Loading

Ketik untuk mencari

Palestina Profil

Madleen Kulab: Nelayan Perempuan Gaza yang Menjadi Nama Kapal Kemanusiaan Dunia

POROS PERLAWANAN – Kapal layar Madleen, milik Freedom Flotilla Coalition, resmi berangkat dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti pada 1 Juni 2025. Kapal tersebut mengangkut 12 aktivis internasional, termasuk Greta Thunberg dalam misi kemanusiaan menembus blokade ilegal Israel ke Gaza. Namun, di balik nama kapal itu tersimpan kisah yang nyaris terlupakan: seorang perempuan nelayan dari Gaza yang kini menjadi simbol keteguhan dan keberanian dalam bayang-bayang penjajahan, Madleen Kulab.

Satu-satunya Nelayan Perempuan Gaza

Madleen Kulab (30), perempuan tangguh dari Kota Gaza, telah melaut sejak usia 15 tahun bersama ayahnya. Di tengah dominasi maskulinitas laut dan ancaman militer Israel, Madleen berdiri tegak sebagai satu-satunya perempuan nelayan di Gaza. Dengan kapal kecil dan jaring sederhana, ia berjuang menyediakan nafkah bagi keluarganya, menjual hasil tangkapan di pasar lokal, dan menolak tunduk pada ketakutan.

Lebih dari sekadar nelayan, Madleen juga dikenal sebagai juru masak ulung. Hidangan laut kreasinya, khususnya sarden, ikan khas Gaza menjadi favorit banyak warga. Ia memiliki daftar pembeli tetap yang menunggu hasil tangkapannya, hari demi hari, seakan laut sendiri menaruh hormat padanya.

Namun, seluruh hidupnya berubah ketika Israel melancarkan agresi militer besar-besaran pada akhir 2023. Kapal dan perlengkapan miliknya hancur dihantam bom. Ayahnya gugur dalam serangan udara. Dan Madleen, saat itu tengah hamil besar terpaksa mengungsi dari satu kamp ke kamp lainnya: dari Khan Younis, Rafah, Deir al-Balah, hingga Nuseirat.

“Kami kehilangan segalanya, hasil kerja keras seumur hidup,” ucapnya kepada Al Jazeera (7/6/2025).

Dari Kehilangan Jati Diri hingga Melahirkan dalam Perang

Hancurnya kapal bukan sekadar kehilangan penghasilan. Bagi Madleen, itu berarti hilangnya jati diri. Bahkan kenikmatan sederhana seperti makan ikan kini menjadi kemewahan yang nyaris tak terjangkau.

“Dulu kami bisa makan ikan sampai sepuluh kali seminggu. Sekarang ikan sangat mahal kalaupun ada. Hanya sedikit nelayan yang masih bisa melaut, dan mereka mempertaruhkan nyawa setiap kali berlayar,” ujarnya.

Dalam kondisi mengungsi, Madleen melahirkan di Khan Younis, tanpa obat penghilang rasa sakit, tanpa perawatan medis, dan tanpa tempat tinggal yang layak. Ia harus segera meninggalkan rumah sakit demi memberi ruang bagi korban luka yang terus berdatangan.

“Saya tidur di lantai bersama bayi yang baru lahir. Fisik saya lelah. Tapi yang paling menghancurkan adalah kesadaran bahwa dunia membiarkan ini terjadi,” ungkapnya.

Kini, Madleen dan suaminya, yang juga seorang nelayan, berjuang menghidupi empat anak mereka. Blokade Israel yang brutal membuat akses terhadap kebutuhan dasar seperti susu bayi, popok, dan makanan, menjadi nyaris mustahil.

“Kata ‘sulit’ sudah tak cukup. Ini bukan sekadar penderitaan. Ini penghinaan. Ini kelaparan yang disengaja. Ini horor yang tak punya nama,” tegasnya.

Kapal “Madleen” dan Seruan Global untuk Keadilan

Ketika mendengar bahwa kapal kemanusiaan dari Freedom Flotilla dinamai berdasarkan namanya, Madleen mengaku sangat tersentuh. Bagi dia, itu bukan sekadar penghargaan, tapi amanah.

“Saya merasa memiliki tanggung jawab besar dan kebanggaan. Terima kasih kepada para aktivis yang meninggalkan kenyamanan hidup mereka dan memilih berdiri bersama Gaza, meski penuh risiko,” katanya.

Meski begitu, ia tak menutup mata terhadap ancaman nyata dari militer Israel terhadap misi tersebut.

“Saya khawatir kapal itu tidak akan diizinkan mencapai Gaza. Paling buruk, bisa saja diserang, seperti yang terjadi pada Mavi Marmara tahun 2010,” ujarnya.

Namun apapun risikonya, ia percaya bahwa pesan dari misi ini telah sampai ke telinga dunia.

“Ini adalah panggilan untuk menghentikan kebungkaman global. Gaza tidak meminta belas kasihan, tapi menuntut keadilan. Blokade harus dihentikan. Perang ini harus berakhir.”

Redaksi POROS PERLAWANAN mencatat: Kisah Madleen Kulab bukan sekadar potret penderitaan. Ia adalah perlawanan dalam bentuk paling murni: bertahan hidup dengan martabat di tengah kehancuran yang sistematis. Ia bukan korban, ia adalah saksi dan penuntut sejarah.


Tags: