Negosiasi Langsung vs Tidak Langsung: Dua Skenario Trump Hadapi Iran
POROS PERLAWANAN — Sejak kemenangan Revolusi Islam 1979, Iran terus menjadi sasaran utama strategi tekanan dari berbagai Pemerintahan Amerika Serikat. Dari sanksi ekonomi hingga ancaman militer, Washington konsisten menganggap Iran sebagai penghalang utama bagi agenda geopolitiknya dan sekutunya, terutama Israel.
Meski demikian, Iran menyatakan tidak pernah tunduk pada tekanan, sekaligus menyatakan kesiapan untuk membuka ruang dialog dalam kondisi yang tepat. Dalam wawancara eksklusif bersama Mehr News Agency yang terbit pada Kamis 10 April, analis politik regional dan sosiolog asal Lebanon, Dr. Talal Atrisi mengupas secara mendalam dinamika ancaman dan diplomasi antara Teheran dan Washington, khususnya pada masa Pemerintahan Donald Trump.
Strategi Dua Kaki: Ancaman dan Dialog
Menurut Atrisi, semua presiden AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, telah menggunakan pola ancaman untuk menekan Iran. Namun, strategi Trump dinilai lebih eksplisit dalam menyelaraskan kebijakan AS dengan ambisi ekspansionis Israel, terutama dalam proyek “Timur Tengah Baru” yang digagas Benyamin Netanyahu.
“Trump mengancam Iran, namun di saat bersamaan mengajukan dialog. Ini adalah bentuk tekanan psikologis. Di balik pesan negosiasi, selalu ada ancaman militer,” kata Atrisi.
Iran, lanjutnya, merespons dengan hati-hati: menolak negosiasi di bawah tekanan, namun tidak menutup pintu terhadap dialog tidak langsung. “Iran tidak menolak prinsip pembicaraan, tetapi mereka bersikeras bahwa dialog harus berlangsung dalam kondisi setara dan tanpa tekanan,” ujar Atrisi.
Dua Skenario Trump: Diplomasi atau Perang
Dalam pandangan Atrisi, terdapat dua skenario utama yang dipertimbangkan Presiden Trump saat itu:
1. Skenario pertama adalah membuka jalur diplomasi, karena Trump dinilai lebih tertarik pada keuntungan finansial dan politik ketimbang keterlibatan militer jangka panjang.
2. Skenario kedua adalah perang terbuka, yang berpotensi mengobarkan Kawasan dan menimbulkan kerugian besar secara ekonomi dan geopolitik.
“Skenario pertama lebih mungkin diambil, meskipun dengan syarat Iran tidak dikendalikan melalui ancaman,” jelas Atrisi.
Perbedaan Negosiasi Langsung dan Tidak Langsung
Menanggapi surat Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Teheran dengan tegas menolak bentuk negosiasi langsung yang sarat tekanan. Iran mengusulkan model negosiasi tidak langsung melalui pihak ketiga, seperti Oman, guna mengurangi tensi dan membangun kepercayaan bertahap.
“Iran tidak percaya pada Pemerintahan Trump, yang sebelumnya telah menarik diri sepihak dari kesepakatan nuklir JCPOA 2015,” kata Atrisi, menggarisbawahi bahwa negosiasi tidak langsung sebagai bentuk fleksibilitas heroik ala Iran—mengelola krisis tanpa menyerah pada tekanan.
Iran juga menetapkan dua prasyarat utama:
1. Negosiasi tidak boleh menyasar kekuatan Militer Iran, termasuk program misil.
2. Tidak boleh mengganggu hubungan strategis Iran dengan sekutunya di Kawasan.
Ketegangan Regional dan Respons Iran
Meningkatnya tekanan terhadap Iran memicu kekhawatiran luas di Kawasan, terutama dari negara-negara tetangga seperti Yordania, Arab Saudi, dan Qatar. Menurut Atrisi, negara-negara ini sadar bahwa keterlibatan mereka dalam konflik, bahkan secara tidak langsung seperti memberi akses udara kepada AS, akan menjadikan mereka target serangan balasan Iran.
“Iran telah menyampaikan peringatan tegas bahwa setiap bentuk partisipasi, akan menjadikan negara tersebut sebagai mitra agresi dan target sah,” ungkapnya.
Di sisi lain, pernyataan seperti yang disampaikan oleh Penasihat Pemimpin Tertinggi, Ali Larijani, tentang kemungkinan mengembangkan senjata nuklir, dianggap sebagai sinyal keras atas ketahanan Iran menghadapi ancaman.
Negosiasi Tidak Langsung: Jalan Tengah yang Mungkin
Menurut Atrisi, peluang negosiasi tidak langsung tetap terbuka, dan Oman disebut-sebut sebagai mediator potensial. Jika proses ini berjalan, itu menandakan bahwa opsi perang akan dikesampingkan, setidaknya untuk sementara.
“Negosiasi ini akan berjalan lambat dan kompleks, tapi sinyal positif sudah terlihat,” katanya.
Atrisi menambahkan bahwa jika dialog terjadi, hal ini akan mengejutkan Tel Aviv yang berharap AS terseret dalam konflik bersenjata.
Situasi yang berkembang menempatkan Iran dan AS di persimpangan krusial. Di satu sisi, Tekanan Maksimum AS belum menunjukkan hasil yang diharapkan; di sisi lain, Iran tetap memainkan peran sentral dalam Poros Perlawanan regional dan mempertahankan strategi diplomasi keras.
“Perundingan bisa menjadi pintu keluar, tapi hanya jika dilakukan dalam kerangka kesetaraan dan penghormatan terhadap kedaulatan,” tutup Atrisi.
