Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

AS Coba-coba Gertak Iran: Waktu Kian Terbatas untuk Mencapai Kesepakatan

Pembohongan Publik Ala Trump Terus Berlanjut: ‘Era Keemasan AS’ Sudah Dimulai!

POROS PERLAWANAN — Pernyataan Perwakilan Amerika Serikat di PBB kembali menggema dengan retorika lama yang tak lekang oleh nalar: bahwa waktu semakin menipis untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Republik Islam Iran. Ancaman lama itu kini dibungkus ulang dengan jubah diplomasi, tetapi isinya tetap: tekanan, intimidasi, dan pengingkaran terhadap kedaulatan bangsa lain.

Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu 30 April, disebutkan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan tidak langsung dalam beberapa pekan terakhir. Namun alih-alih menunjukkan kesungguhan dalam membangun perdamaian, Washington justru kembali menunjukkan wataknya yang sebenarnya, menggunakan perundingan sebagai kedok bagi tekanan dan penggiringan opini global.

Perwakilan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dorothy Shea, dalam sidang Dewan Keamanan, kembali menghidupkan warisan kebijakan “Tekanan Maksimum” ala Donald Trump terhadap program nuklir damai Iran. Ia menyampaikan ancaman terselubung yang dibungkus dalam kalimat diplomatik: “Amerika Serikat lebih memilih solusi melalui negosiasi, tetapi waktunya terbatas. Jika Iran tidak menghentikan program nuklirnya, maka ia harus bertanggung jawab.”

Tuduhan itu terdengar seperti lelucon usang bagi dunia yang sadar. Iran secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata bertujuan damai untuk energi, riset, dan kemandirian nasional. Namun tudingan terus datang, utamanya dari Israel, sekutu utama AS, yang ironisnya adalah satu-satunya rezim di Kawasan yang secara nyata memiliki persenjataan nuklir tanpa pengawasan internasional, dan menolak menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Bukan hanya bawahannya, Donald Trump sendiri, dalam wawancara dengan Time Magazine pekan lalu, turut menyuarakan “optimisme palsu” tentang kemungkinan kesepakatan. Namun ia segera menunjukkan taringnya: “Jika negosiasi gagal, Amerika Serikat akan memimpin aksi militer terhadap Iran.”

Dengan kata lain, bahasa kekerasan tetap menjadi fondasi utama kebijakan luar negeri Washington. Diplomasi hanyalah selimut tipis bagi ambisi ekspansionis dan arogansi global. Inilah wajah sejati “perundingan” versi Barat; menjulurkan tangan kanan untuk berjabat, sembari menggenggam belati tajam di tangan kiri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *