Muscat, Medan Senyap Diplomasi: Iran-AS Uji Dasar Perundingan di Tengah Ketidaksetaraan Global
POROS PERLAWANAN – Di balik panggung diplomasi yang dibalut kesopanan protokoler, babak baru perundingan tidak langsung antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat kembali digelar, kali ini di Ibu Kota Oman, Muscat, pada Sabtu 12 April.
Pertemuan yang berlangsung nyaris tanpa sorotan media Barat ini menjadi titik uji awal dari apa yang disebut kedua pihak sebagai upaya untuk merumuskan dasar negosiasi. Namun, bagi mereka yang memahami sejarah panjang ketimpangan dan tekanan dalam hubungan Iran–AS, Muscat bukan sekadar ruang netral; ia adalah panggung ujian bagi kredibilitas “perdamaian” dalam sistem dunia yang tak setara.
Pernyataan Oman: Suasana Bersahabat, Tujuan Mengikat
Sebagai tuan rumah sekaligus mediator utama, Oman memanfaatkan posisi lamanya sebagai penyeimbang diplomasi regional. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, dalam pesan terbuka melalui platform X, menyampaikan: “Saya bangga mengumumkan bahwa hari ini di Muscat, kami menjamu Menteri Luar Negeri Iran Dr. Sayyid Abbas Araghchi dan perwakilan Presiden AS Steve Witkoff, dan kami memediasi untuk memulai proses dialog dan negosiasi dengan tujuan bersama untuk menyelesaikan perjanjian yang adil dan mengikat.”
Dalam bahasa yang mengedepankan harmoni dan kehati-hatian khas Oman, Al-Busaidi menekankan suasana yang “bersahabat” dan menggambarkan pertemuan tersebut sebagai momen awal dari konvergensi pandangan: “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua kolega saya atas interaksi ini, yang berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan menghasilkan konvergensi pandangan dan akhirnya tercapainya perdamaian, keamanan, dan stabilitas regional dan global.”
Ia menutup dengan janji diplomatik yang menunjukkan Oman belum ingin melepaskan perannya sebagai simpul negosiasi: “Kami akan melanjutkan kerja sama kami dan melakukan upaya lebih lanjut untuk mencapai tujuan penting ini.”
Namun, di balik kata-kata halus ini, siapa pun yang mengenal peta kekuasaan global tahu: keberhasilan perundingan bukan hanya bergantung pada suasana bersahabat, tapi pada kesediaan kekuatan hegemonik untuk mengakui kesetaraan dalam martabat dan hak.
Araghchi: Hampir Capai Dasar Negosiasi, Tapi Kami Tidak Akan Berunding Demi Berunding
Mewakili Republik Islam Iran, Menteri Luar Negeri Sayyid Abbas Araghchi tampil dalam nada yang realistis sekaligus tegas. Ia menjelaskan rincian teknis dan atmosfer umum pembicaraan: “Kami telah melakukan pembicaraan tidak langsung selama dua setengah jam berkat upaya Menteri Luar Negeri Oman yang terhormat, Tuan Busaidi, yang secara rutin melakukan kunjungan bolak-balik di antara kedua delegasi.”
“Saya kira ada sekitar empat putaran pembicaraan dan pandangan kedua belah pihak diungkapkan.”
“Pertemuan itu berlangsung sekitar dua setengah jam, dan menurut saya, pertemuan pertama berlangsung konstruktif dan berlangsung dalam suasana tenang dan saling menghormati.”
“Tidak ada bahasa yang tidak pantas yang digunakan dan para pihak menunjukkan komitmen mereka untuk memajukan perundingan sampai tercapai kesepakatan yang diinginkan oleh kedua belah pihak dan didasarkan pada kedudukan yang setara.”
Pernyataan Araghchi mengandung penegasan penting: bahwa kesopanan formal bukanlah pengganti substansi. Dalam dunia pasca-JCPOA, Iran tidak lagi tertarik dalam diplomasi basa-basi yang tak berpijak pada pencabutan sanksi dan pengakuan atas hak-hak nuklirnya.
