Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

‘Berita Positif’ Trump: Gencatan Senjata atau Negosiasi Bayangan Nuklir Iran?

‘Berita Positif’ Trump: Gencatan Senjata atau Negosiasi Bayangan Nuklir Iran?

POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah pernyataan yang disebutnya sebagai “salah satu yang paling positif dalam beberapa tahun terakhir”, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Selasa mengumumkan penghentian serangan militer negaranya terhadap Yaman, khususnya terhadap pasukan Ansharullah (Houthi).

“Houthi telah menyampaikan bahwa mereka tidak ingin melanjutkan perang. Mereka berjanji tak akan lagi menyerang kapal-kapal, dan kami akan segera menghentikan pemboman terhadap posisi mereka,” ujar Trump menjelang keberangkatannya ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Namun di balik narasi perdamaian yang diklaim Trump, tersembunyi urgensi strategis yang tak bisa ditutupi dengan retorika murahan. Menurut laporan CNN pada Rabu 7 Mei, gencatan senjata ini tak lepas dari langkah diplomatik intensif antara Amerika Serikat, Oman, dan Ansharullah. Tujuannya: membangun momentum baru untuk membuka kembali jalur negosiasi terkait kesepakatan nuklir Iran yang sempat dibekukan di era Trump.

Mengutip sumber dari Departemen Pertahanan AS, jaringan tersebut menyebut bahwa Militer AS telah menerima perintah resmi untuk menghentikan seluruh serangan terhadap pasukan Ansharullah. Proses ini merupakan hasil perundingan rahasia yang digelar pekan lalu antara Washington dan perwakilan Ansharullah, dengan mediasi dari Muscat dan dipimpin oleh Steve Witkoff, nama yang lebih dikenal sebagai tokoh bisnis ketimbang diplomat.

Namun, seperti biasa, setiap “pesan damai” ala Amerika tak bisa dilepaskan dari kalkulasi kekuasaan. Gencatan senjata ini terjadi bukan karena Amerika Serikat menang perang, melainkan karena ia dipaksa untuk mundur. Pukulan-pukulan akurat dari Perlawanan Yaman terhadap kapal-kapal Zionis dan sekutunya di Laut Merah telah membalik logika dominasi: dari operasi sepihak yang dulu dibungkus dalih “menjaga stabilitas Kawasan”, kini berubah menjadi simbol kegagalan hegemonik AS.

Dalam konteks ini, keputusan Trump untuk “menghentikan” serangan bukanlah kemurahan hati Amerika, melainkan pengakuan atas kekuatan realitas baru: bahwa langit Yaman bukan lagi tempat uji coba bom-bom Zionis, dan Laut Merah telah berubah menjadi medan ujian bagi siapa pun yang hendak menguji nyali Perlawanan.

Gencatan senjata ini juga menyingkap gejala perubahan arah konstelasi regional: Arab Saudi yang mulai melirik rekonsiliasi dengan Iran, Oman yang memainkan peran mediasi strategis, dan Ansharullah yang kini memegang kendali moral dan militer di jantung Semenanjung Arabia.

Jadi, jika Trump menyebutnya sebagai “berita positif”, maka kita pun tahu bahwa yang ia maksud bukanlah damai sejati, melainkan semacam istirahat paksa dalam kekalahan.

Selanjutnya, seperti biasa, di balik senyum diplomasi Amerika, terselip skenario baru penaklukan yang sedang disusun di balik meja. Namun kali ini, mereka tahu: musuh yang mereka hadapi bukanlah boneka regional, tapi poros sejati dari perlawanan. [PP/MT]

Tags: