Komandan CENTCOM: Yaman ‘Tantangan Terbesar’ AS di Timur Tengah
POROS PERLAWANAN – Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Michael Kurilla menyebut situasi di Yaman sebagai tantangan terbesar yang saat ini dihadapi oleh pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam sidang di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Selasa 10 Juni, Kurilla menyatakan bahwa meskipun kelompok-kelompok yang didukung Iran disebutnya berada pada posisi yang lemah, kekuatan militer Houthi di Yaman tetap menjadi perhatian utama Washington.
Menurut laporan Al Jazeera, Kurilla mengatakan, “Pasukan proksi Iran kini dalam posisi paling lemah mereka, namun ancaman terbesar yang kami hadapi saat ini adalah kelompok Houthi.”
Iran dan Potensi Respons Militer AS
Dalam pernyataannya, Kurilla juga mengeklaim bahwa Militer AS siap untuk merespons dengan “kekuatan penuh” jika diminta oleh Presiden. Ia menekankan bahwa Washington memiliki peluang strategis untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, meskipun Teheran telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.
“Jika diperintahkan oleh Presiden, kami siap untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,” ujar Kurilla. Ia juga menambahkan bahwa berbagai opsi militer telah disampaikan kepada Presiden dan Menteri Pertahanan AS.
Potensi Eskalasi Jika Israel Menyerang Iran
Menanggapi kemungkinan serangan Israel terhadap Iran, Kurilla memperingatkan bahwa hal tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap pasukan AS yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah.
“Jika Israel melancarkan serangan terhadap Iran, ada kemungkinan besar pasukan AS di Kawasan akan menjadi sasaran serangan balasan,” tambahnya.
Konteks Regional yang Semakin Kompleks
Komentar Kurilla datang di tengah ketegangan yang terus meningkat di Kawasan, termasuk serangan udara terhadap wilayah Yaman, eskalasi retorika antara AS dan Iran, serta konflik yang terus berlangsung di Gaza dan Suriah.
CENTCOM, yang mengoordinasikan operasi militer AS di Timur Tengah dan Asia Tengah, telah lama menjadi aktor kunci dalam strategi keamanan nasional AS di Kawasan. Namun, efektivitas pendekatan militer Washington terhadap konflik regional masih menjadi bahan perdebatan di kalangan analis dan pengamat internasional.
