Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Kebuntuan Tel Aviv dalam Persamaan Yaman: Tak Ada Lagi Keamanan untuk Israel

Ansharullah: Kami Siap Masuki Tingkat Konflik Tertinggi dengan Amerika Serikat

POROS PERLAWANAN – Sementara rudal dan drone terus membakar langit Gaza, badai dari selatan mulai mengguncang fondasi keamanan Israel. Yaman, yang selama ini dipandang sebagai front sekunder, kini tampil sebagai aktor utama dalam membongkar ilusi superioritas militer Zionis. Operasi jarak jauh Ansarullah tak hanya mengirimkan proyektil, tapi juga pesan keras bahwa keamanan Israel tak lagi dijamin.

Rudal dari Sana’a, Trauma di Tel Aviv

Pakar militer Ihab Jabarin menilai bahwa meski rudal-rudal Yaman belum menciptakan kehancuran besar secara fisik, namun dampak psikologisnya menghantam dalam. “Ini bukan sekadar proyektil,” katanya kepada Al Jazeera, “ini adalah simbol bahwa Tel Aviv bisa disentuh dari ribuan kilometer jauhnya, dan bahwa sistem pertahanan Israel tak lagi mampu menjamin langitnya.”

Jabarin menyebut bahwa persepsi publik Zionis mulai retak. Masyarakat menyaksikan kabinet dan militer mereka gagal melindungi front dalam negeri, bahkan ketika klaim superioritas udara dan elektronik terus digembar-gemborkan. Dampaknya: krisis kepercayaan yang makin dalam di tubuh publik Zionis.

Yaman Berdiri Mandiri, Bukan Proxy

Narasi lama AS dan Israel bahwa Yaman hanyalah perpanjangan tangan Iran semakin kehilangan daya. “Yaman mengambil keputusan militernya secara independen,” ujar Jabarin, menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut bukan sekadar dukungan untuk Gaza, melainkan bagian dari proyek ideologis dan politik yang memperkuat legitimasi regional Ansarullah.

Dengan bertindak di luar struktur perintah Iran, Ansarullah menciptakan preseden baru: poros perlawanan bukan monolit terpusat, melainkan jaringan otonom dengan kemampuan strategis masing-masing.

AS dan Israel Terjebak dalam Red Sea Quagmire

Washington pun tak berdaya. Usaha melemahkan militer Yaman melalui serangan udara tak membuahkan hasil, bahkan justru mendorong perluasan cakupan operasi. Strategi maritim AS di Laut Merah kini digoyang, dan ketergantungan Israel terhadap payung perlindungan AS mempermalukan reputasi militer Zionis yang selama ini dibangun dengan kebohongan.

Osama Al-Rouhani dari Pusat Studi Strategis Sana’a menyoroti bahwa “upaya AS membentuk aliansi maritim baru untuk mengamankan jalur perdagangan global kini dihadang oleh kenyataan, bahwa Yaman mampu menyerang target AS tanpa mengalami kerugian signifikan.”

Bandara Ben Gurion Jadi Simbol Kerapuhan

Ancaman paling eksplisit datang dalam bentuk peringatan keras terhadap Bandara Ben Gurion. Yahya Saree, juru bicara militer Yaman, mengonfirmasi bahwa dua rudal balistik telah diarahkan ke bandara utama Israel itu, bukan sebagai unjuk kekuatan semata, tetapi sebagai bagian dari blokade strategis yang mengaitkan keamanan udara Israel langsung dengan kelanjutan perang Gaza.

“Zona larangan terbang bisa diberlakukan kapan saja,” tegas Faez Al-Duwairi, pakar militer Yordania, “dan efek domino-nya luar biasa, dimana lalu lintas udara terganggu, maskapai internasional mundur, jutaan Zionis dipaksa hidup dalam ketakutan harian.”

Israel Gagal Fokus, Hegemoni Terkikis

Di tengah tekanan simultan dari Lebanon, Suriah, dan kini Yaman, militer Israel kewalahan menjaga konsentrasi. Ketergantungan mereka terhadap sistem THAAD Amerika pun terbukti gagal, memaksa peralihan ke sistem Hayts buatan sendiri. Namun, ini bukan solusi, melainkan pengakuan implisit bahwa teknologi Amerika pun tak mampu meredam gelombang perlawanan.

Para analis sepakat bahwa serangan Yaman telah menciptakan persamaan pencegah baru, menjungkirbalikkan logika militer Israel. Kini, Tel Aviv hidup dalam realitas regional baru, di mana aktor-aktor “kecil” bisa menimbulkan kerusakan besar, dan di mana klaim hegemoni Israel makin kehilangan relevansi.

“Operasi Yaman mengirimkan pesan kepada Israel bahwa keamanan mereka tidak lagi terjamin dan, kebijakan kabinet Zionis telah menjadi ancaman bagi nyawa mereka sendiri”, terang Ihab Jabarin.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *