Senat AS Terbelah: Antara Logika, Loyalitas, dan Lisensi Perang
POROS PERLAWANAN — Di Washington, gedung yang katanya simbol demokrasi itu kembali dipenuhi suara, bukan suara rakyat, tentu, tapi suara para senator yang sibuk berdebat: bolehkah seorang presiden menyalakan api perang tanpa batas, atau harus minta izin terlebih dahulu sebelum membakar Timur Tengah?
Senat Amerika Serikat, kini dikendalikan oleh Partai Republik, menolak dengan penuh semangat usulan dari Partai Demokrat yang bertujuan membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam mengambil tindakan militer terhadap Iran. Dengan kata lain, mereka memberi pesan yang sangat Amerika: “Kalau presidennya dari partai kami, maka biarkan dia main tombol sepuasnya.”
Bukan Perdebatan Moral, Tapi Manuver Partisan
Di Gedung Capitol yang megah itu, bukan perdebatan tentang apakah menyerang Iran itu benar atau salah, bukan. Ini soal siapa yang berhak memberi perintah untuk menyerang.
Demokrat khawatir Trump sedang bermain api nuklir demi menyelamatkan citra, atau lebih buruk, sedang menyelamatkan Israel. Republik, sebaliknya, melihat Trump bukan sebagai ancaman, tapi sebagai peluru yang masih bisa diarahkan ke mana saja, asal tidak menembak kaki sendiri di Pemilu mendatang.
Jadi bukan soal nyawa. Ini soal siapa yang pegang remote. Bahkan di luar Gedung Capitol, semua orang sudah membaca naskahnya, kecuali Senat AS.
Demokrasi atau Diktat Bermerek?
Hal paling ironis dari semua ini, sebab AS adalah negara yang paling gemar mengajarkan “checks and balances” ke seluruh dunia. Namun ketika giliran mereka sendiri, senatnya malah mem-veto cek terhadap presiden yang sudah jelas main agresi tanpa otorisasi PBB, tanpa bukti ancaman langsung, dan yang lebih penting, tanpa rencana keluar.
Satu-satunya yang sudah jelas adalah, bahwa Partai Republik telah memberikan lisensi tanpa batas kepada Trump untuk bermain sebagai Dewa Perang.
Kekuasaan, Bukan Konstitusi
Perpecahan besar di Senat AS bukanlah soal konstitusi. Ini adalah drama kekuasaan. Lalu seperti biasa, rakyat yang jadi korban, entah rakyat Iran yang dibom, atau rakyat Amerika yang dibohongi. Karena bagi sebagian elite Washington, perang bukan soal alasan. Itu hanya strategi elektoral dengan dampak geopolitik.
Bagaimana halnya dengan mereka yang berharap bahwa Kongres AS akan menjadi rem akal sehat? Sayangnya, rem itu sudah lama aus, dan sekarang, kendaraan perang Amerika melaju di tangan sopir beringas dan ugal-ugalan… dengan Senat bertepuk tangan di kursi penumpang.
