Masalahnya Sederhana: Amerika Serikat dan Israel Tidak Bisa Mengalahkan Yaman
POROS PERLAWANAN – Masalahnya sangat sederhana: Amerika Serikat dan Israel tidak bisa mengalahkan Yaman. Pernyataan ini bukan berasal dari pernyataan propaganda di Sanaa, tetapi muncul dari bibir jurnalis veteran rezim Zionis sendiri.
Adalah wartawan senior Yedioth Ahronoth, Ronen Bergman, yang dalam wawancara dengan Channel 12 Israel pada Sabtu 17 Mei, menyatakan dengan getir: “Kita tidak bisa mengalahkan orang Yaman. Mereka menimbulkan kerusakan besar terhadap kita dengan peralatan yang terbatas.”
Itulah pengakuan pahit dan jujur dari seorang analis militer terkemuka di negeri yang selama ini mengeklaim diri sebagai kekuatan tak terkalahkan di Timur Tengah. Kini, si “macan bertaring pedang” itu terguncang oleh perlawanan yang dilancarkan dari padang pasir miskin namun penuh martabat: Yaman!
Dari “Negara Arab Termiskin” Menjadi Mimpi Buruk Koalisi Imperialis
Selama bertahun-tahun, Yaman dijuluki sebagai “negara Arab termiskin”. Namun, dalam babak sejarah baru ini, negeri itu menjadi episentrum dari perlawanan strategis yang mengubah lanskap geopolitik Laut Merah.
Kita tidak berbicara tentang senjata canggih. Kita berbicara tentang keyakinan, identitas, dan pengalaman tempur yang dipupuk dari luka sejarah.
Di balik rudal-rudal balistik buatan dalam negeri, drone kamikaze, dan serangan presisi terhadap pelabuhan serta bandara Israel, tersimpan “keseimbangan baru”, sebuah keseimbangan antara kemauan dan pengalaman melawan teknologi dan angkuh.
Saluran TV Israel, KAN pada17 Mei 2025, bahkan mengakui bahwa: “Serangan terhadap Yaman tidak dapat melemahkan kekuatan pencegahan mereka. Sebaliknya, serangan-serangan Yaman kini menargetkan ekonomi Israel secara langsung”.
Bandara Ben-Gurion di Bawah Ancaman, Truman Pamit dalam Kekalahan
Sepekan sekali, satu rudal Yaman sudah cukup untuk menggetarkan Bandara Ben-Gurion, ikon mobilitas dan keamanan Rezim Pendudukan. Media Ibrani melaporkan bahwa drone Yaman telah dicegat saat mengarah ke bandara itu, mengungkap ancaman yang kian konkret terhadap jantung Wilayah Pendudukan.
Tak hanya itu. Kapal induk AS, USS Harry Truman pun akhirnya meninggalkan kawasan Laut Merah, dalam diam, menelan kekalahan memalukan.
Nasruddin Amer dari Ansharullah menyebutkan bahwa kehadiran kapal induk itu “menyulut medan perang”, dan bahwa: “Israel terbukti lemah dan Washington telah meninggalkannya”.
Serangan ke Pelabuhan Yaman: Bukti Keputusasaan Rezim Zionis
Tiga pelabuhan sipil Yaman diserang oleh Israel pada Jumat 16 Mei menewaskan dan melukai sedikitnya 10 orang. Namun Kementerian Luar Negeri Yaman merespons dengan tegas: “Penargetan pelabuhan menunjukkan kegagalan besar Zionis dalam mencapai tujuannya di Yaman.”
Mohammed Ali al-Houthi menambahkan bahwa: “Netanyahu dan rezimnya gagal memahami aturan baru dalam pertempuran”. Padahal aturan baru itu sederhana: yang bertahan lebih lama adalah yang memiliki semangat, bukan sekadar senjata.
Dua Keseimbangan: Teror vs Kemauan
Sejarah akan mencatat momen ini sebagai salah satu titik balik dalam perang asimetris modern.
Kekuatan “keseimbangan teror” yang selama ini dibangun oleh koalisi militer raksasa telah ditantang oleh kekuatan “keseimbangan kemauan”. Yaman telah menunjukkan bahwa untuk mengguncang imperium, tidak perlu memiliki anggaran militer triliunan. Cukup dengan keyakinan yang strategis, teknologi buatan sendiri, dan ketekunan tak kenal lelah.
Kekaisaran Tak Tumbang oleh Kekalahan, Tapi karena Buta terhadap Realitas
Rezim Zionis yang pernah sesumbar mampu menaklukkan Ibu Kota musuh dalam 8 menit, kini menutup bandara dan bersembunyi di bungker perlindungan. Amerika Serikat, yang sejak dulu gemar mendikte dunia dengan kapal induk dan doktrin “Shock and Awe”, kini perlahan-lahan mundur dari hadapan negeri yang semula diremehkan.
Maka sejarah, dengan ironi getirnya, berbisik: “Kekaisaran tidak selalu jatuh karena kalah di medan perang, tapi karena gagal memahami zaman.” [PP/MT]
