Mengaku Diperdaya Putin, Trump: Mungkin Dia Hanya Ingin Mempermainkan Saya
POROS PERLAWANAN — Dalam babak terbaru sandiwara politik Barat, Donald Trump yang sering membanggakan kedekatannya dengan para tiran dunia, kini mengeluhkan bahwa dirinya telah diperdaya oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Dalam sebuah unggahan di jejaring sosial Truth Social pada Sabtu 26 April, Trump menulis: “Tidak ada alasan bagi Putin untuk menembakkan rudal ke wilayah sipil, kota, dan desa selama beberapa hari terakhir”.
Lebih jauh, ia melanjutkan: “Ini membuat saya berpikir bahwa mungkin ia tidak benar-benar ingin menghentikan perang, mungkin ia hanya ingin mempermainkan saya. Dia harus ditangani secara berbeda, melalui ‘perbankan’ atau ‘sanksi sekunder’?”
Keluhan tidak familiar ini muncul setelah pertemuan Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Roma; sebuah pertemuan yang terjadi di sela-sela prosesi pemakaman Paus, seolah mempertegas kesuraman diplomasi Barat yang kehilangan arah dan wibawa.
Kremlin, dengan ketenangan khasnya, mengumumkan bahwa Putin telah menyampaikan kesiapan Moskow untuk berunding tanpa prasyarat dalam pertemuan dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa Kiev juga membuka pintu untuk gencatan senjata, menyebut pembicaraannya dengan Zelensky sebagai “sangat positif”.
Namun ironi besar mengemuka: Trump, simbol keangkuhan Amerika yang selama bertahun-tahun mengeklaim bisa “menjinakkan” para pemimpin dunia, kini mengakui dirinya dijadikan alat permainan oleh Putin. Sebuah pengakuan yang membongkar rapuhnya kepercayaan diri “Hansip Dunia” di panggung global.
Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Ukraina mengungkapkan bahwa Trump dan Zelensky sepakat melanjutkan negosiasi di sela-sela pemakaman Paus. Gedung Putih mengonfirmasi pertemuan tersebut, menyebutnya “sangat produktif”, namun menahan rincian dari publik, seolah menyimpan kenyataan getir di balik retorika klise.
Foto-foto yang beredar menunjukkan Trump dan Zelensky berbicara akrab tanpa kehadiran ajudan. Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak insiden Februari lalu, ketika Trump menegur Zelensky secara terbuka karena dianggap kurang berterima kasih atas dukungan Washington.
Kini, setelah merasa “diperdaya”, Trump mungkin mulai memahami bahwa dalam dunia nyata perlawanan dan penjajahan, rasa hormat tak pernah dibeli dengan cek kosong dan peluru berpandu.
