Alih-alih ‘Kereta Gideon’, Operasi Militer Israel di Gaza Mestinya Disebut ‘Kereta Maut’
POROS PERLAWANAN – Diberitakan Fars, keluarga para tawanan Israel menyatakan, Benyamin Netanyahu memilih untuk meratakan Gaza dengan tanah, bahkan meski dengan menumbalkan nyawa 58 tawanan Israel.
Menurut mereka, semestinya operasi militer di Gaza dinamakan “Kereta Maut”, alih-alih “Kereta Gideon.”
Keluarga para tawanan berpendapat, Donald Trump adalah satu-satunya orang yang mampu memulangkan tawanan dari Gaza, sebab PM Israel memilih untuk membiarkan mereka terkubur di dalam terowongan-terowongan Gaza.
Pekan ini, Netanyahu berkata bahwa dirinya akan memperluas perang di Gaza, alih-alih menjalin kesepakatan pertukaran tawanan. Keluarga para tawanan menyatakan, PM Israel mengangkat Direktur baru Shin Bet yang tidak peduli untuk memulangkan tawanan.
“Perang di Gaza saat ini hanya dilakukan demi mewujudkan kepentingan Netanyahu dan para mitranya, yang bertolak belakang dengan publik Israel serta tuntutan mereka,” tegas keluarga para tawanan.
“Netanyahu tengah menyeret Israel ke arah bencana dan perang yang akan membunuh seluruh tawanan, juga lebih banyak serdadu.”
Sembari menegaskan bahwa perang harus diakhiri dan para tawanan dipulangkan, mereka menolak keputusan Netanyahu yang memilih David Zini sebagai Direktur Shin Bet; orang yang menghendaki perang abadi di Gaza dan mengorbankan para tawanan.
PM Israel mengangkat Zini sebagai Kepala baru Shin Bet menggantikan Ronen Bar; tindakan yang berlawanan dengan saran dari para penasihat hukum Netanyahu sendiri.
Jaksa Agung Israel menegaskan, Netanyahu telah menginjak instruksi konstitusional dengan mengangkat Zini sebagai Kepala Shin Bet.
Kanal 12 Israel melaporkan bahwa Zini di balik pintu tertutup mengumumkan, dirinya menentang kesepakatan pertukaran tawanan dan pemulangan mereka dari Gaza.
Menurut Zini, perang terhadap Gaza adalah “sebuah pertempuran abadi dan langgeng.”
