Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Presiden Al-Mashat: Fase Pertama Agresi AS Gagal Total di Hadapan Ketangguhan Yaman

POROS PERLAWANAN – Presiden Dewan Politik Tertinggi Yaman sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Marsekal Lapangan Mahdi Al-Mashat menegaskan bahwa fase pertama dari agresi Amerika Serikat terhadap Yaman telah digagalkan secara telak. Pernyataan strategis ini disampaikannya dalam pertemuan dengan jajaran tinggi Militer, termasuk petinggi Kementerian Pertahanan, Staf Umum, dan para Komandan Wilayah, pada Minggu 4 Mei sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Saba.

“Dengan rahmat dan pertolongan Allah Swt, Yaman telah berhasil menggagalkan fase pertama dari agresi Amerika terhadap Tanah Air kita,” tegas Al-Mashat.

Presiden Al-Mashat mengungkapkan bahwa sistem intelijen Militer Amerika Serikat masih terekspos secara aktif oleh pasukan Yaman. Keberhasilan menargetkan kapal induk USS Harry S. Truman dengan presisi tinggi, serta menjatuhkan jet tempur F/A-18 dari geladaknya, menjadi bukti konkret bahwa superioritas Militer AS mulai kehilangan taringnya di hadapan strategi militer rakyat Yaman.

“Kami tahu bahwa mereka tidak akan pernah mampu menghentikan kebocoran informasi Militer mereka ke tangan para mujahidin Yaman,” ujar Al-Mashat, dengan nada yang menggetarkan ruang.

Yaman, Benteng Terakhir Dunia Arab dan Islam

Dalam pernyataannya yang sarat makna historis dan spiritual, Al-Mashat menyampaikan apresiasi kepada seluruh perwira dan prajurit di berbagai lini tempur. Ia juga menyampaikan salam hormat kepada rakyat Yaman dan Pemimpin Revolusi, Sayyid Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi.

“Ketika seluruh dunia terdiam dalam kompromi dan ketakutan, hanya suara Yaman dan rakyatnya yang masih menggema lantang. Suara senjata kalian di darat, laut, dan udara adalah satu-satunya suara kebenaran yang tersisa,” tegasnya.

Menurutnya, kegelisahan musuh terhadap posisi Yaman saat ini lebih besar dari yang dapat dibayangkan. Yaman menjadi satu-satunya bangsa yang berdiri kokoh menghadang arus proyek Zionis di Kawasan.

“Yaman adalah batu sandungan terakhir bagi infiltrasi Zionisme ke jantung dunia Islam.”

Pertempuran Akidah: Antara Panji Yahudi dan Pedang Imam Ali

Presiden Al-Mashat tidak hanya memandang agresi ini sebagai konflik geopolitik belaka, melainkan sebagai benturan akidah yang menentukan masa depan umat.

“Hari ini, ini bukan sekadar pertempuran militer. Ini adalah pertarungan antara Yahudi dan Muslim. Kalian hanya punya dua pilihan: berdiri di bawah panji kaum Yahudi atau bersama kami di bawah panji dan pedang Imam Ali bin Abi Thalib a.s.”

Ia menekankan bahwa keterlibatan langsung AS dan entitas Zionis adalah berkah besar karena memperjelas posisi dan menjernihkan barisan.

“Semakin najis musuhmu, semakin besar janji pertolongan dari langit. Semakin kotor tujuan mereka, semakin tinggi derajat kemenangan yang akan Allah karuniakan kepada kita,” tandasnya.

Yaman Siaga Total: Semua Lembaga Bersama Front Perlawanan

Al-Mashat mengungkapkan bahwa Pemerintah telah mengaktifkan seluruh protokol darurat untuk menyokong pertempuran ini sebagai pertempuran seluruh bangsa. Seluruh lembaga negara ditempatkan dalam siaga penuh untuk memastikan bahwa garis depan tidak pernah berdiri sendiri.

“Semua orang bersama kalian, dan Tuhan Yang Mahakuasa akan bersama kita. Kemenangan datang hanya dari-Nya.”

Ia menyerukan kepercayaan penuh kepada Allah dan kepemimpinan revolusioner Sayyid Abdul-Malik, sebagai poros utama yang menopang semangat jihad nasional.

Pesan untuk Zionis: Pulanglah Sebelum Terlambat

Di akhir pernyataannya, Presiden Al-Mashat menyampaikan ultimatum tegas kepada entitas Zionis: Yaman tidak akan menghentikan operasi militer terhadap Wilayah Pendudukan hingga agresi terhadap Gaza benar-benar dihentikan dan pengepungan dicabut sepenuhnya.

“Jangan percaya pada Netanyahu. Jangan percaya pada Trump. Mereka menjanjikan kehancuran. Kami tidak akan menghentikan operasi kami sebelum Gaza benar-benar bebas dari cengkeraman blokade.”

Ia menyampaikan pesan terakhir kepada para pemukim Zionis: “Masih ada waktu untuk kembali ke tanah asal kalian. Pulanglah… sebelum kalian tidak punya waktu lagi.”

Pernyataan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan regional, khususnya di Laut Merah dan Laut Arab, di mana Angkatan Bersenjata Yaman terus memperluas cakupan operasi sebagai bentuk solidaritas tak tergoyahkan terhadap rakyat Palestina yang tengah dibantai Israel di Jalur Gaza.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *