Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Alasan Kenapa Sandiwara ‘Perseteruan’ Trump vs Netanyahu Soal Iran Kerap Ditonjolkan

Alasan Kenapa ‘Perseteruan’ Trump-Netanyahu Soal Iran Kerap Ditonjolkan

POROS PERLAWANAN – Dalam beberapa tahun terakhir, tiap kali perundingan nuklir Iran-AS memasuki fase-fase penting, media-media Barat memublikasikan beragam laporan soal “perselisihan Washington dan Tel Aviv.”

Dilansir Fars, kebanyakan laporan itu menggambarkan bahwa AS “menghendaki solusi diplomatik,” sementara Israel menentang perundingan dan mengancam akan “mengambil tindakan keras”, seperti serangan militer ke fasilitas nuklir Iran.

Hal ini banyak terlihat dalam perundingan saat ini antara Iran dan Pemerintahan Donald Trump. Sepertinya ini adalah bagian dari sebuah strategi yang telah diperhitungkan untuk memengaruhi jalannya perundingan.

Bukan hal sulit untuk menemukan contoh laporan semacam ini di media-media Barat. Sebagai contoh, 3 hari lalu New York Times mengeklaim bahwa Netanyahu mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Di saat bersamaan, Trump disebut “berusaha mencari cara diplomatik dan meminta Israel menghindari tindakan militer yang membahayakan perundingan.”

Atau, Kantor Berita Reuters beberapa pekan lalu memberitakan bahwa keputusan Trump untuk memulai perundingan tanpa memberi tahu Netanyahu telah “mengejutkan dan membuat gusar Israel.”

Contoh lain adalah laporan Washington Post, yang 2 pekan silam mengeklaim bahwa AS telah “menyingkirkan Netanyahu dari isu-isu kunci, termasuk perundingan nuklir.” Harian ini menyatakan bahwa kabar ini “telah memicu kekhawatiran di Tel Aviv.”

Tentu ini tidak terbatas pada Pemerintahan Trump atau perundingan dengan Iran. Ada juga banyak contoh lain. Yang paling mutakhir adalah upaya untuk menonjolkan “perseteruan” antara Netanyahu dan Joe Biden dalam perang Gaza.

Di masa itu, tiap kali tekanan opini publik terhadap Pemerintahan Biden terus meningkat agar menghentikan partisipasi dalam genosida di Gaza, media-media AS dan Barat akan dibanjiri laporan bahwa “Biden berselisih dengan Netanyahu dan akan segera meninggalkan Israel di medan perang.”

Namun di lapangan, berbarengan dengan semua propaganda media ini, Pemerintah AS berulang kali memveto resolusi-resolusi gencatan senjata, juga mencurangi konstitusi dalam negeri demi mempercepat pengiriman senjata ke Israel.

Strategi Trump dan Netanyahu terkait Iran adalah salah satu pihak bermain sebagai “polisi baik”, dan lainnya berperan sebagai “polisi jahat.”

Bisa diargumentasikan bahwa tujuan pertama dari strategi ini adalah memberikan tekanan terhadap tim negosiator Iran.

Bahkan Wall Street Journal dalam artikelnya pada Kamis lalu mengakui, Trump menggunakan Netanyahu sebagai sarana untuk menekan Iran, demi memaksa Tehran menerima lebih banyak lagi tuntutan Washington.

Buktinya adalah ketika kemarin lusa seorang wartawan bertanya kepada Trump: benarkah berita New York Times bahwa Trump memperingatkan Netanyahu soal serangan ke Iran? Berlawanan dengan kebiasaannya yang menyebut pemberitaan media sebagai hoaks, Trump dengan gembira menjawab,”Ya, saya melakukannya.”

Tentu saja taktik ini berguna bagi Trump di dalam negeri. Manfaat dari narasi-narasi ini adalah jika Trump bisa membuat kesepakatan dengan Iran, ia bisa menjadikannya sebagai raihan diplomatik dan membuktikan bahwa dirinya “membenci perang.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *