TIKA: Strategi Soft Power Turki di Afghanistan dan Indonesia
POROS PERLAWANAN — Sejak kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada Agustus 2021, banyak lembaga internasional memilih hengkang dari Afghanistan, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Turki justru mengambil langkah berani yang kontras dengan tren global tersebut. Melalui Turkish Cooperation and Coordination Agency (TIKA), Ankara tetap mempertahankan komitmennya dalam menjalankan proyek-proyek pembangunan strategis, menjadikan TIKA sebagai ujung tombak soft power Turki di kawasan rawan konflik ini.
Lebih dari sekadar lembaga bantuan, TIKA memainkan peran geopolitik yang signifikan. Kinerjanya di Afghanistan dan juga ekspansinya di Indonesia menunjukkan strategi jangka panjang Turki dalam memperluas pengaruhnya melalui diplomasi pembangunan.
Afghanistan: Pintu Masuk Strategis Menuju Asia Tengah
Secara geografis dan geopolitik, Afghanistan merupakan wilayah kunci di jantung Asia. Terletak di persimpangan antara Asia Selatan, Asia Tengah, dan Timur Tengah, negara ini merupakan medan kompetisi kekuatan global seperti China, Rusia, dan Amerika Serikat.
Keputusan Turki untuk tetap hadir di Afghanistan pasca-2021 merupakan langkah strategis yang mencerminkan ambisi Ankara untuk menjadi aktor global utama. TIKA menjadi instrumen penting dalam strategi ini, bukan hanya dalam kerangka bantuan kemanusiaan, melainkan juga sebagai alat diplomasi yang mengedepankan stabilitas, hubungan bilateral, dan pengaruh budaya.
TIKA di Afghanistan: Dari Rekonstruksi ke Diplomasi Kultural
Sejak membuka kantor pertamanya di Kabul pada 2004, TIKA telah menanamkan kehadiran kuatnya di Afghanistan. Dengan perluasan ke Mazar-i-Sharif (2007) dan Herat (2016), lembaga ini telah melaksanakan lebih dari 1.500 proyek yang mencakup:
1. Pendidikan
Kursus Bahasa Turki dan beragam keterampilan; termasuk menjahit, menyulam, tata rias, hingga pembuatan karpet.
Peningkatan Infrastruktur Sekolah: Distribusi meja dan kursi di wilayah Badakhshan, Baghlan, dan Balkh yang berdampak pada 20.000 siswa.
2. Kesehatan
Fasilitas Onkologi di Herat: Melayani hingga 4.000 pasien per tahun.
Unit Neonatal di Nangarhar: Menyediakan inkubator, ventilator, dan USG di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Nangarhar.
3. Pembangunan Berkelanjutan
Donasi alat pertanian dan benih ke daerah pedesaan.
Pelatihan vokasional berkelanjutan untuk perempuan dan pemuda, bahkan setelah Taliban kembali berkuasa.
Komitmen TIKA untuk tetap aktif di tengah gejolak politik membedakan Turki dari banyak negara donor lainnya, memperkuat posisinya sebagai mitra yang konsisten dan dapat diandalkan oleh rakyat Afghanistan.
TIKA di Indonesia: Menanam Soft Power Melalui Pendidikan dan UMKM
TIKA juga aktif mengembangkan pengaruhnya di Indonesia, dengan pendekatan yang menekankan kolaborasi akademik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu contoh nyata terlihat dalam kunjungan delegasi TIKA ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) pada Desember 2023.
Dalam pertemuan tersebut, TIKA, yang diwakili oleh Özlem Güvenç dan Gökhan Keser, menawarkan sejumlah bentuk dukungan mulai dari penyediaan alat laboratorium hingga pemberdayaan UMKM melalui bantuan peralatan produksi.
Pihak FTUI merespons secara positif. Prof. Dr. Ir. Harinaldi, selaku Kepala Unit Modernisasi dan Internasionalisasi Pendidikan FTUI, melihat peluang kolaborasi dengan TIKA, terutama dalam pengembangan laboratorium Gedung Inter Disciplinary Engineering (IDE). Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, juga menegaskan bahwa kerja sama ini mendukung misi internasionalisasi pendidikan Indonesia.
Sebelum itu, TIKA telah lebih dulu terlibat dalam sejumlah proyek sosial di Indonesia:
1. Dukungan untuk produksi kopi lokal di Sumatera.
2. Bantuan bagi penyandang disabilitas melalui penyediaan alat bantu dan pelatihan.
Kolaborasi semacam ini memperlihatkan bagaimana TIKA menjalankan perannya tidak hanya sebagai donatur, tetapi sebagai mitra pembangunan strategis.
Kerja Sama Pendidikan Tinggi di Bidang Industri Kreatif
Pascakunjungan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Indonesia pada Februari 2025, hubungan bilateral antara kedua negara mengalami peningkatan signifikan, terutama dalam sektor pendidikan tinggi. Salah satu hasil konkret dari kunjungan tersebut adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Nasional Turki.
Kesepakatan ini mencakup kerja sama dalam pengembangan program studi di bidang industri kreatif, termasuk desain grafis, animasi, dan produksi konten digital. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kedua negara serta mendorong kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Turki dalam penelitian dan pengembangan di sektor industri kreatif.
Diplomasi Pembangunan: Antara Kepentingan dan Kemanusiaan
TIKA tidak semata-mata menjalankan misi kemanusiaan. Setiap proyek yang dilakukan membawa dimensi strategis:
1. Meningkatkan kepercayaan bilateral antara Turki dan negara penerima.
2. Memperluas jaringan diplomatik di kawasan-kawasan yang secara historis kurang mendapat perhatian.
3. Menyebarkan pengaruh budaya, terutama melalui pengajaran bahasa Turki dan pelestarian warisan sejarah lokal.
Dengan pendekatan ini, Turki tidak hanya membantu secara praktis, tetapi juga membentuk citra positif sebagai “penolong” global, sebuah narasi yang kontras dengan pendekatan kekuatan militer atau tekanan ekonomi.
Penutup: TIKA Sebagai Pilar Soft Power Global Turki
Melalui TIKA, Turki telah menunjukkan bahwa diplomasi pembangunan dapat menjadi instrumen kekuatan global yang efektif. Di Afghanistan, lembaga ini berdiri di saat yang lain mundur, sementara di Indonesia, TIKA menjadi jembatan kerja sama antarbangsa yang produktif dan inovatif.
TIKA bukan hanya lembaga bantuan, melainkan juga bagian integral dari visi strategis Ankara dalam membangun kekuatan yang lunak, berkelanjutan, dan berdampak global. Dalam dunia multipolar saat ini, pendekatan semacam ini menawarkan alternatif yang lebih manusiawi dan kolaboratif dalam hubungan antarnegara.
