Iran Gugat Dirjen IAEA ke DK PBB yang Dinilai Bias dan Diam terhadap Agresi Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, Pemerintah Iran secara resmi mengajukan pengaduan ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, atas dugaan pelanggaran netralitas dan pembiaran terhadap serangan militer Israel ke fasilitas nuklir Iran.
Dalam surat yang disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, Teheran menyatakan bahwa Grossi telah gagal memenuhi tanggung jawab hukumnya sebagai pemimpin lembaga pengawas nuklir internasional. Pernyataan publik Grossi yang menyebut “lokasi nuklir tidak boleh diserang”, dinilai tidak cukup, terutama karena ia enggan secara eksplisit mengecam serangan Israel terhadap situs-situs nuklir Iran yang berada di bawah pengawasan IAEA.
“Kelalaian ini bukan hanya soal ketidaktegasan,” tegas Iravani dalam suratnya, “tetapi dapat dilihat sebagai keterlibatan diam-diam dan menciptakan preseden berbahaya dalam sejarah IAEA.”
Iran juga menyoroti adanya laporan intelijen yang menunjukkan dugaan hubungan rahasia antara Grossi dan pejabat Israel, yang dituding berusaha memengaruhi arah pengawasan IAEA terhadap program nuklir damai Iran. Dokumen yang diperoleh Kementerian Intelijen Iran mengungkap komunikasi langsung antara Grossi dan mantan perwakilan tetap Israel untuk IAEA, Merav Zafary-Odiz, termasuk permintaan pertemuan rahasia pada 10 Mei 2016 untuk membahas perkembangan terkait Iran.
Menurut laporan Kantor Berita Fars, kerja sama tersebut menggambarkan upaya sistematis untuk menyelaraskan narasi IAEA dengan kepentingan strategis Israel, seraya mengabaikan fakta bahwa Israel sendiri memiliki program nuklir yang tidak diawasi oleh lembaga internasional.
Iran menilai Rafael Grossi telah mengabaikan prinsip netralitas dan profesionalisme, serta menyerukan agar lembaga internasional dan komunitas global segera meninjau ulang posisi dan kebijakan IAEA terkait dengan isu nuklir di Kawasan.
Langkah ini mencerminkan ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan Badan Pengawas Nuklir Global, serta memperlihatkan kekhawatiran Iran atas pengaruh politik yang menyusup ke dalam lembaga internasional yang seharusnya murni bersifat teknis dan independen.