Araghchi menekankan bahwa putaran selanjutnya akan digelar Sabtu depan: “Kami sepakat bahwa putaran kedua akan diadakan Sabtu depan, dan dalam pertemuan berikutnya kami akan memasuki kerangka umum yang dapat disepakati dan melihat sejauh mana kami dapat melanjutkan proses ini.”
Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa Iran tak akan terjebak dalam permainan waktu: “Baik kita maupun pihak lain tidak menginginkan perundingan yang sia-sia, yang hanya membuang-buang waktu dan hanya ingin memperbaiki dialog demi dialog.”
“Pihak Amerika juga mengatakan bahwa keinginan mereka adalah kesepakatan yang dapat dicapai dalam waktu sesingkat mungkin. Ini tidak akan mudah dan akan memerlukan kemauan yang diperlukan dari kedua belah pihak.”
Pernyataan ini menyiratkan satu hal: tidak ada ilusi tentang “kemauan politik” dari Washington yang seringkali tersandera oleh tekanan domestik, lobi korporasi militer, dan entitas Zionis. Namun, Iran tetap membuka ruang jika ada keseriusan untuk bergerak menuju kesepakatan setara.
Araghchi mencatat bahwa mitra negosiasinya kali ini tampak lebih menunjukkan tekad: “Mitra kami telah berupaya keras menunjukkan keinginannya untuk mencapai kesepakatan yang adil dan tepat. Kita perlu mengevaluasi putaran negosiasi ini.”
“Pembicaraan akan diadakan pada tingkat yang sama Sabtu depan dan tidak akan berlangsung di sini. Tentu saja, Oman akan menjadi tuan rumah, tetapi bisa saja di tempat lain.”
“Suasana pertemuan hari ini sedemikian rupa sehingga menjamin kelanjutan dan kesinambungan ini. Kami akan mencoba memasukkannya dalam agenda negosiasi pada pertemuan berikutnya, dan tentu saja akan ada jadwal di sebelahnya. Ini adalah bentuk-bentuk negosiasi yang akan ditentukan sendiri, tetapi yang penting adalah konten dan dasar yang kita gunakan untuk bernegosiasi.”
Dalam penutupnya, Araghchi menegaskan bahwa dasar substansial hampir tercapai, dan itu akan menjadi tolok ukur kemajuan nyata.
“Dalam pertemuan ini, saya kira kita sudah hampir mencapai dasar untuk negosiasi. Jika dasarnya dapat diselesaikan pada pertemuan berikutnya, saya kira kita telah mencapai kemajuan besar dan kita dapat memulai pembicaraan nyata berdasarkan dasar itu.”
Terakhir, ia mengklarifikasi interaksi di akhir perundingan yang sempat memicu spekulasi tak berdasar.
“Itu merupakan diskusi yang sangat normal. Saat kami hendak pergi, kedua delegasi bertemu satu sama lain dan kami berbicara selama beberapa menit. Hal itu sudah menjadi hal yang lumrah, dan kami senantiasa menjunjung tinggi sopan santun diplomatik dalam berurusan dengan diplomat Amerika, dan kali ini pun, kami hanya sekadar menyapa dan kemudian meninggalkan tempat itu. Itu bukan sesuatu yang luar biasa.”
Diplomasi Bukan Jalan Tunduk, Tapi Medan Pertarungan Martabat
Dari Muscat, dunia menyaksikan kembali bahwa diplomasi bukan semata soal senyuman dan tatap muka. Di balik segala kesopanan protokol, perundingan Iran–AS tetap merupakan arena benturan logika: antara hegemoni yang ingin mempertahankan struktur sanksi global, dan sebuah negara merdeka yang menolak untuk bernegosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.
Jika Muscat adalah panggung, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kesepakatan nuklir, melainkan definisi keadilan dan kesetaraan dalam sistem internasional yang selama ini condong pada kekuatan, bukan kebenaran.
