Pemerintahan Trump Mainkan Trik ‘Polisi Baik-Polisi Jahat’ Terkait Perundingan dengan Iran
POROS PERLAWANAN – “Sikap Donald Trump terkait program nuklir Iran adalah melenyapkan program itu sepenuhnya. Iran harus menghentikan program nuklirnya dengan cara yang bisa dilihat seluruh dunia.”
Dilansir Fars, ini adalah statemen Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz, pada Minggu 23 Maret. Statemen ini ia sampaikan hanya 2 hari setelah penasihat lain Trump, Steve Witkoff, mengirim sinyal yang bertolak belakang dengan Waltz.
Pada Jumat 21 Maret lalu, Witkoff dalam sebuah wawancara menyatakan, AS berusaha “menghilangkan kesalahpahaman” soal program nuklir Iran dan membuat sebuah “program yang kebenarannya bisa diuji.” Tujuannya adalah memastikan bahwa “bahan-bahan nuklir” Iran tidak digunakan untuk membuat senjata.
Sebagian besar pernyataan Witkoff mengesankan bahwa seolah Trump telah mundur dari sikap irasionalnya soal program nuklir Iran dan siap berunding.
Kendati sebagian pihak memandang statemen-statemen Witkoff sebagai buah dari minimnya pengalaman di bidang diplomasi dan politik, namun dengan satu analisis sederhana saja bisa dipahami bahwa Witkoff “memilih kalimat-kalimatnya untuk mengirim sebuah pesan bermakna.”
Hal ini bisa disimpulkan dari analisis jurnalis senior Wall Street Journal, Laurence Norman, terhadap pernyataan-pernyataan Witkoff.
Norman selama lebih dari satu dekade bergelut dengan program nuklir Iran. Melalui akunnya di X, Norman mencuit bahwa frasa “bahan-bahan nuklir” yang digunakan Witkoff mengirim pesan bahwa “Iran tidak hanya bisa melanjutkan pengayaan uranium, tapi juga berhak menyimpan bahan-bahan nuklir.”
Ilustrasi yang ada di sini adalah 2 pejabat Pemerintahan Trump yang masing-masing mengirim pesan kontradiktif terkait perundingan dengan Iran: Salah satunya berkata bahwa program nuklir Iran harus dimusnahkan. Sementara yang lain mengirim sinyal untuk menyimpan infrastruktur nuklir di kebun hijau.
Apakah ini perbedaan 180 derajat antara 2 pejabat dalam Pemerintahan yang sama? Jika kita mengetahui konsep perundingan dari kacamata AS, jawaban pertanyaan ini adalah “tidak.”
Pada hakikatnya, Waltz dan Witkoff sedang memainkan trik “polisi baik-polisi jahat”, yang selalu digunakan AS dalam perundingan untuk menekan pihak lain.
Dalam skenario ini, peran orang-orang seperti Waltz, yang dikesankan sebagai figur keras dan tak mudah dibujuk, adalah mengingatkan konsekuensi tiadanya perundingan kepada pihak lain. Dengan cara ini, ia menekan pihak lain untuk terlibat dalam lapangan permainan yang sudah dirancang AS.
Di sisi lain, pintu kebun hijau dibuka oleh Witkoff dengan tujuan untuk; pertama, mengangkat beban tanggung jawab penolakan diplomasi dari pundak AS dan mengalihkannya ke pundak pihak lain; kedua, membuat ekonomi Iran bergantung kepada perundingan; ketiga, menciptakan 2 kubu di dalam Iran dan memaksa publik menekan Pemerintah Iran untuk berunding dengan AS.
Salah satu poin penting yang bisa disimpulkan dari buku “Art of Sanctions” karya Richard Nephew adalah: tawaran perundingan itu sendiri adalah bagian dari tekanan sanksi yang harus digunakan.
Nephew, yang merupakan salah satu desainer utama sanksi-sanksi AS, berpendapat bahwa memaksakan sanksi tanpa menawarkan perundingan atau cara-cara mencabut sanksi bukan hanya tidak bisa mewujudkan tujuan AS, tapi bisa saja memberikan hasil sebaliknya. Sebab, alih-alih menyulut amarah rakyat negara target kepada Pemerintahan mereka untuk mengatasi sanksi, sanksi malah akan membuat rakyat menyadari motif-motif jahat pemberi sanksi.
Meski demikian, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Nephew, ketika sanksi berbenturan dengan tembok “tekad dan keteguhan negara target”, ia tidak bisa memberikan hasil yang diinginkan AS dan akan kehilangan efeknya seiring perjalanan waktu.
