Petinggi Ansharullah: Trump Bertindak Bodoh dan Sama Sekali Tidak Paham Sejarah Yaman
POROS PERLAWANAN – Seorang anggota Kantor Politik Ansharullah, Ali al-Qahoum dalam sebuah wawancara mengatakan, Donald Trump tidak mengerti sejarah Yaman. Dia telah berbuat bodoh karena menyerang Yaman.
“Agresi AS ke Yaman gagal. Agresi ini tidak akan mewujudkan tujuan-tujuan setani Trump. Melanjutkannya juga percuma dan sia-sia belaka,” kata al-Qahoum kepada Sputnik, Fars melaporkan.
“Agresi brutal ini hanya mendatangkan kesialan dan kerugian bagi AS dan rakyatnya, juga akan menyebabkan meluasnya konflik di Kawasan. Trump akan membayar mahal lantaran ceroboh, bodoh, dan tidak memehami posisi serta kekuatan Yaman. Trump tidak memahami kekuatan prevensi pertahanan Yaman dalam membela kedaulatan, kemerdekaan, rakyat, dan aset-asetnya.”
“Trump dan Pemerintahannya tidak tahu sama sekali soal sejarah Yaman dan kondisinya saat ini. Sepanjang sejarah hingga sekarang, Yaman telah melawan banyak kerajaan dan negara. Yaman merusak proyek imperiliasme mereka. Yaman memiliki opsi-opsi menyakitkan, mengguncangkan, kuat, dan mengejutkan. AS tidak bisa membayangkannya. Dengan izin Allah, Yaman akan menang. Ini adalah sebuah hakikat yang terbantahkan,” tandas al-Qahoum.
Agresi AS ke Yaman Masih Berlanjut
Stasiun televisi al-Mayadeen melaporkan, AS telah membombardir kawasan Saqain dan Sahar di Provinsi Saadah di utara Yaman.
Koalisi militer Pemerintahan Joe Biden sebelum ini gagal mencegah Yaman menghalangi kapal-kapal terkait Israel melintasi di Laut Merah. Meski demikian, Pemerintahan Donald Trump masih saja melanjutkan kebijakan tersebut.
Menlu AS, Mark Rubio pada Minggu 23 Maret mengatakan, Pemerintahan Trump bertekad menghidupkan kembali “kebebasan lalu lintas di Laut Merah” dengan cara mengambil tindakan militer terhadap Ansharullah.
Sejak akhir pekan lalu, AS memulai serangan besar terhadap Yaman. Hingga kini, agresi AS telah menewaskan 53 orang dan melukai 98 lainnya.
Di lain pihak, Angkatan Bersenjata Yaman juga tidak tinggal diam dan terus menargetkan kapal induk AS di Laut Merah dengan serangan rudal dan drone.
