Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Ketika Dunia Bisu dan Bungkam, Maduro: Kegilaan Perang Netanyahu Harus Dihentikan

Maduro: Debat Trump-Harris Tunjukkan Dekadensi Moral para Pimpinan AS

POROS PERLAWANAN — Ketika sebagian besar pemimpin dunia memilih diam, menyusun kalimat netral, atau sekadar mencuit “Kami prihatin..”, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro memilih untuk menyebut kekerasan dengan namanya: kegilaan perang. Baginya, ini bukan sembarang perang, tetapi kekerasan sistematis yang dipimpin oleh Benyamin Netanyahu di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan yang dikutip Jaringan Al-Mayadeen pada Sabtu 28 Juni, Maduro tidak berputar-putar dalam eufemisme diplomatik. Ia mengajak komunitas Yahudi di seluruh dunia untuk menghentikan apa yang disebutnya “kegilaan perang yang dilancarkan oleh Netanyahu dan rezim Zionis”. Sebuah seruan yang langka hari ini: menyerukan solidaritas moral lintas identitas, dan menolak membiarkan tragedi menjadi bisnis ideologis.

Saat Neraka Turun dari Langit

Pernyataan Maduro bukan hiperbola. Menurut sumber-sumber medis Palestina, hanya dalam 24 jam terakhir, 97 warga Palestina dibantai dalam serangan Israel ke berbagai wilayah di Jalur Gaza. Ini bukan angka, ini adalah keluarga. Ini bukan statistik, ini adalah kematian sistematis yang disiarkan ke seluruh dunia, dan dibiarkan begitu saja.

Maduro pun menyindir Barat dengan satu kalimat pahit yang berbobot lebih dari satu meja perundingan: “Setiap hari, 100 orang terbunuh di Palestina, sementara Barat hanya menonton dengan mata tertutup dan terlibat.”

Ini bukan sekadar kritik; ini adalah dakwaan moral terhadap dunia yang telah kehilangan keberanian untuk berkata: Cukup!

Diplomasi Buta Warna

Di tengah reruntuhan rumah sakit, pemakaman massal, dan anak-anak yang kini tak punya tempat untuk hidup apalagi belajar, para pemimpin Barat masih sibuk memilih diksi: “situasi kompleks”, “konflik bersenjata”, “hak membela diri”, dan sebagainya.

Namun pertanyaannya sederhana: berapa banyak anak yang harus mati sebelum kata “genosida” diucapkan tanpa gugup?

Sementara itu, tokoh-tokoh seperti Maduro, yang sering dijadikan sasaran sanksi dan propaganda media Barat, justru mengucapkan apa yang dibisiki rakyat tertindas di seluruh dunia. Ini bukan perang biasa, ini adalah pembantaian yang dijustifikasi dengan diplomasi yang korup.

Ketika Hati Nurani Diasingkan

Maduro mungkin bukan diplomat favorit Washington. Namun hari ini, dia berdiri di sisi sejarah yang benar. Seruannya kepada komunitas Yahudi global bukan seruan provokatif, melainkan ajakan empatik, bahwa tragedi Palestina bukan hanya persoalan Arab atau Muslim, melainkan juga luka kemanusiaan yang seharusnya menggugah siapa pun yang masih memiliki memori kolektif tentang penderitaan, diaspora, dan penjajahan.

Karena siapa pun yang memahami makna “Never Again” tidak akan membiarkan Gaza menjadi pengulangan keheningan dunia di abad ke-20.

Dunia Bisa Diam, Tapi Sejarah Tidak

Maduro telah berbicara. Dengan segala keterbatasannya, ia menunjukkan bahwa di tengah kegilaan yang dilegalkan, kadang suara paling waras justru datang dari tempat yang paling dikucilkan.

Jika dunia memilih bungkam atas 97 kematian dalam satu malam, maka hanya satu hal yang pasti, bahwa yang gila bukan hanya Netanyahu, melainkan juga dunia yang membiarkannya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *