Kapal Induk AS Truman Sudah Kabur, Yaman Ganti Incar Armada Inggris
POROS PERLAWANAN – Setelah kapal induk Amerika Serikat, USS Harry S. Truman, meninggalkan wilayah Asia Barat, muncul laporan bahwa fokus serangan Perlawanan Yaman kini beralih ke kapal-kapal Inggris.
Dahulu, peta dunia dipenuhi warna merah Kekaisaran Inggris. Ratu Victoria dengan bangga menyatakan bahwa “matahari tak pernah terbenam di kerajaanku”. Angkatan Laut Kerajaan Inggris kala itu mendominasi samudra, mulai dari kemenangan Laksamana Nelson dalam Pertempuran Trafalgar (1805) atas armada Prancis dan Spanyol, hingga masa perang kolonial ketika kapal-kapal perang Inggris berlabuh tanpa izin di pelabuhan mana pun yang mereka kehendaki. London menaklukkan bukan hanya lautan, melainkan juga benak para politisi dunia.
Namun di abad ke-21, negara yang dahulu menaklukkan imperium-imperium besar kini harus berhati-hati ketika melintasi perairan Bab el-Mandeb. Kapal-kapalnya terancam oleh drone murah namun efektif milik Perlawanan Yaman.
Salah satunya adalah HMS Prince of Wales, kapal induk modern kebanggaan Angkatan Laut Kerajaan. Alih-alih berlayar untuk unjuk kekuatan, kapal ini kini menjalankan misi di kawasan tersebut dengan penuh kewaspadaan, yaitu menjalankan protokol darurat, operasi penyelamatan, serta siaga terhadap sistem antipesawat milik Ansharullah.
Apa yang membuat bekas adikuasa maritim abad ke-19 kini terperangkap dalam dilema keamanan laut, bahkan harus mempertimbangkan gengsi nasional dalam menghadapi sebuah negara yang dulu disebutnya sebagai “negara Arab termiskin”?
Sejarah mencatat ironi ini dengan cara yang jenaka. Kemunduran imperium kini tak lagi dicatat lewat meriam dan senapan, melainkan melalui misil lokal dan tekad yang tak tergoyahkan.
Beberapa hari lalu, seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa USS Truman telah meninggalkan kawasan Asia Barat dan belum ada rencana penggantiannya. Kapal induk ini sebelumnya menjadi sasaran serangan sukses pasukan Yaman dalam sejumlah operasi. Langkah ini disebut sebagai bentuk nyata penarikan diri Amerika Serikat dari wilayah pengaruh Yaman, mengikuti pola yang sama seperti sebelumnya yang dialami oleh USS Vinson. Kebijakan ini berkaitan erat dengan keputusan era Trump yang menghentikan agresi sia-sia terhadap Yaman.
Kini, media Inggris Daily Mail pada Senin 19 Mei melaporkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan Inggris tengah bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari Gerakan Ansharullah. Salah satu kapal mereka dijadwalkan melintasi Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah, dan rencana serangan udara terhadap kamp-kamp Ansharullah telah disiapkan jika kapal mereka diserang.
Seorang Juru Bicara Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, “Kami tidak dapat mengungkapkan rute kapal tersebut karena alasan keamanan operasional. Kami tidak memberikan komentar lebih lanjut.”
Menurut laporan Daily Mail, jet tempur F-35 akan digunakan untuk menyerang markas Ansharullah jika HMS Prince of Wales diserang saat berlayar di Laut Merah. Sumber Pemerintah menyebutkan bahwa Downing Street juga telah menyiapkan dukungan dari Special Boat Service (SBS) dan Royal Marines untuk misi penyelamatan jika pilot tempur Inggris ditembak jatuh.
HMS Prince of Wales dilaporkan membawa 18 jet tempur F-35 dan akan segera melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden sebelum melanjutkan misinya menuju kawasan Pasifik.
Meski belum ada bukti langsung bahwa pasukan Yaman telah menyerang aset Inggris, Sanaa menyatakan masih dalam “kondisi perang” dengan London, karena keterlibatan Inggris dalam agresi terhadap tanah Yaman. Oleh karena itu, Yaman mengeklaim hak untuk menghukum Inggris “pada waktu yang tepat”, selama Inggris belum menandatangani perjanjian sepihak dengan pihak Yaman yang hingga kini belum terjadi.
Peringatan Lain dari Yaman
Dalam wawancara eksklusif dengan situs jaringan berita Al-Mayadeen, seorang sumber senior Yaman mengeluarkan peringatan tegas terhadap maskapai penerbangan yang mencoba melanjutkan operasional ke Bandara Ben Gurion di wilayah Pendudukan. Maskapai diminta mengubah rute penerbangan dan mematuhi peringatan Militer Yaman.
Sumber itu menekankan bahwa tujuan strategis tentara Yaman bukan hanya melarang penerbangan ke Bandara Ben Gurion, tetapi ke seluruh wilayah udara Pendudukan. Ia menyatakan, “Jalur rudal dan pesawat tak berawak Yaman menuju Bandara Ben Gurion dan Wilayah Pendudukan adalah jalur yang konsisten, kuat, dan terus meningkat. Pelanggaran wilayah udara musuh bukanlah kejadian insidental, melainkan bagian dari strategi berkelanjutan.”
