Abu Muhammad al-Jolani Absen di KTT Baghdad
POROS PERLAWANAN – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 berakhir pada Sabtu (17/5) dengan satu absensi yang lebih nyaring daripada seluruh pidato yang dibacakan, bahwa Presiden Suriah hasil pengangkatan sendiri, Ahmad al-Sharaa, atau lebih dikenal sebagai Abu Muhammad al-Jolani, tak menghadiri forum penting diplomatik Arab tersebut.
Tak ada pernyataan resmi yang menjelaskan absensinya. Namun, keputusannya untuk tidak hadir tampaknya bukan hanya keputusan pribadi, melainkan cermin dari memori kolektif yang belum sembuh, terutama di Irak. Kehadirannya bukan hanya akan memalukan, melainkan bisa memicu kemarahan publik, menghidupkan kembali luka lama yang belum tertutup.
Jejak Darah Sang Presiden dari Diyala ke Damaskus
Sebelum tampil dengan balutan jas kepresidenan di Damaskus, Ahmad al-Sharaa dikenal dengan identitas bawah tanahnya, Abu Muhammad al-Jolani, salah satu pentolan jaringan teror Takfiri, Al-Qaeda di Irak (AQI). Organisasi inilah yang bertanggung jawab atas ledakan-ledakan paling mematikan pasca invasi AS 2003, dengan korban mayoritas dari kalangan sipil dan aparat keamanan Irak.
Jalur karier al-Jolani sangat khas produk kekacauan pasca-penjajahan, dimulai dari Diyala, ia ditangkap pasukan AS, ditahan di penjara militer Camp Bucca, lalu dipindahkan ke penjara Abu Ghraib sebelum akhirnya melarikan diri dalam sebuah operasi yang hingga kini menyisakan banyak tanda tanya. Di Suria, ia muncul kembali sebagai pemimpin Haiat Tahrir al-Sham (HTS), pecahan Al-Qaeda yang kemudian dikemas ulang sebagai “oposisi moderat” oleh lobi intelijen asing.
“Dia bertanggung jawab atas darah orang Irak yang ditumpahkan oleh Daesh Abu Bakr al-Baghdadi dan al-Jolani sendiri,” kata Baqir Jabr al-Zubeidi, Mantan Menteri Dalam Negeri Irak.
Bucca Tempat Inkubator Teror atau Pabrik Rezim Proxy
Menurut al-Zubeidi, al-Jolani sempat ditangkap oleh aparat Irak namun kemudian direbut oleh pasukan AS dan dimasukkan ke fasilitas Camp Bucca. “Saya meminta agar dia diserahkan kepada kami, tapi Jenderal George Casey menolak,” kenangnya. AS mengklaim perlu menginterogasinya terlebih dahulu, alasan klasik yang sering kali berujung pada hilangnya jejak.
Kisah Bucca bukanlah kisah penahanan biasa. Fasilitas ini telah lama dicurigai sebagai inkubator tokoh-tokoh teror baru, tempat pertemuan para pemimpin masa depan Daesh, dan kini mungkin, bahkan presiden sebuah negara.
“Al-Jolani kemudian menjadi wakil Abu Bakr al-Baghdadi… lalu mengambil alih operasi Daesh (ISIS) di Suriah.”
Narasi ini menyiratkan bahwa kekuatan besar, secara langsung atau tidak, telah memainkan peran aktif dalam membentuk jalur naik al-Jolani, dari tahanan hingga pemimpin negara. Dan kini, wajah itu mencoba masuk ke forum resmi negara-negara Arab.
Diplomasi Teror dan Liga Arab di Persimpangan Moral
Undangan resmi untuk al-Sharaa dari pemerintah Irak bulan lalu segera memicu badai politik. Setidaknya 50 anggota parlemen Irak melayangkan protes hukum, menuntut pemerintah membatalkan undangan terhadap sang presiden yang diburu itu.
Partai Dawa, yang pernah memimpin Irak di masa puncak kekejaman AQI, mengingatkan bahwa KTT tidak boleh menjadi panggung pembersihan citra bagi para penumpah darah. “Siapa pun yang hadir harus bersih secara hukum di dalam dan luar negeri,” tegas pernyataan partai.
Namun, fakta bahwa nama al-Jolani bahkan dipertimbangkan sebagai tamu negara sudah cukup menunjukkan betapa dangkalnya memori diplomatik regional. Di satu sisi, upaya normalisasi dengan Damaskus menjadi prioritas politik, di sisi lain, masyarakat Irak masih hidup dalam bayang-bayang trauma yang ditinggalkan AQI dan ISIS.
WhatsApp dari Damascus: “Dia Hanya Anak Muda yang Terjebak”
Dalam salah satu bagian paling emosional dari wawancara eksklusifnya, al-Zubeidi menyebut dirinya menerima pesan dari pejabat Suriah yang menyatakan bahwa al-Jolani “hanya anak muda yang terjebak dalam peristiwa.” Respons al-Zubeidi tegas; “Kami menolak narasi palsu ini.”
Pengampunan moral terhadap al-Jolani, katanya, adalah pengkhianatan terhadap ribuan keluarga korban yang menuntut keadilan. “Sebagai pejabat pemerintah, kami harus memintanya bertanggung jawab.”
Simbol Kemenangan atau Luka yang Menganga?
Kehadiran al-Jolani di Baghdad bisa menjadi kemenangan simbolik bagi Damaskus yang berupaya mengembalikan statusnya di kancah diplomatik Arab. Tapi bagi Irak, itu akan menjadi luka terbuka dan menganga yang diperlihatkan kembali kepada publik dalam balutan jas formal dan pidato basa-basi tentang stabilitas regional.
Ketidakhadiran al-Jolani, dalam logika itu, bukan kekalahan diplomatik. Ia justru menyelamatkan KTT dari menjadi teater absurditas, di mana penumpah darah disambut karpet merah.
“Kekuatan asing ini,” simpul al-Zubeidi, “memiliki agenda jangka panjang yang pasti akan berdampak pada Yordania dan Irak.”
Wajah Baru dengan Dosa Lama
Kita hidup di zaman ketika seorang penguasa bisa muncul dari reruntuhan penjara militer, lalu dimandikan dari masa lalunya yang berdarah lewat siaran langsung konferensi pers. Namun sejarah, terlebih di Timur Tengah, bukanlah sesuatu yang mudah diredam atau dilupakan.
Selama darah yang tertumpah belum dijawab oleh keadilan, dan para pelaku kekerasan masih leluasa berdiri di podium diplomasi tanpa sepatah maaf pun, maka suara perlawanan tak boleh bungkam. Tak semua jas mewah mampu menyembunyikan noda darah, dan tak setiap mikrofon adalah tanda legitimasi moral. [PP/MT]
