Ketika Bandit dan Bos Bertemu: Al-Sharaa Membungkuk, Trump Melempar Senyum di Riyadh
POROS PERLAWANAN – Dalam teater politik gurun, boneka transisi dan pengatur lakon bertatap muka, menyegel komedi kekuasaan atas reruntuhan negeri bernama Suriah. Ini adalah babak baru rekayasa politik Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden pemberontak yang menguasai Suriah, Ahmed al-Sharaa atau Abu Muhammad Al-Jolani, di Riyadh, Ibu Kota rezim Saudi yang selama ini menjadi tangan kanan imperialisme di Kawasan.
Pertemuan tersebut terjadi pada Rabu 14 Mei, hanya sehari setelah Trump mengumumkan secara terbuka bahwa ia akan mencabut sanksi ekonomi AS terhadap Suriah. Seorang pejabat Gedung Putih kepada AFP menyatakan bahwa pertemuan ini dilakukan menjelang KTT para pemimpin negara-negara Teluk, bagian dari tur regional Trump yang diselimuti motif dagang dan dominasi geopolitik.
Menariknya, kantor berita Turki Anadolu melaporkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS), Presiden pemberontak Suriah, dan Trump juga mengadakan pertemuan daring yang menandakan upaya intensif membentuk konsensus “baru” pasca-dekade intervensi dan destabilisasi.
Pertemuan Singkat, Sinyal Panjang
Menurut laporan The New York Times pada hari yang sama, pertemuan langsung antara Trump dan al-Sharaa hanya berlangsung selama 33 menit. Namun, durasi bukanlah segalanya. Dalam politik kekuasaan, simbolisme pertemuan itulah yang menjadi headline.
Satu hari sebelumnya, Trump dari Riyadh menyampaikan bahwa sanksi terhadap Suriah akan dicabut. Ia menyebut sanksi tersebut “brutal dan melumpuhkan”, serta mengeklaim bahwa “tidak lagi menjalankan fungsi penting”. Ia bahkan mengungkapkan harapan bahwa Pemerintahan Suriah yang baru akan “mencapai stabilitas”, sebuah frasa khas dari kamus intervensi Amerika Serikat.
“Pemerintahan saya telah mengambil langkah pertama menuju normalisasi hubungan antara Amerika Serikat dan Suriah, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade,” tegas Trump.
Bukan Sekadar Pertemuan, Tapi Reposisi Strategis
Trump memulai tur perdananya di Timur Tengah dengan kunjungan ke Riyadh, sebelum dijadwalkan melanjutkan ke Uni Emirat Arab dan Qatar untuk menyelesaikan berbagai kesepakatan perdagangan.
Menurut Reuters, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump “setuju untuk bertukar salam dengan al-Sharaa pada hari Rabu”. Pertemuan itu disebutkan telah disiapkan, meski dalam berbagai kesempatan Trump tampak menghindar dari menjelaskan secara langsung. “Saya kira begitu,” jawabnya singkat, ketika wartawan menanyakan soal kemungkinan bertemu al-Sharaa, seraya menganggukkan kepala saat meninggalkan Pusat Konferensi Internasional Raja Abdulaziz.
Media Israel seperti The Times of Israel dan Walla juga membenarkan bahwa pertemuan antara Trump dan Sharaa berlangsung di Riyadh.
Di Balik Retorika Damai: Perjanjian Persenjataan
Tak lama setelah pertemuan tersebut, Gedung Putih mengumumkan bahwa Trump dan MBS menandatangani Kemitraan Ekonomi Strategis, termasuk perjanjian di sektor energi, pertambangan, dan pertahanan. Lebih mengejutkan lagi, kedua belah pihak juga menyetujui kesepakatan senjata senilai 142 miliar Dolar AS, terbesar dalam sejarah hubungan Washington-Riyadh.
Trump menyebut investasi Arab Saudi sebesar 600 miliar Dolar AS di AS sebagai “komitmen bersejarah” yang menandai bahwa diplomasi dagang AS tetap tak terpisahkan dari skema militerisasi Kawasan.
Pencabutan Sanksi atau Pengakuan Terhadap Oposisi Rekayasa?
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Trump “serius ingin mencabut sanksi terhadap Suriah”, dengan alasan “langkah-langkah positif yang diambil oleh pemimpin Suriah”. Namun, langkah ini patut dibaca lebih dari sekadar diplomasi lunak. Ini adalah legitimasi terselubung terhadap figur al-Sharaa sebagai alternatif buatan terhadap Pemerintahan sah Suriah.
Washington pun menambahkan bahwa pencabutan sanksi tidak mensyaratkan pertemuan langsung antara Trump dan al-Sharaa, sebuah narasi pengaman untuk menutupi niat manipulatif di balik kebijakan tersebut.
Kembali ke Peta Lama, Dengan Wajah Baru
Pertemuan antara Trump dan Sharaa di Riyadh bukanlah peristiwa biasa. Ini adalah fragmen dari mozaik rekayasa kekuasaan pasca-perang, di mana AS berupaya mengatur ulang lanskap Suriah dan Timur Tengah dengan memasukkan “oposisi terpilih” ke meja diplomasi, didukung oleh poros Saudi-Turki.
Di saat rakyat Suriah masih bergulat dengan dampak agresi dan sanksi sepihak, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa imperialisme tak pernah benar-benar pergi; ia hanya mengganti kostum dan aktor utama.
