Radio Militer Israel: Trump Putuskan Hubungan dengan Netanyahu
POROS PERLAWANAN – Dalam perkembangan yang mencerminkan retaknya poros koalisi penjajah, Radio Militer Israel pada Kamis 8 Mei, melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah memutus komunikasi dengan Perdana Menteri rezim Zionis, Benyamin Netanyahu.
Sumber dari Militer Zionis mengungkapkan bahwa keputusan Trump dipicu oleh sikap Netanyahu dan lingkarannya yang dinilai “sombong” dan “berusaha mengelabui Trump” selama masa-masa genting hubungan AS-Israel.
Menurut laporan itu, Trump merasa dihina dan dimanfaatkan secara politis oleh Netanyahu, dan hubungan pribadi keduanya yang sebelumnya dikemas sebagai kemitraan ideologis penuh cinta telah membusuk akibat intrik internal dan kebohongan yang tak dapat lagi ditoleransi oleh kubu Trump.
Pendukung dekat Trump bahkan dikabarkan telah menyampaikan pesan langsung kepada Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, bahwa Trump menganggap Netanyahu sebagai sosok yang tidak bisa dipercaya, bahkan “bermain dua muka” terhadap Washington.
Keretakan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan global terhadap Israel atas agresinya di Gaza serta ketegangan antara AS dan kelompok-kelompok Perlawanan di Kawasan, termasuk Yaman.
Sementara mesin propaganda Zionis mencoba menutupi disintegrasi ini dengan klaim “koordinasi penuh”, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Trump yang pernah mengeklaim sebagai “Presiden paling pro-Israel dalam sejarah AS” mulai mengambil jarak dari Tel Aviv.
Namun demikian, Wakil Koordinator Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi menegaskan bahwa klaim konflik antara Amerika Serikat dan rezim Zionis merupakan salah satu kebohongan terbesar dalam sejarah. Menurutnya, entitas Zionis tak ubahnya markas militer Amerika di Kawasan, dan tentaranya merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata AS yang bahkan “tidak akan minum seteguk air pun tanpa izin Washington”.
Keretakan elite ini menambah bukti bahwa Pendudukan Israel, bahkan di mata para pendukungnya sendiri, kini bukan lagi sekutu yang “menguntungkan”, melainkan beban politik dan militer yang sulit dipikul.
