjata dan implementasi tahap kedua. Langkah ini mencakup negosiasi untuk mencapai gencatan senjata permanen, penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza, rekonstruksi Gaza, serta finalisasi perjanjian pertukaran tahanan yang telah disepakati sebelumnya.

Pernyataan Resmi Israel dan Perkembangan Terkini

Pernyataan Mardawi ini muncul setelah kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan pascapertemuan keamanan yang panjang, bahwa Israel menerima kerangka umum proposal dari Steve Whitcock, utusan khusus Presiden Amerika Serikat untuk kawasan tersebut. Proposal tersebut mencakup gencatan senjata sementara selama bulan Ramadan dan perayaan Pesach (Paskah Yahudi).

Menurut kantor Netanyahu, dalam hari pertama perpanjangan perjanjian, setengah dari tahanan Israel—baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal—harus dibebaskan. Jika kesepakatan mengenai gencatan senjata permanen tercapai, seluruh tahanan Israel lainnya juga akan dibebaskan.

Israel menyatakan kesiapannya untuk memperpanjang gencatan senjata selama Ramadan dan Paskah, dengan syarat Hamas membebaskan setengah dari tahanan Israel. Namun, tanpa menyebut berbagai pelanggaran yang telah dilakukan oleh Israel, kantor Netanyahu justru menuduh Hamas sebagai pihak yang melanggar perjanjian. Israel juga menegaskan bahwa mereka tetap berhak melanjutkan perang setelah hari ke-42 gencatan senjata jika negosiasi tidak membuahkan hasil.

Media Israel: Perubahan Sikap terhadap Perjanjian

Beberapa media berbahasa Ibrani melaporkan adanya perubahan sikap Israel terkait tahap kedua perjanjian.

Situs berita Walla menyebut bahwa Israel secara terbuka telah mundur dari tahap kedua kesepakatan dan kini lebih berfokus pada usulan Whitcock untuk memperpanjang gencatan senjata selama Ramadan.

Sementara itu, Channel 12 televisi Israel melaporkan bahwa proposal Whitcock sebenarnya hanya memperpanjang tahap pertama perjanjian tanpa masuk ke tahap kedua. Meski Netanyahu secara retoris menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perang setelah gencatan senjata, laporan media mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki rencana konkret untuk melakukannya.

Penolakan Tegas Hamas terhadap Proposal Baru

Laporan media juga menunjukkan bahwa Hamas telah menolak proposal Whitcock mengenai perpanjangan gencatan senjata selama Ramadan. Hamas menilai proposal tersebut sebagai upaya penipuan dari Amerika Serikat dan Israel, yang bertentangan dengan komitmen mereka dalam perjanjian gencatan senjata.

Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya, negosiasi tahap kedua seharusnya dilakukan selama pelaksanaan tahap pertama. Namun, Israel dinilai telah secara sengaja menggagalkan proses ini, sehingga perundingan untuk solusi jangka panjang kembali menemui hambatan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *