Kisah Seorang Syahid yang Melarang Ibunya Menonton Berita
POROS PERLAWANAN – Ketika Syed Mahdi berangkat ke Suriah, ia tidak memberi tahu ibunya bahwa dirinya bekerja di Konsulat Iran. Ia hanya berkata, “Ibu, jangan pernah menonton berita. Saya akan selalu menelepon ibu.” Begitulah kenangan yang diungkapkan Fatemeh Sadat, ibu dari Syahid Syed Mahdi Jaladati.
Perjalanan Seorang Pejuang
Syed Mahdi Jaladati lahir setelah 12 tahun pernikahan orang tuanya yang penuh doa dan harapan. Ayahnya, Syed Rasul, adalah seorang keturunan Nabi Muhammad s.a.w. Di tengah keputusasaan, ia bernazar untuk pergi ke Masjid Jamkaran selama 40 minggu demi mendapatkan seorang putra. Doanya terkabul ketika Fatemeh Sadat hamil dan melahirkan Syed Mahdi tepat pada malam Nisfu Sya’ban.
Sejak kecil, Syed Mahdi tumbuh dalam lingkungan religius. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di masjid, mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Dari membantu korban bencana hingga menggalang dana bagi mereka yang membutuhkan, ia selalu hadir di garis depan. Kecintaannya pada Islam dan pengabdiannya kepada Ahlulbait membentuk tekadnya: menjadi pembela tempat-tempat suci.
Jalan Menuju Syahadah
Seiring bertambahnya usia, Syed Mahdi mengembangkan minat pada teknologi dan melanjutkan pendidikan di bidang komputer di Sekolah Teknik Ahmad Roshan. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan cita-cita lain.
“Saya ingin bergabung dengan Pasukan Quds, karena di sanalah saya lebih dekat dengan kesyahidan,” ungkapnya kepada ibunya.
Ketika akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Suriah untuk misi perlindungan tempat suci, ia merahasiakan pekerjaannya di Konsulat Iran. Kepada ibunya, ia hanya berpesan agar tidak menonton berita dan berjanji akan selalu menghubungi keluarga.
Detik-detik Terakhir
Pada 1 April 2024, dua hari sebelum kepulangannya, serangan udara Israel menghantam Konsulat Iran di Suriah. Telepon Fatemeh Sadat berdering berkali-kali. Berita mengenai serangan itu menyebar cepat, tetapi ia tetap berharap putranya selamat. Ia menunggu telepon yang dijanjikan, namun kali ini dering itu tidak pernah datang.
“Saya tidak menonton berita karena dia berpesan begitu. Saya hanya menunggu teleponnya, tetapi kali ini telepon itu tidak pernah datang,” ujarnya dengan suara bergetar.
Hari itu, pintu rumahnya diketuk oleh rekan-rekan putranya. Saat melihat mereka, ia langsung tahu: Syed Mahdi telah syahid.
Warisan Seorang Pejuang
Setelah kepergiannya, teman-temannya mengaktifkan kembali ponselnya dan menemukan sebuah pesan darinya:
“Setiap kali kalian melihat foto seorang syahid, kirimkanlah dua shalawat—satu untuk kesehatan Imam Mahdi, dan satu lagi untuk syahid itu. Semoga satu pahala kecil juga diberikan untukku.”
Syed Mahdi Jaladati adalah satu dari sekian banyak pejuang yang mengorbankan hidupnya demi keyakinan dan perlindungan tempat-tempat suci. Kisahnya tidak hanya menjadi kenangan bagi keluarganya, tetapi juga inspirasi bagi mereka yang mengikuti jejak perjuangannya.
