Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Pengakuan Lobi Pro-Perang tentang Kegagalan Tragis Serangan AS di Yaman

POROS PERLAWANAN – Satu lembaga lobi yang dekat dengan rezim Israel di AS, yang selama ini gencar mendorong perang melawan Yaman, kini menganalisis alasan kegagalan serangan pemerintah Donald Trump.

Lembaga think tank bernama “Foundation for Defense of Democracies” (FDD) dalam sebuah artikel yang ditulis oleh analis AS “Mark Ghert” mengingatkan bahwa “Donald Trump” awalnya mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran, tetapi pemerintahannya hanya beberapa hari kemudian mundur dan malah menawarkan “cabang zaitun” kepada Teheran.

Trump beberapa minggu lalu dalam sebuah pernyataan di platform “Truth Social” mengatakan, setiap serangan dari “Houthi Yaman” akan dianggap sebagai serangan dari “pemimpin Iran” dan akan menghadapi respons AS. Namun, hanya dua hari kemudian, tanpa merujuk pada sumber yang dapat diverifikasi, Trump mengklaim bahwa “laporan yang masuk” menunjukkan Iran telah mengurangi dukungannya kepada Yaman.

Mark Ghert, dalam menjelaskan tentang “cabang zaitun” yang diklaim ditawarkan pemerintah Trump kepada Iran, menulis bahwa “Steve Witkoff”, perwakilan pemerintah Trump untuk kawasan Asia Barat, beberapa hari kemudian menawarkan negosiasi dengan Iran mengenai program nuklirnya.

Ghert menyebut kebijakan yang kontradiktif ini sebagai hasil dari perpecahan di dalam tim Donald Trump terkait Iran dan Yaman.

Dia menulis, salah satu kubu dalam pemerintahan Trump terdiri dari orang-orang seperti Wakil Presiden “JD Vance” atau penasihat presiden “Stephen Miller”, yang secara ideologis cenderung “isolationis”.

Dalam menjelaskan pandangan “isolationis” ini, dia menulis bahwa pejabat-pejabat dalam kelompok ini sangat skeptis terhadap keterlibatan konflik di kawasan Asia Barat dan percaya bahwa bahkan jika Israel berkonflik dengan Iran, AS harus tetap menjaga jarak.

Sementara itu, kubu lain diisi oleh orang-orang seperti Menteri Pertahanan “Pete Hegseth”, yang memiliki “pendekatan lebih konfrontatif” terhadap Yaman dan ingin menggunakan kekuatan AS di Timur Tengah untuk melindungi Israel dari Iran.

Terlepas dari pertentangan internal ini, Ghert berpendapat bahwa serangan AS di Yaman kecil kemungkinannya dapat menimbulkan kerusakan serius bagi Ansarullah (Houthi). Untuk mendukung argumen ini, dia merujuk pada karakteristik masyarakat Yaman.

Dia menulis: “Menyerang Houthi, yang memberikan keuntungan strategis besar kepada Iran, tidak mungkin bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang yang serius. Bagaimanapun, masyarakat agraris seperti Yaman dapat dengan cepat memulihkan infrastruktur mereka.”

Analis FDD ini mengingatkan, sepuluh tahun lalu, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mencoba memaksa Houthi untuk “berperilaku lebih baik” dengan membombardir mereka, tetapi meskipun memiliki kekuatan udara yang besar dan dukungan AS, upaya itu “gagal secara tragis.”

Foundation for Defense of Democracies adalah think tank pendukung rezim Israel yang danainya berasal dari Tel Aviv dan individu-individu berpengaruh yang dekat dengan rezim tersebut.

Anggota think tank ini, termasuk CEO-nya “Mark Dubowitz”, pernah menjadi penasihat Donald Trump di masa awal kepresidenannya dan membantu pemerintah AS merancang kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran.

Lobi pro-Israel ini bersama “Dubowitz” telah masuk dalam daftar sanksi Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran. FDD dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong politisi AS untuk menyerang Yaman.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *