Hamas: Rafah, Mimpi Buruk yang Bakal Hantui Israel Selamanya
POROS PERLAWANAN – Hamas pada Rabu 30 April menanggapi klaim Benyamin Netanyahu soal “kemenangan pasti dan hancurnya faksi-faksi Perlawanan di Rafah.” Menurut Hamas, klaim PM Israel ini adalah tanda kegilaan kekalahan dan fantasi kemenangannya.
Diberitakan Fars, Hamas menyatakan bahwa statemen Netanyahu, yang menjadi buronan Mahkamah Den Haag, adalah upaya sia-sia untuk menutupi kegagalan Militer Zionis di Gaza. Juga merupakan usaha untuk memaksa penduduk Israel menerima fantasi yang tidak memiliki realita di luar. Hamas menegaskan, seluruh dusta Netanyahu rontok di hadapan keteguhan rakyat dan Perlawanan Gaza. Semua tujuannya juga gagal meski Israel masih melanjutkan pembantaian, penghancuran, dan blokade.
Sembari menyatakan bahwa perlawanan akan berlanjut hingga Rezim Pendudukan diusir, Hamas menambahkan bahwa Rafah, yang diklaim oleh Netanyahu sudah tidak ada lagi Perlawanan di sana, akan tetap menjadi simbol keteguhan dan kemuliaan. Pendudukan Rafah juga akan menjadi mimpi buruk yang bakal terus menghantui Israel; persis seperti kejadian-kejadian yang dialami Militer Zionis di Bet Hanoun, Gaza, Khan Younis, dan al-Shujaiyah.
Di akhir statemennya, Hamas meminta dari masyarakat dunia dan kaum merdeka untuk menolong rakyat Palestina. Mereka diharapkan untuk mendukung keteguhan rakyat Palestina dan hak mereka untuk menentukan nasib. Hamas juga mendesak masyarakat dunia segera bertindak demi menghentikan genosida dan perang kelaparan yang diberlakukan Israel atas warga Gaza.
Jenderal pensiunan Israel, Yitzhak Barik beberapa hari lalu menyatakan, minimnya peralatan dan sumber daya manusia membuat Militer Israel hanya bisa menghancurkan 10 persen terowongan-terowongan Gaza.
Menurutnya, lantaran kekurangan personel, Militer Israel terpaksa melancarkan serangan udara terbatas, alih-alih menduduki Gaza sepenuhnya. Hal ini menyebabkan perang atas Hamas tidak bisa dituntaskan dalam waktu singkat.
Ia menegaskan, berlanjutnya perang yang tidak berguna akan berujung kepada bencana. Sebab, Militer tidak mampu menghancurkan Hamas atau membebaskan para tawanan. Israel juga kehilangan dukungan internasional dan pada akhirnya akan dijatuhi embargo ekonomi.
