Profil Yasser Abu Shabab, Takfiri ISIS Mitra Netanyahu di Gaza
POROS PERLAWANAN – Dalam perkembangan yang memicu kehebohan di Wilayah Pendudukan dan dunia Arab, muncul laporan keterlibatan langsung Israel dengan kelompok tentara bayaran Palestina di Jalur Gaza yang disebut Pasukan Rakyat, dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, sosok yang memiliki rekam jejak ekstremisme dan koneksi dengan kelompok Takfiri ISIS.
“Pasukan Rakyat” dan Bayangan Lahad di Gaza
Kelompok ini, menurut laporan yang dipublikasikan oleh Tasnim News pada 9 Juni, secara aktif membantu pasukan Pendudukan Israel dalam operasi kontra-Perlawanan. Mereka mengeklaim memberikan bantuan kemanusiaan dan keamanan bagi penduduk Gaza, namun berbagai sumber menyebutnya sebagai alat infiltrasi untuk memata-matai Kelompok Perlawanan, mengidentifikasi lokasi terowongan, dan membersihkan wilayah dari perlawanan bersenjata.
Dalam narasi publik Arab, kelompok ini dijuluki “Tentara Lahad Gaza”, mengacu pada pasukan Lebanon Selatan pro-Israel yang terkenal karena kolaborasi mereka dengan Tel Aviv pada 1990-an.
Netanyahu, Lieberman, dan Politik Senjata Kotor
Bocoran mengejutkan datang dari mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, yang mengungkap bahwa Perdana Menteri Benyamin Netanyahu menyetujui pengiriman senjata Kalashnikov kepada kelompok ini, bahkan tanpa sepengetahuan Kepala Staf IOF atau persetujuan Kabinet.
Netanyahu membela keputusannya dengan berdalih bahwa kelompok itu merupakan “penjamin keamanan tentara Israel di Gaza”. Namun reaksi keras datang dari oposisi: Yair Lapid menyebut langkah itu sebagai “bom waktu”, dan Yair Golan menuding Netanyahu “menjual keamanan Israel demi bertahan satu hari lagi di tampuk kekuasaan”.
Siapa Yasser Abu Shabab?
Yasser Abu Shabab, 30 tahun, berasal dari Rafah, Gaza Selatan. Ia mengeklaim memimpin Pasukan Rakyat untuk “melindungi rakyat”, namun rekam jejak kelompok ini menunjukkan hubungan intensif dengan IOF, termasuk:
1. Menyediakan data lokasi terowongan dan persembunyian pejuang Perlawanan.
2. Mengarahkan penduduk kembali ke rumah mereka untuk dimanfaatkan sebagai tameng manusia.
3. Mencuri bantuan kemanusiaan dan memonopoli distribusi logistik.
Selain itu, ia memanfaatkan konflik untuk merekrut informan dari kalangan sipil, bahkan menggunakan mereka sebagai tameng pelindung saat terjadi kontak senjata.
Jejak ISIS dan Rekan Abu Shabab
Informasi dari media Zionis Yedioth Ahronoth menyebut bahwa beberapa pemimpin kelompok ini adalah anggota ISIS:
1. Issam Nabahin, seorang pejuang ISIS dari kamp Nuseirat, ditangkap oleh Hamas karena meluncurkan roket tanpa izin. Ia kemudian kabur dari penjara saat perang pecah. Kini, ia menjadi salah satu Kepala Operasional Pasukan Rakyat.
2. Rasan al-Dahini, saudara dari anggota ISIS yang dieksekusi Hamas, juga merupakan anggota senior kelompok Takfiri ini.
Logistik dan Struktur Militer
Pasokan senjata kelompok ini berasal dari berbagai saluran:
1. Langsung dari Militer Israel, termasuk senjata M-16, M-4, rompi, helm, dan kendaraan taktis
2. Rampasan dari pejuang yang gugur.
3. Penjarahan gudang senjata Hamas dan PIJ.
4. Pembelian dari pasar gelap Gaza.
5. Dukungan akses logistik dari wilayah Rafah di bawah pengawasan Israel.
Kelompok ini juga disebut mengenakan seragam khusus bertuliskan “Pemandu” dalam bahasa Ibrani, untuk membedakan diri dari kelompok bersenjata lain dan mencegah tembakan dari pihak Israel.
Pelatihan dan Sponsor Regional
Menurut analis Israel, Baruch Yadid, salah satu negara Arab disebut terlibat dalam pelatihan militer kelompok ini. Dukungan juga diduga datang dari Mahmoud al-Habash (Penasihat Mahmoud Abbas) dan Mayor Jenderal Bahaa Baloushe (Intelijen PA), memicu dugaan bahwa Pasukan Rakyat adalah alat implementasi rencana “Hari Setelah Hamas”.
Meski Otoritas Palestina (PA) membantah keterlibatan, hubungan informal antara elemen PA dan milisi seperti ini dianggap sebagai skema untuk menciptakan struktur alternatif bagi Hamas dalam skema pasca-konflik Gaza.
Strategi Aliansi Kotor
Fenomena Yasser Abu Shabab dan Pasukan Rakyat mencerminkan paradigma baru: Israel beralih dari pendekatan konfrontatif langsung ke taktik proksi yang lebih fleksibel namun berbahaya. Jika benar kelompok ini dipersiapkan sebagai pasukan pengganti Hamas, maka kita menyaksikan terbentuknya versi Gaza dari “Afghanistan style warlordism”, bayangan perang tak berkesudahan, dengan penduduk Gaza sebagai korbannya.
