Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Operasi Militer AS di Yaman akan Ciptakan ‘Vietnam dan Afghanistan Baru’ untuk Negeri Paman Sam

POROS PERLAWANAN – Eskalasi militer Amerika Serikat (AS) di Yaman menandai babak baru dalam konflik regional yang semakin kompleks. Dengan serangan udara terbaru terhadap ibu kota Sanaa dan berbagai provinsi lainnya, Washington tampaknya semakin memperdalam keterlibatannya dalam perang yang sudah berlangsung selama satu dekade. Namun, di tengah intensifikasi serangan, banyak analis, termasuk penulis Amerika Garry Nolan, memperingatkan bahwa intervensi ini dapat berakhir dengan kegagalan tragis bagi AS—serupa dengan pengalaman pahit di Vietnam dan Afghanistan.

Serangan udara AS ke Yaman telah menewaskan dan melukai ratusan orang. Artikel yang ditulis oleh Nolan di Iceland News yang terbit pada Sabtu (22/3), menyoroti bahwa langkah militer ini tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga memperburuk persepsi global terhadap AS sebagai kekuatan yang bertindak tanpa strategi jangka panjang.

Washington: Dari Mediator menjadi Pelaksana Kebijakan Israel?

Serangan-serangan AS di Yaman disebut sebagai respons terhadap serangan Ansharullah (Houthi) terhadap kapal-kapal Israel di Laut Merah, yang merupakan reaksi atas meningkatnya blokade Israel terhadap Gaza. Namun, menurut Nolan, keputusan AS untuk turun tangan secara militer justru menunjukkan bahwa Washington semakin tunduk pada agenda Tel Aviv.

Dalam artikelnya, Nolan mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menggambarkan serangan tersebut sebagai operasi “anti-pembajakan, kekerasan, dan terorisme.” Namun, ia menilai bahwa retorika ini mengaburkan realitas yang lebih besar: bahwa AS kini lebih berperan sebagai eksekutor kepentingan Israel daripada sebagai mediator global yang netral.

Ia juga menyoroti keterlibatan Inggris dalam operasi ini, dengan mengacu pada kapal tanker yang dikerahkan di zona konflik. Hal ini, menurutnya, mengingatkan pada pola kolusi NATO dalam berbagai perang sebelumnya yang didorong oleh kepentingan geopolitik AS.

“Washington kini berada di garis depan sebagai aktor yang secara terbuka menegakkan kebijakan militer Israel,” tulis Nolan. “Strategi ini bukan hanya berisiko memperburuk konflik di Timur Tengah, tetapi juga dapat menjadi titik balik bagi kredibilitas global AS.”

Skenario Vietnam: Mengapa Yaman Bisa Menjadi Perang yang Tidak Bisa Dimenangkan oleh AS?

Nolan kemudian menarik paralel antara situasi di Yaman dengan Perang Vietnam, konflik yang berakhir dengan kekalahan besar bagi AS setelah bertahun-tahun menghabiskan sumber daya dalam perang yang tidak memiliki strategi keluar yang jelas.

Ia mengutip Abdullah bin Amir, pejabat senior di Kementerian Pertahanan Yaman, yang mengingatkan bahwa koalisi militer Arab, didukung oleh Barat, telah melancarkan perang terhadap Yaman dengan keyakinan bahwa mereka bisa mengalahkan Ansharullah dalam dua minggu. Namun, setelah lebih dari satu dekade, Yaman tidak hanya bertahan tetapi juga berhasil meningkatkan kemampuan militernya.

Menurut Nolan, AS kini berisiko mengulangi kesalahan yang sama: terlibat dalam konflik yang membutuhkan investasi besar, tanpa prospek kemenangan yang jelas. Ia mencatat bahwa fase terbaru dari perang ini menunjukkan bahwa Yaman telah berhasil bertahan dari serangan drone, jet tempur, dan pengintaian militer AS. Bahkan, ia mencatat bahwa ada indikasi bahwa Israel juga memberikan dukungan peralatan militer ke zona konflik melalui Siprus.

“Yaman telah menjadi Vietnam di Semenanjung Arab,” tegas Nolan. “Sama seperti yang terjadi di Vietnam, Afghanistan, dan Irak, Washington terjebak dalam ilusi bahwa kekuatan militer dapat menundukkan perlawanan yang berakar kuat.”

Menurutnya, meskipun AS memiliki keunggulan teknologi militer, keunggulan tersebut tidak serta-merta berarti kemenangan ketika menghadapi kelompok yang memiliki tekad tinggi dan dukungan kuat dari masyarakat setempat.

Kemunafikan Internasional dan Runtuhnya Ilusi Imperialisme

Nolan juga mengkritik standar ganda komunitas internasional dalam merespons konflik ini. Ia menyoroti bahwa Mahkamah Internasional di Den Haag yang dengan cepat menuntut pemimpin-pemimpin dari negara-negara kecil di Afrika dan Asia, tetap diam terhadap serangan Israel di Gaza dan eskalasi militer AS di Yaman.

“Kemunafikan ini tidak lagi tersembunyi,” tulisnya. “Semua negara memahami bahwa Yaman akan menjadi contoh lain di mana ilusi imperialisme hancur dengan sendirinya.”

Ia menekankan bahwa serangan terhadap Yaman hanya akan semakin memperkuat posisi kelompok perlawanan di kawasan, dan pada akhirnya, Washington akan menghadapi dilema besar: terus melanjutkan keterlibatannya dalam perang yang tidak bisa dimenangkan, atau mundur dengan konsekuensi diplomatik yang memalukan.

Perang yang Menghancurkan Citra dan Posisi Strategis AS

Dengan meningkatnya eskalasi tanpa solusi diplomatik yang jelas, Nolan menyimpulkan bahwa intervensi AS di Yaman akan berakhir dengan kegagalan besar. Ia menyoroti bahwa Washington gagal memahami bahwa kekuatan militer tidak dapat mengalahkan perlawanan yang memiliki basis ideologi dan dukungan masyarakat yang kuat.

Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa keunggulan teknologi dan kekuatan militer saja tidak cukup untuk memastikan kemenangan dalam perang asimetris. AS telah belajar pelajaran ini di Vietnam, Afghanistan, dan Irak. Yaman, menurut Nolan, tampaknya akan menjadi medan perang berikutnya yang mempermalukan Washington di panggung dunia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *