Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Hari ‘Kebebasan’ Trump Justru Membelenggu Ekonomi Amerika

POROS PERLAWANAN – Pemerintahan kedua Donald Trump memulai masa jabatan dengan slogan garang: “Membangun Kembali Posisi Amerika dalam Ekonomi Global”. Namun alih-alih memperkuat dominasi ekonomi AS, kebijakan tarif Trump justru menyeret negara adidaya itu ke pusaran ketidakpastian dan ancaman resesi.

Tarif Trump dan Kepastian yang Tak Pasti

Dalam laporan analitisnya pada Kamis 12 Juni, jurnal Foreign Affairs menyoroti bahwa kebijakan tarif yang diterapkan Trump telah menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “ketidakpastian strategis”. Keadaan ini membuat investor, baik domestik maupun asing, kehilangan arah dalam mengambil keputusan bisnis. Jurnal prestisius AS itu memperingatkan bahwa ketidakpastian tersebut berpotensi menekan investasi, menurunkan produktivitas, dan memerosotkan kualitas hidup rakyat Amerika.

Pada 2 April lalu, Presiden Trump menerapkan tarif dasar sebesar 10% terhadap sejumlah negara, termasuk para sekutu terdekat Washington. Dengan nada penuh keyakinan, Trump menyebut tanggal tersebut sebagai “Hari Kebebasan”. Namun, ironi segera menyusul: kebijakan itu ditunda, diubah, bahkan dinaikkan secara inkonsisten.

Alih-alih memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan ekonomi, langkah-langkah Trump memicu volatilitas pasar dan gejolak di bursa saham. Tidak sedikit yang menuduh Presiden AS memanipulasi pasar demi keuntungan politik jangka pendek.

Dunia Usaha Menahan Napas dan Investasi Lumpuh

Survei Economic Outlook for CEOs pada kuartal pertama tahun ini mencatat bahwa 58% perusahaan memperkirakan investasi di Amerika akan stagnan atau menurun dalam enam bulan ke depan. Aktivitas merger dan akuisisi pun anjlok 19%, sementara hanya 18% pelaku usaha kecil yang berencana melakukan ekspansi.

Rekrutmen tenaga kerja menurun tajam. Para pelaku industri menyalahkan ketidakpastian kebijakan, perubahan tarif yang tidak konsisten, serta perundingan dagang yang tak berujung sebagai penyebab utama.

Menurut analis, dalam atmosfer ekonomi seperti ini, hampir mustahil bagi perusahaan global untuk mengambil risiko dalam bentuk investasi jangka panjang di Amerika Serikat.

Mengulang Skenario Brexit?

Dua pakar ekonomi, Jonathan Haskel dan Matthew J. Slater, membandingkan dinamika ekonomi AS saat ini dengan masa-masa kelam Brexit di Inggris. Mereka menekankan bahwa seperti halnya Inggris, yang setelah bertahun-tahun mengalami penurunan investasi dan stagnasi produktivitas akibat ketidakpastian politik, Amerika Serikat kini berada di jalur serupa.

Pelajaran dari Brexit jelas: ketidakpastian politik dan ekonomi membunuh investasi. Namun, berbeda dari Inggris, Amerika menjalani skenario ini dengan skala lebih besar dan dampak yang berpotensi lebih mahal.

Data dari survei Universitas Michigan mendukung kekhawatiran tersebut: ekspektasi inflasi jangka menengah di AS melonjak dari 2,8% pada Desember lalu menjadi 6,6%.

Perekonomian AS di Ambang Risiko Sistemik

Analis memperingatkan bahwa kebijakan tarif Presiden Trump tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperlemah fondasi struktural ekonomi Amerika. Resesi investasi, menurunnya inovasi, serta tergerusnya pendapatan riil rumah tangga menjadi skenario berulang yang kini menghantui masa depan ekonomi AS.

Ketika hari yang disebut sebagai “Hari Kebebasan” justru menandai belenggu baru bagi perekonomian, publik Amerika tampaknya harus bertanya, ini kebebasan untuk siapa?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *