Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Pemuda Suriah dan Perlawanan terhadap Rezim Takfiri Al-Jolani

POROS PERLAWANAN – Perkembangan di masa depan akan menunjukkan bahwa pemuda Suriah yang bersemangat tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kelemahan internal dan agresi eksternal. Mereka memiliki potensi untuk mengubah dinamika di lapangan.

Pada Kamis, 6 Maret 2025, beberapa media lokal di Suriah melaporkan bahwa pasukan perlawanan di wilayah pesisir telah menyergap pasukan kelompok teroris Haiat Tahrir al-Sham dan menewaskan sedikitnya lima anggota mereka. Setelah insiden ini, konflik bersenjata di Latakia, Tartus, dan Homs mencapai puncaknya. Dalam bentrokan ini, pasukan perlawanan berhasil merebut beberapa barak, pos pemeriksaan, dan pusat pemerintahan, serta menangkap sejumlah elemen Takfiri.

Eskalasi Konflik di Latakia dan Sekitarnya

Di sisi lain, elemen di bawah komando Jolani menjalankan kebijakan pembunuhan di Latakia dan desa Alawite, Jableh. Tentara bayaran ini berusaha menerapkan darurat militer dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Brigade pesawat tak berawak “Shahin,” dengan dukungan Turki, digunakan untuk menekan pengunjuk rasa Suriah, dan penggunaan senjata ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah negara. Menurut Al-Arabiya, pasukan di bawah komando Jolani dikirim dari Idlib dan Damaskus ke wilayah barat Suriah untuk merebut kembali kendali.

Menurut laporan terbaru, bentrokan sengit terjadi di dekat Rumah Sakit Ibn Sina di Latakia antara Pasukan Populer Suriah dan kelompok Takfiri. Sumber-sumber Ibrani melaporkan bahwa lebih dari 70 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam 24 jam pertama konflik. Tekanan terhadap warga Alawi di wilayah pesisir begitu besar sehingga banyak orang berkumpul di depan pangkalan Hmeimim dan menuntut Rusia untuk melindungi warga sipil.

Beberapa analis percaya bahwa kelompok teroris Haiat Tahrir al-Sham mungkin menargetkan komunitas Alawi setelah gagal mengatasi minoritas Kurdi dan Druze dalam upaya mereka mempertahankan akses ke Laut Mediterania. Ada pula dugaan bahwa propaganda Takfiri sengaja memanfaatkan situasi ini untuk menciptakan musuh internal guna menutupi kelemahan mereka dan membangun aliansi buatan.

Frustrasi Rakyat Suriah terhadap Pemerintahan Teroris

Suriah merupakan negara yang terbentuk di bawah pengaruh perjanjian Sykes-Picot dan sejak awal telah mengalami ketegangan antara mayoritas dan minoritas. Sejak awal pendiriannya di bawah mandat Prancis, kesenjangan ini terus dimanfaatkan oleh aktor regional dan transnasional untuk memperluas pengaruh mereka di Suriah. Rezim Baath berhasil menahan sebagian besar campur tangan asing dan memungkinkan Suriah beroperasi dalam lingkungan regionalnya, khususnya di Lebanon, Yordania, dan Palestina yang diduduki. Namun, saat ini Suriah berada di ambang disintegrasi, dan peristiwa mendatang dapat mengubah peta negara ini untuk selamanya.

Kelompok teroris Haiat Tahrir al-Sham gagal menghadapi ancaman teritorial, sementara masalah ekonomi yang berkepanjangan dan kurangnya pelonggaran sanksi menyebabkan masyarakat umum mulai memprotes. Rakyat menuntut pertanggungjawaban dari para penguasa baru di Damaskus. Meskipun Suriah menghadapi berbagai tantangan ekonomi, pemerintahan Bashar al-Assad tetap memiliki otoritas yang didukung oleh pasukan perlawanan, sehingga berhasil menahan rezim Zionis agar tidak melanggar batas merah yang ditetapkan berdasarkan perjanjian tahun 1974. Kini, rakyat Suriah menyaksikan pendudukan faktual di bagian selatan negara mereka.

Reaksi Internasional dan Ketegangan Regional

Di perbatasan timur, hampir seperlima wilayah Suriah masih berada di bawah kendali Syrian Democratic Forces (SDF). Dalam kondisi ini, masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan mereka. Sementara itu, kelompok teroris Haiat Tahrir al-Sham, yang menyadari ketidakmampuannya memenuhi janji-janji mereka, semakin mengandalkan penindasan terhadap rakyat.

Sementara itu, Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, berjanji untuk menginvestasikan 20 miliar dolar AS di Suriah, sementara Turki telah menggunakan sebagian besar sumber daya ekonomi dan logistiknya untuk mendukung stabilitas pemerintahan Golani. Baru-baru ini, pembangkit listrik terapung dari Turki dikirim ke pesisir Suriah untuk meningkatkan kepuasan publik terhadap pemerintahan baru dengan menghubungkannya ke jaringan listrik negara.

Pada saat yang sama, Uni Eropa mencabut beberapa sanksi terhadap Suriah untuk menunjukkan dukungan mereka kepada penguasa baru Damaskus dan membentuk opini publik bahwa masa depan negara lebih menjanjikan dibandingkan masa lalu. Arab Saudi dan negara-negara lain juga menjadi tuan rumah bagi pemimpin Haiat Tahrir al-Sham. Riyadh bahkan berjanji memasok minyak ke kilang-kilang Suriah. Meskipun ada dukungan asing terhadap rezim Golani, rakyat masih belum mendapatkan solusi nyata terhadap masalah ekonomi dan keamanan mereka, dan masih menunggu tindakan konkret.

Pandangan ke Depan

Keberhasilan atau kegagalan pemberontakan masyarakat Alawi di wilayah pesisir Suriah bergantung pada reaksi minoritas Kurdi, Druze, dan Kristen. Untuk melawan “kaum sentralis Damaskus,” minoritas Suriah berusaha memulihkan sistem federal di seluruh negeri. Jika mereka dapat mencapai koordinasi yang efektif, peluang mereka untuk berhasil dalam jangka menengah akan meningkat.

Jika kelompok-kelompok minoritas yang tinggal di perbatasan Suriah ingin mendapatkan lebih banyak hak dalam dialog nasional atau Dewan Konstitusi, atau bahkan mencapai tingkat kemandirian politik dan militer yang lebih besar, mereka harus bersatu dan berkoordinasi.

Stabilitas Suriah di Ujung Tanduk

Meskipun pemerintah Arab dan Barat berupaya menampilkan Suriah sebagai negara yang kembali stabil, kenyataannya, negara ini lebih rentan daripada sebelumnya terhadap fragmentasi akibat persaingan geopolitik yang ketat. Dalam beberapa pekan terakhir, Dewan Militer Sweida berhasil mengusir sisa-sisa pasukan Golani dari provinsi tersebut dan menyerukan otonomi. Kini, pertanyaannya adalah sejauh mana pemerintahan Golani mampu mempertahankan kendalinya atas wilayah timur dan selatan selama konflik internal ini.

Apa pun hasilnya, perkembangan di masa depan akan menunjukkan bahwa pemuda Suriah yang bersemangat tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kelemahan internal dan agresi eksternal. Mereka memiliki potensi untuk mengubah dinamika politik dan militer di lapangan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *