Sejak Dulu Trump Sering Berkoar Ingin Membakar Iran, Kini Justru Api Kemarahan Warganya Sendiri yang Membakar Amerika
POROS PERLAWANAN – Sementara Donald Trump terus memaksakan kebijakan agresifnya untuk menciptakan kekacauan di Iran, Amerika Serikat justru tengah dilalap api ketidakstabilan yang ia picu sendiri. Kebijakan imigrasi kontroversialnya telah memicu gelombang protes massif, bentrokan dengan aparat keamanan, dan bahkan ancaman perang saudara, sebuah ironi yang memperlihatkan bagaimana ambisi destruktif Trump justru berbalik membakar negaranya sendiri.
Protes Meluas, Militer Dikerahkan
Awal kerusuhan terjadi di El Paso, Texas, setelah sebuah video viral memperlihatkan petugas imigrasi (ICE) menangani secara kasar seorang ibu imigran di depan anaknya. Dalam hitungan jam, kemarahan publik meledak. Demonstrasi yang awalnya damai di kota-kota seperti Austin, Denver, dan Chicago dengan cepat berubah menjadi kerusuhan besar-besaran. Massa menentang kebijakan diskriminatif Trump dengan yel-yel; “Imigrasi bukan kejahatan!” dan “Amerika adalah rumah bagi semua!”
Namun, situasi semakin tak terkendali. Di Los Angeles, New York, dan San Francisco, pengunjuk rasa bentrok dengan polisi, membakar bendera Amerika, dan bahkan melemparkan bom molotov ke barisan aparat. Trump, alih-alih meredakan ketegangan justru mengirim 2.000 pasukan Garda Nasional ke Los Angeles tanpa koordinasi dengan Pemerintah Negara Bagian California. Ini adalah pengerahan militer pertama sejak 1965, sebuah langkah yang justru memicu eskalasi kekerasan.
Los Angeles Kota yang “Ditaklukkan” oleh Kebijakan Trump
Gambar-gambar yang beredar di media sosial menggambarkan Los Angeles bak medan perang: asap tebal, bentrokan bersenjata, dan pasukan militer berhadapan dengan warga sipil. Trump merespons dengan ancaman keras di Truth Social: “Los Angeles telah diserbu imigran ilegal dan penjahat. Kerusuhan ini harus dihancurkan!”
Ia memerintahkan seluruh aparat keamanan Federal untuk “membersihkan” kota dengan cara apa pun, termasuk deportasi massal dan penindasan brutal. Gubernur California, Gavin Newsom mengecam tindakan Trump sebagai “langkah diktator yang sengaja memicu kekacauan”.
San Francisco Ikut Membara
Gelombang kemarahan tidak berhenti di Los Angeles. Di San Francisco, aksi solidaritas berubah menjadi huru-hara setelah polisi menggunakan gas air mata dan pentungan terhadap pengunjuk rasa. The New York Times melaporkan bahwa Amerika “semakin tidak stabil setiap hari” di bawah kepemimpinan Trump.
Trump, Provokator Perang Saudara
Para pengamat memperingatkan bahwa retorika Trump hanya memperdalam polarisasi politik. Bernie Sanders dan Kamala Harris menuduhnya sengaja memicu krisis untuk membenarkan tindakan otoriter. Sementara itu, kebijakan luar negerinya, termasuk sanksi kejam terhadap Iran, ternyata tidak mampu mengalihkan perhatian dari kekacauan dalam negeri.
Api yang Kembali Membakar Si Penyulut
Trump mungkin berharap bisa “membakar” Iran dengan sanksi dan ancaman, tetapi kini Amerika sendirilah yang terbakar. Kebijakan rasis, militerisasi penegakan hukum, dan sikap arogannya telah memecah-belah negara, sebuah pelajaran bahwa kehancuran yang ia rencanakan untuk musuh justru menghantam rumahnya sendiri.
Kekacauan di Amerika adalah buah dari keserakahan Trump, dan rakyat yang kini membayar harganya.
