Setelah Menipu Rakyat Amerika, Trump Akhirnya Ketipu Sama Lukisannya Sendiri
POROS PERLAWANAN – Dalam dunia politik yang penuh intrik dan drama, Donald Trump kembali membuktikan dirinya sebagai maestro kontroversi. Kali ini, bukan kebijakan luar negeri atau perang dagang yang jadi sorotan, melainkan… sebuah lukisan. Ya, Presiden ke-45 Amerika Serikat itu tampaknya menemukan musuh terbesarnya dalam goresan kuas di atas kanvas; sebuah potret dirinya sendiri.
Trump, pria yang terkenal obsesif dengan refleksi dirinya (baik di cermin maupun angka survei yang menguntungkannya), tiba-tiba menolak pantulan wajahnya yang terpampang di Gedung Capitol Colorado. Ia beraksi seperti koki bintang Michelin yang jijik pada masakannya sendiri, atau aktor yang meminta adegan terbaiknya dipotong dari film. Dengan amarah khasnya, ia menyatakan lukisan itu sebagai “yang terburuk” dan mendesak agar segera diturunkan. Ironi yang menggemaskan: sang ahli pencitraan justru menolak citra dirinya sendiri.
Menurut Apnews (24/3), Trump mengkritik potretnya di gedung DPR Colorado dan mengklaim bahwa “banyak warga” juga protes. Tapi pertanyaannya: apa yang begitu mengerikan dari lukisan itu? Apakah seniman Sarah Boardman menyelipkan ekspresi kebingungan ala deer-in-headlights yang tak bisa ia sangkal? Atau mungkin kuas Boardman terlalu jujur, menangkap detail yang bahkan Trump sendiri enggan akui? Entahlah. Yang jelas, sang presiden baru sadar: tidak semua hal tentang dirinya layak dipajang.
Yang lebih absurd, Trump memuji potret Barack Obama—karya Boardman yang sama—sebagai “menakjubkan.” Sebuah pengakuan langka yang nyaris terdengar seperti pujian kepada rival abadinya. Apakah ini bukti kekaguman terselubung? Mengingat ia pernah menjiplak kebijakan kesehatan Obama (meski dibungkus retorika anti-Obamacare), dan kerap terobsesi membandingkan diri dengannya, mungkin saja. Atau jangan-jangan ini strategi licik untuk membuat kita semua bertanya: Apakah Trump diam-diam ingin menjadi Obama?
Tentu, ini bukan sekadar soal estetika. Seperti biasa, Trump menyulut drama politik dengan menuduh Gubernur Colorado Jared Polis—seorang Demokrat—sebagai dalang di balik “penghinaan” ini. Baginya, memajang potret yang tidak Insta-worthy adalah pengkhianatan tertinggi dalam sejarah seni rupa politik.
Tuntutannya mencerminkan dinamika yang lebih luas. Colorado, yang konsisten memilih Demokrat dalam lima pemilu terakhir, jelas bukan basis pendukungnya. Mungkin ia merasa wajahnya tak pantas menghiasi dinding mereka. Atau, dalam lubuk hati terdalam, ia menyadari kebenaran yang pahit: bahwa bahkan Trump pun kadang muak dengan Trump.
Di balik hiruk-pikuk ini, dunia seni rupa tak sengaja menemukan bentuk kritik seni paling cerdas abad ini: seorang presiden yang membangun karier lewat pencitraan, justru ketakutan menghadapi citra yang tak bisa ia kendalikan. Trump, yang gemar menempelkan namanya di menara pencakar langit dan universitas, tiba-tinya menganggap kehadirannya di Capitol Colorado sebagai penghinaan. Inilah ironi terbesar: sang manipulator ulung akhirnya dikalahkan oleh kanvas.
Mungkin kelak akan ada lebih banyak potret Trump; di museum, buku sejarah, atau bahkan penjara federal. Tapi satu hal pasti: sekeras apa pun ia berusaha menghapusnya, ia tak akan bisa melukis ulang kenyataan. Seperti kata pepatah, “Seni meniru kehidupan“; dan dalam kasus ini, kehidupan sedang menertawakan sang “seniman” paling narcissistic: Donald J. Trump sendiri.[PP/MT]
