Jejak para Mata-mata Israel di Kehidupan Sehari-hari Warga AS
POROS PERLAWANAN – Riset yang dilakukan situs berita Mintpress News menunjukkan, berbagai jaringan raksasa mantan mata-mata Israel beraktivitas di pos-pos penting dan vital AS.
Dilaporkan Fars, pos-pos tersebut mencakup korporasi-korporasi besar teknologi dan media sosial, seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon. Bahkan TikTok, yang kerap dikenal sebagai sebuah aplikasi China, juga mempekerjakan para mantan mata-mata Israel untuk mengelola pekerjaan-pekerjaannya. Pusat-pusat tersebut adalah tempat orang-orang itu bisa memengaruhi kebijakan dan kontrol program-program yang mengatur akses pengguna AS ke informasi.
Berdasarkan laporan Linkedin, puluhan mantan anggota Unit 8200 Israel bekerja untuk Google. Unit ini dikenal dengan misi memata-matai para figur penting dan terkenal. Tujuannya adalah memeras dan mengintimidasi mereka demi kepentingan Rezim Zionis.
Meta, yang membawahkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp, juga mempekerjakan sejumlah besar mantan perwira Unit 8200.
Dalam laporan yang dirilis Mintpress pada Oktober 2024 silam, banyak mantan sosok intelijen penting Israel yang menulis berita-berita yang menjadi konsumsi harian warga AS. Beberapa dari mereka bekerja di media-media utama AS, seperti CNN, Axios, dan New York Times.
Sebagai contoh, jurnalis Axios di Gedung Putih, Barak Ravid serta mantan produser CNN, Shachar Peled dan Tal Heinrich, adalah para lulusan Unit 8200.
Sebelum kehadiran Peled di CNN, stasiun televisi AS itu telah mempekerjakan Heinrich dari tahun 2014 hingga 2017 sebagai produser lapangan dan kantornya di Quds. Perlu dicamkan bahwa saat ini, Heinrich bekerja sebagai Jubir PM Israel, Benyamin Netanyahu.
Para mantan anggota Unit 8200 juga menciptakan program Pegasus, yang digunakan untuk mengawasi para jurnalis, aktivis, dan para pimpinan negara-negara di dunia.
Mantan Jubir Militer Israel, Tamar Michaelis bekerja sebagai koresponden Timteng untuk CNN. New York Times juga mempekerjakan mantan perwira intelijen Angkatan Udara Israel, Anat Schwartz.
