Kartini Palestina: Hijab, Darah, dan Martabat di Tengah Reruntuhan Gaza
POROS PERLAWANAN – Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai lambang emansipasi perempuan. Ia menulis dari balik jeruji adat dan kolonialisme, menyuarakan mimpi-mimpi tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan martabat manusia. Namun Hari Kartini bukan sekadar nostalgia terhadap surat-surat abad ke-19. Hari ini, ia menuntut kita membaca ulang makna perjuangan perempuan dalam konteks dunia yang sedang terbakar. Hingga kemudian, di antara abu-abu reruntuhan Gaza, kita menemukan makna itu: dalam sosok seorang Ibu yang berdiri tegak di tengah kehancuran, menggendong dua anak di bawah lengannya, dengan hijab basah oleh darahnya sendiri.
Antara Kartini dan Gaza: Emansipasi dalam Dimensi Geopolitik
Emansipasi, dalam narasi Kartini, adalah pembebasan dari belenggu struktural. Di era kolonial, itu berarti melawan sistem patriarki feodal dan penjajahan Belanda yang menggandeng agama dan tradisi untuk menundukkan perempuan. Di Gaza hari ini, belenggu itu hadir dalam bentuk yang lebih brutal: blokade ekonomi, agresi militer, penghancuran rumah, dan pembantaian keluarga secara sistematis.
Namun di balik bentuknya yang berbeda, substansi perjuangannya serupa: perempuan yang menolak tunduk pada sistem penindasan yang telah dirancang untuk memadamkan mereka sejak awal. Seorang ibu di Palestina bukan hanya melahirkan anak, tapi juga menanamkan daya hidup di tengah reruntuhan. Ia tidak punya hak istimewa untuk sekadar terluka, apalagi mengeluh. Ia tahu, tangisnya bisa menggetarkan jiwa anak-anaknya yang belum mengerti politik, tetapi sudah melihat lebih banyak kematian daripada hitungan usia mereka sendiri.
Emansipasi hari ini tak bisa dilepaskan dari analisis struktural dan geopolitik. Apa yang dihadapi para perempuan Palestina adalah sistem penjajahan modern yang kompleks; menggabungkan militerisme Israel, pendanaan Barat, propaganda media global, dan diamnya institusi internasional. Maka, menyebut mereka “tangguh” saja tidak cukup. Kita harus menyebut mengapa mereka dipaksa menjadi tangguh, dan siapa yang merancang penderitaan itu.
Ketika Martabat Menjadi Bentuk Tertinggi Emansipasi
Dalam banyak representasi budaya, perempuan sering dilihat sebagai simbol kasih sayang atau pengorbanan pasif. Namun Ibu di Gaza membalikkan narasi ini: dia bukan simbol, dia adalah subyek aktif dalam perlawanan. Ia tidak hanya menyelamatkan nyawa anaknya, tapi juga menyelamatkan makna kemanusiaan di tengah dunia yang telah gagal menjadi manusia.
Ibu itu tidak menangis, bukan karena tidak merasa sakit, tetapi karena ia tahu bahwa air matanya tidak akan mampu menyelamatkan anak-anaknya. Ia menolak untuk hancur, karena ia tahu bahwa kehancuran dirinya adalah kemenangan bagi mesin-mesin perang yang ingin menghapus eksistensinya sebagai manusia. Dalam dirinya, terkandung sebuah filsafat: bahwa bertahan hidup dengan martabat adalah bentuk tertinggi dari melawan.
Kartini menulis: “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Namun di Gaza, gelap itu bukan hanya metaforis. Itu nyata! Berupa pemadaman listrik, blokade pangan, runtuhnya rumah sakit, dan langit yang dibelah bom. Namun Ibu di sana terus mencari terang, bukan dari pemerintah, bukan dari dunia, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Kemudian, dari tangannya yang menggenggam dua anak itulah , kita tahu: terang itu belum padam.
Hari Kartini: Dari Seremoni Nasional ke Solidaritas Global
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan Hari Kartini sebatas peringatan seremoni: lomba kebaya, bunga-bunga, dan retorika “perempuan hebat”. Emansipasi sejati adalah keberanian untuk berdiri bersama mereka yang sedang diinjak dunia. Jika Kartini hidup hari ini, ia mungkin tak hanya bakal berbicara soal pendidikan perempuan, tapi juga tentang kolonialisme modern, tentang etika internasional yang mati, dan tentang tanggung jawab perempuan-perempuan terdidik untuk tidak diam.
Hari Kartini harus menjadi panggung bagi narasi-narasi yang disembunyikan. Kita harus menjadikan wajah-wajah perempuan Palestina sebagai bagian dari sejarah global emansipasi: bukan sebagai korban yang dikasihani, tetapi sebagai pejuang yang harus dikenang dan didukung.
Ibu Palestina Itu adalah Kartini Kita Hari Ini
Ibu-ibu di Gaza, kita tidak tahu siapa namanya. Kita tidak tahu dari kamp pengungsian mana ia berasal. Namun kita tahu bahwa dia ada. Kita tahu bahwa langkahnya yang pincang, peluhnya yang berdarah, dan ketegarannya yang sunyi, adalah pesan kepada dunia: bahwa martabat manusia tidak bisa dibom. Bahwa ibu sebagai simbol kasih, dan sebagai pondasi peradaban, adalah benteng terakhir ketika semua hukum dan institusi gagal melindungi kehidupan.
Dalam dirinya, Kartini tak lagi sekadar cerita masa lalu. Ia hidup hari ini, di Gaza. Ia tidak menulis surat kepada sahabat Eropa, tetapi menulis sejarah dengan tubuh dan jiwanya. Maka di Hari Kartini ini, mari kita ukir namanya dalam hati kita, dan dalam sejarah perlawanan manusia: Dia adalah Kartini yang tak pernah disebut. Namun dari langkahnya yang teguh, kita belajar: kebebasan tidak pernah diberikan. Ia harus diperjuangkan.
